Target Selawat

oleh -54 Dilihat
banner 468x60

Saya tersenyum kecil ketika membaca berita mirip meningkatnya produksi pangan ini: “Peserta Gema Selawat Nabi Mencapai 115 Persen dari Target”.

Rupanya membaca selawat pun ada targetnya.

Di peringatan Maulid Nabi Muhammad sekarang ini targetnya 1,8 juta orang. Ternyata tercapai 2,04 juta orang.

Rupanya Kementerian Agama kini punya program menggalakkan selawat. Nama pogramnya: Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan.

Gerakan tersebut diluncurkan Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar 26 Agustus lalu. Temanya: Berselawat untuk Negeri, Meneladani Sirah Nabi.

Selawat diharapkan sebagai upaya rohaniah untuk ikut mengatasi berbagai musibah di samping usaha ilmiah dan fisik.

Jenis selawat yang diandalkan Menag adalah Dalā’il al-Khayrāt. Dimulainya 31 Agustus 2026. Berakhir tanggal 7 September 2026 –tepat di peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Selawat adalah doa, pujian, dan penghormatan untuk Nabi Muhammad. Selawat biasa dilantunkan di bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi: tanggal 12 Maulid –bertepatan dengan tanggal 7 September 2026. Anda pasti ingat tanggal tersebut: tanggal merah –hari libur.

Di desa-desa pada tanggal tersebut sangat ramai dengan berbagai acara. Saya tidak akan lupa: waktu kecil ada makan-makan bersama di masjid –kenduri. Tiap rumah membawa sejenis tumpeng ke masjid. Terkumpul sekitar 20 ambeng –seperti tumpeng tapi nasinya tidak dibentuk seperti kerucut. Lalu dimakan bersama.

Sebelum makan, ada pembacaan selawat –dipimpin oleh imam masjid. Pada bagian akhir selawat semua berdiri: melantunkan ‘asrakal’ dengan semangat. Bagi anak-anak semangat itu muncul karena setelah ”asrakal” berarti saat makan segera tiba.

Di masjid kami jenis selawat yang dibaca adalah Barzanji. Buku Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barzanji, ulama Kurdistan yang pernah menjadi mufti di Madinah. Barzanji meninggal dunia tahun 1764.

Kami, waktu itu, tidak mengenal selawat jenis Dala’il. Saya baru tahu Dala’il setelah masuk pesantren. Ternyata selawat Dala’il juga sangat populer. Bahkan dipercaya lebih membawa ‘khasiat’: berkah dari Nabi.

Untuk membaca Dala’il pun ada ‘protokol’-nya. Satu buku Dala’il terbagi menjadi tujuh bagian –untuk dibaca selama tujuh hari, satu bagian satu hari. Tebalnya Dala’il sekitar 120 halaman, tergantung besar kecilnya huruf yang dipakai.

Berarti pada hari ketujuh tamatlah itu pembacaan Dala’il. Setelah itu Anda bisa mendapat ijazah. Siapa yang memberi ijazah? Banyak kiai yang dipercaya untuk memberi ijazah Dala’il. Salah satu yang paling ”laris’ adalah KH Badhawi Basir dari Kudus. Nama pesantrennya: Darul Falah.

“Kapan bermalam di sini lagi?” tanya Kiai Basir saat saya telepon kemarin.

Saya memang pernah bermalam di pesantren Darul Falah ketika menjabat sesuatu dulu. Waktu itu pun Kiai Basir sudah ‘berpraktik’ memberi ijazah Dala’il. Sudah ribuan.

Praktik memberi ijazah Dala’il itu sudah dilakukan di Darul Falah sejak kakeknya dulu: juga seorang kiai. Dilanjutkan oleh bapaknya: juga kiai. Lalu ‘diwariskan’ ke kiai Basir.

Seorang kiai tidak dipercaya bisa memberikan ijazah kalau tidak pernah ”dibai’at” sebagai pemberi ijazah oleh kiai pemberi ijazah sebelumnya.

Ijazah ‘Dala’il’ bertingkat-tingkat. Ada yang sekadar setelah pembacaan selawat Dala’il selama tujuh hari. Ada yang sebelum itu harus puasa dulu sekian hari. Ada yang puasanya sampai 40 hari. Bahkan ada ijazah Dala’il yang baru diberikan kalau Anda sudah berpuasa selama tiga tahun.

Dulu Gus Basir menjalani semua protokol yang terberat itu. Lalu jadilah ia kiai. Kemudian diberi wewenang untuk memberi ijazah.

Kata ”ijazah’ sudah dikenal berabad-abad lalu di dunia sufi Islam. Lalu diadopsi oleh sistem pendidikan modern dengan nama ijazah –sebagai tanda telah tamat sekolah.

Salah satu yang mendapat ijazah Dala’il dari Kiai Basir adalah Imam Jazuli. Bukan sembarang ijazah. Imam Jazuli dapat jazah setelah menamatkan bacaan Dala’il yang didahului tirakat dan puasa selama tiga tahun. Sekarang Imam Jazuli menjadi kiai terkenal di Cirebon. Pesantrennya, BIMA, sangat terkenal. Alumni pesantren BIMA 100 persen diterima kuliah di luar negeri: Mesir, Maroko, Jerman dan kini Tiongkok. Di forum debat santri dalam bahasa Mandarin yang dilaksanakan Disway Ahad lalu BIMA mengirim 30 santri.

Belakangan Kiai Imam Jazuli juga sudah dipercaya memberikan ijazah Dala’il bagi siapa saja. Yakni yang sudah menjalankan protokol Dala’il. Sistemnya sudah sangat modern. Anda bisa mendaftar lewat aplikasi.

Terakhir pemberian ijazah Dala’il dilakukan Imam Jazuli dalam satu acara besar di hotel bintang empat di Cirebon: ribuan orang.

Sejak kecil Kiai Jazuli memang diinginkan jadi kiai. Ayahnya selalu menekankan untuk sering-sering membaca Dala’il lengkap dengan seluruh protokol terberatnya: termasuk puasa selama tiga tahun. Ia pernah tergoda mendalami ilmu kesaktian di Banten tapi ayahnya melarang diteruskan. “Saya khawatir kamu nanti jadi dukun,” kata sang ayah. “Kamu sendiri saya beri nama belakang Jazuli supaya bisa seperti penulis kitab Dala’il,” ujar sang ayah. Anda sudah tahu siapa penulis Dala’il: Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli –ulama Maroko dari suku Jazulah abad ke 15.

Ada lagi pembawa selawat yang sangat terkenal. Dari Solo. Anda pasti sudah tahu namanya: Habib Syech. Inilah selawat jenis pop. Dilagukan. Pakai alat musik tepuk. Larisnya bukan main.

Kalau Anda ingin mendatangkan Habib Syech bisa-bisa harus antre dua tahun. Saya termasuk yang sering hadir di pelantunan selawat Habib Syech. Biasanya saya diminta duduk di panggung, di sebelahnya.

Begitu banyak pengagum Habib Syech sampai mereka membentuk organisasi dengan nama Syecher Mania. Saya pernah diangkat secara informal sebagai ketua nasional Syecher Mania.

Selawatnya Habib Syech bukan Dala’il. “Buku selawat yang saya rutinkan baca adalah maulid Simtud Duror dan Burdah,” ujar Habib Syech kemarin.

Selawat Simtud Duror (untaian mutiara) lebih banyak menceritakan sejarah Nabi Muhammad. Penulisnya Habib Ali Muhamad al-Habsyi. Al-Habsyi adalah ulama Hadramaut (Yaman) yang wafat tahun 1915 di kota yang saya kunjungi tahun lalu: Syai’un.

Jadi, mana jenis selawat yang paling banyak dibaca orang di bulan Maulid seperti sekarang ini? Barzanji? Dala’il? Simtud Duror? Burdah?

Jumat, 11 September 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.