Ringkasan Pemikiran: “Rezim Mengontrol Kesadaran Publik”

oleh -165 Dilihat
banner 468x60

Rezim tidak selalu mengontrol masyarakat melalui represi terbuka; sering kali kontrol yang lebih efektif justru bekerja secara halus melalui pembentukan kesadaran publik.

Dalam konteks ini, program-program negara, bantuan sosial, dan koperasi yang dibingkai dengan simbol nasional—seperti “merah putih”—dapat berfungsi sebagai instrumen politik yang membentuk cara berpikir masyarakat tentang negara dan kekuasaan.

Program pemerintah yang dikemas sebagai solusi kesejahteraan sering kali tidak netral. Ia membawa narasi bahwa negara adalah satu-satunya penyelamat, sehingga menciptakan ketergantungan psikologis. Bantuan sosial, misalnya, bukan hanya soal distribusi ekonomi, tetapi juga distribusi loyalitas. Ketika bantuan dipersepsikan sebagai “pemberian” dari rezim, bukan sebagai hak warga negara, maka hubungan antara rakyat dan kekuasaan bergeser dari relasi kritis menjadi relasi patronase.

Koperasi merah putih juga bisa memainkan peran simbolik yang kuat. Dengan menggunakan identitas nasional, koperasi tidak hanya menjadi lembaga ekonomi, tetapi juga alat legitimasi politik. Ia mengaburkan batas antara kepentingan publik dan kepentingan rezim. Partisipasi masyarakat dalam koperasi tersebut dapat diarahkan untuk memperkuat citra bahwa rezim bekerja demi rakyat, meskipun dalam praktiknya bisa saja terjadi sentralisasi kontrol dan pengaruh.

Dalam kerangka ini, kontrol kesadaran publik bekerja melalui normalisasi: masyarakat dibiasakan melihat kebijakan sebagai kebaikan yang tidak perlu dipertanyakan. Kritik menjadi tampak sebagai sikap tidak tahu berterima kasih atau bahkan anti-nasional. Di sinilah kekuasaan menjadi efektif—bukan karena ia memaksa, tetapi karena ia membentuk cara berpikir sehingga dominasi terasa wajar.

Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga jarak kritis. Program sosial memang diperlukan, tetapi harus dipahami sebagai hak, bukan alat untuk membangun loyalitas politik. Tanpa kesadaran kritis, bantuan yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi sarana pengendalian.

Oleh: Gregorius Sahdan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.