Mahasiswa Unwira Observasi Proses Pembuatan Jagung Titi Tradisional di Lembata

oleh -1342 Dilihat
banner 468x60

Kearifan lokal sebagai warisan budaya bangsa kembali mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Salah satu mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Renaldy Talun, melakukan kunjungan khusus ke Desa Pasir Putih, Kecamatan Naga Wutung, Kabupaten Lembata, untuk melakukan observasi dan wawancara mengenai proses pembuatan jagung titi secara tradisional.

Kegiatan ini merupakan bagian dari studi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Unwira Kupang.

Dalam kegiatan tersebut, Renaldy secara langsung mewawancarai Mama Aga, seorang warga senior di desa tersebut yang masih aktif membuat jagung titi menggunakan metode tradisional warisan leluhur.

Observasi dilakukan untuk mendokumentasikan seluruh proses pembuatan jagung titi, mulai dari pemilihan jagung, penyangraian (sangrai), hingga proses penumbukan dengan menggunakan batu pipih tradisional.

Jagung titi sendiri merupakan makanan khas dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di daerah Lembata. Makanan ini bukan hanya dikonsumsi sebagai camilan atau makanan ringan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi karena erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat lokal.

Tokoh sentral dalam kegiatan ini adalah Renaldy Talun, mahasiswa aktif Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap budaya dan tradisi lokal. Ia tidak hanya mendalami materi perkuliahan di dalam kelas, tetapi juga aktif melakukan riset langsung di lapangan.

Selain Renaldy, Mama Aga sebagai narasumber utama juga memegang peranan penting dalam kegiatan ini. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, Mama Aga tetap mempertahankan cara-cara tradisional yang diajarkan turun-temurun dalam membuat jagung titi. Kehadiran Renaldy dan niat baiknya untuk belajar mendapat sambutan hangat dari Mama Aga dan warga setempat.

Wawancara dan observasi dilakukan pada hari Rabu, 23 April 2025, di Desa Pasir Putih, sebuah desa kecil namun kaya akan nilai-nilai budaya yang masih dilestarikan. Desa ini terletak di Kecamatan Naga Wutung, Kabupaten Lembata, dan dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih mempertahankan cara hidup tradisional masyarakatnya.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mendokumentasikan dan mengarsipkan kearifan lokal masyarakat Naga Wutung yang terancam punah akibat arus globalisasi dan modernisasi.

Menurut Renaldy, jagung titi bukan sekadar makanan khas, tetapi juga merupakan simbol dari identitas budaya masyarakat setempat.

“Jagung titi bukan hanya makanan, tapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Naga Wutung. Lewat dokumentasi ini, saya berharap generasi muda bisa mengenal dan turut melestarikan warisan ini,” ujar Renaldy dalam wawancara.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga budaya. Dokumentasi ini diharapkan bisa menjadi media edukasi, baik untuk masyarakat lokal maupun bagi khalayak yang lebih luas di luar NTT.

Dalam proses pembuatan jagung titi yang diamati oleh Renaldy, Mama Aga menunjukkan bagaimana jagung yang telah dipanen dijemur terlebih dahulu hingga benar-benar kering. Setelah itu, jagung disangrai di atas tungku api menggunakan wajan tanah liat besar.

Proses sangrai dilakukan dengan sabar dan penuh ketelitian agar jagung tidak gosong dan tetap renyah Setelah disangrai, jagung kemudian ditumbuk menggunakan dua batu pipih: satu sebagai alas dan satu lagi sebagai pemukul. Proses ini disebut “meniti” — dari sinilah asal usul nama “jagung titi.”

Penumbukan dilakukan dengan gerakan yang telah dikuasai secara turun-temurun, dan menghasilkan jagung pipih yang siap disantap atau disimpan untuk waktu lama.

Kehadiran mahasiswa di desa ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak warga yang merasa senang karena budaya mereka mendapat perhatian dari generasi muda, terutama dari kalangan akademisi. Mereka berharap lebih banyak mahasiswa atau peneliti yang datang dan belajar langsung dari masyarakat, sekaligus membawa kabar baik tentang kekayaan budaya lokal ke dunia luar.

Kepala Desa Pasir Putih juga turut mengapresiasi kegiatan ini. Dalam pernyataannya, dia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin dan menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat adat.

“Kami senang karena anak muda seperti Renaldy datang untuk belajar dan tidak malu menghargai budaya kami. Semoga banyak lagi yang seperti dia,” ujar Kepala Desa Pasir Putih.

Kegiatan wawancara dan observasi yang dilakukan oleh Renaldy Talun bukan sekadar tugas akademik, tetapi juga bentuk nyata dari kepedulian terhadap pelestarian budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi, langkah kecil ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya besar menjaga identitas budaya bangsa. Dengan dokumentasi ini, semoga jagung titi tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional dari Lembata, tetapi juga sebagai simbol kearifan lokal yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Oleh: Yulianus R.H. Talun

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.