Taruna Kelapa

oleh -100 Dilihat
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut Joko Supratikto saat menunjukkan cabai yang didatangkan dari Probolinggo
banner 468x60

Apa boleh buat: Bank Indonesia pun harus mendatangkan cabai dari Probolinggo, Jawa Timur. Dua ton. Dikirim ke Manado: lagi ada ”krisis” cabai di sana.

Apa urusan cabai dengan Bank Indonesia? Karena harga cabai di Manado sudah mencoreng wajah inflasi di daerah itu. Bank Indonesia sangat sensitif terhadap inflasi. Menjaga inflasi adalah salah satu tugas pokoknya. Secara nasional inflasi masih baik: di bawah 3 persen. Tapi inflasi nasional adalah kumpulan inflasi dari daerah-daerah: harga cabai di Manado sudah melewati Rp150.000/kg –dari normalnya Rp25.000/kg.

Apakah orang Manado mau diajak mengurangi makan pedas? Tidak mungkin. Di sana hanya ada dua jenis makanan: pedas sekali atau sangat pedas. Pun bubur Manado; paling enak dimakan dengan cabai.

Pastilah orang Manado yang paling gembira ketika menerima hasil penelitian bahwa cabai mengandung vitamin C sangat tinggi. Saran serius saya: biar pun kandungan vitamin C-nya tinggi tetaplah jangan bikin jus cabai.

Bank Indonesia sangat ketat dalam mengendalikan inflasi. Termasuk Bank Indonesia kantor perwakilan Sulawesi Utara. Di tiap daerah ada tim pengendalian inflasi. Pimpinannya kepala daerah. Bank Indonesia jadi unsur penting di dalamnya. El Nino sudah membuat Manado krisis cabai. Hasil panennya menurun drastis. Padahal makan cabai yang paling enak adalah kalau cabainya segar. Ada pedas dan harumnya.

Hanya waktu bikin bumbu Bali yang sebaiknya pakai cabai merah kering –kalau tidak salah. Maka teori agar di saat panen raya, cabai yang melimpah dikeringkan sulit diterima lidah Manado. Pun kalau dibuat tepung cabai. Akibatnya tetap saja di saat panen raya harga cabai jatuh. Sedang di saat musim El Nino bubuk cabai tetap tidak laku.

Saya diminta ikut mendengarkan paparan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Joko Supratikto mengenai hasil survei kinerja ekonomi di daerah itu pekan lalu. Hasilnya: semua aspek ekonomi di Sulut stabil –kecuali inflasi karena harga cabai yang meroket. Tapi itu mudah diatasi: datangkan saja cabai dari Jatim. Lewat kapal. Bank Indonesia memang punya anggaran untuk itu: anggaran pengendalian inflasi.

Yang diundang di forum itu adalah responden survei ekonomi Bank Indonesia Sulut. Termasuk para pengusaha –dan karena itu saya diminta bicara dengan mereka. Satu pembicara lainnya: David Sumual, ekonom Bank BCA.

Tentu saya ingin tahu perkembangan bisnis kelapa dan pala di Sulut: apa kabar. Asumsi saya, dengan jatuhnya rupiah belakangan eksporter kelapa dan pala bersuka ria –meski sebagian besar dari Anda sakit kepala.

Benar. Begitu. Eksporter kepala –ups, kelapa– sangat menikmatinya. Mulai yang ekspor tepungnya sampai santannya. Bahkan, air kelapa pun, yang dulu dibuang, kini laku di pasar ekspor.

Saya pun minta agar pengusaha yang sudah ekspor mengangkat tangan. Ternyata banyak sekali. Mereka saya minta naik panggung: saya memberi gelar mereka pahlawan ekonomi.

Dahlan Iskan saat berdiskusi dengan para pengusaha Sulawesi Utara di acara Bank Indonesia perwakilan Sulut.-Bank Indonesia Sulut-

Memang ekonomi Sulut bisa maju hanya oleh dua hal: ekspornya terus berkembang dan pariwisatanya dibanjiri turis asing. Bukan karena produksi Cap Tikus-nya meroket –kecuali kenaikannya itu untuk ekspor.

Sulut sudah punya modal sosial yang kuat. Masyarakatnya tidak mudah konflik. Sumbu mereka panjang. Suka damai. Torang basudara. Meski motto mereka –yang dulu ditulis besar-besar di atap bandaranya– sudah tidak ada lagi, tetap saja budaya Manado adalah tolong menolong: orang hidup itu saling menghidupi.

Dulu, kali pertama membaca tulisan itu dari jendela pesawat yang sedang taxi menuju apron saya pikir itu semacam ucapan selamat datang dalam bahasa Manado: Si Tou Timou Tumou Tou. Ternyata itulah makna gotong royong dalam bahasa lokal.

“Apakah selama 10 tahun terakhir jumlah pohon kelapa di Sulut bertambah?” tanya saya.

“Justru terus berkurang, Pak,” jawab para eksporter itu.

Saya tahu penyebabnya. Sejak perkebunan sawit mewabah di Indonesia, produk nyiur kurang lagi melambai. Harga kopra jatuh. Pun harga produk hilirisasi kelapa. Andalan Sulut, Gorontalo, dan Palu pun tidak pernah bisa ereksi lagi.

Sampailah pada tiga puluh tahun kemudian, ketika ekonomi Tiongkok meraksasa. Kebutuhan apa pun meningkat drastis di sana. Termasuk kebutuhan kelapa: mulai arang tempurung, sabut, tepung, santan, sampai air kelapanya. Tidak ada yang tersisa.

Harusnya Sulut sangat sejahtera. Tapi semangat menanam dan memelihara kelapa sudah telanjur hilang. Pohon yang tersisa sudah menua. Pohon yang baru belum ada. Menyesal. Lemes. Sawit memang masih terus berkibar tapi ternyata tidak sampai benar-benar mematikan kelapa. Sawit hanya sempat membuat kelapa klepek-klepek tapi ternyata akhirnya ada hari kebangkitannya: ekspor ke Tiongkok. Hampir tanpa batas atas.

Hari kebangkitan itu rasanya bukan sementara. Bisa sangat panjang –kecuali Presiden Donald Trump berhasil mencekik ekonomi Tiongkok.

Sebaiknya Sulut bangkit lebih dulu sebelum Tiongkok merasa sulit dapat produk kelapa.

“Sekarang ini sudah banyak perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Sulut,” ujar salah satu eksporter itu. Mereka berburu kelapa. Berarti eksporter Sulut harus rebutan bahan baku dengan pendatang dari utara yang lebih banyak punya modal kerja.

Tidak usah takut. Bersaing adalah darah daging pengusaha. Hanya politisi dan penguasa yang takut pada pesaing baru.

Yang perlu ditakutkan: jangan-jangan mereka datang tidak hanya berdagang. Mereka berdagang sambil melakukan penelitian: bagaimana bisa menanam kelapa di suhu subtropics di bagian selatan wilayahnya –termasuk pulau Hainan.

“Sekarang ini, sejak kedatangan mereka, kelapa bulat pun laku diekspor,” ujar pengusaha itu.

Itu ancaman baru lagi. Kalau sampai terjadi ekspor besar-besaran kelapa bulat industri pengolahan kelapa di dalam negeri bisa mati! Dan itu juga akan dan sedang terjadi di Gorontalo.

Lalu kalau sampai Tiongkok buka kebun kelapa besar-besaran mereka bukan saja bisa meningkatkan produksi. Mereka juga bisa membuat standar: semua kelapa harus punya bentuk, ukuran dan rasa yang sama. Itulah dasar industrialisasi kelapa. Agar bisa diciptakan mesin pengupas yang sangat modern. Efisien. Kunci industri adalah efisiensi.

Mumpung presidennya orang Manado: jangan hanya bikin SMA Taruna Nusantara di sana. Juga harus tercipta jutaan taruna kelapa di bumi Kawanua.

Kamis, 24 September 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.