Rampas Aset

oleh -91 Dilihat
Suasana audiensi Pimpinan DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama perwakilan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Gedung DPR RI. (Foto: Anisha Aprilia/Disway.id)
banner 468x60

Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo Undang-Undang (UU) Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.

Dari situ saya melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang dari Pati, Jateng itu. Ia teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset disahkan oleh DPR. Tidak mau ada tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai ia mengajak masa dari Pati untuk bubar. Pulang.

Mas Botok tidak peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati. Lebih terutama lagi oleh para sutradara yang ingin demo berlanjut sampai matahari tenggelam: setelah gelap para sutradara itu bisa memainkan para stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah mereka: endingnya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar istana. Atau samping-samping istana.

DPR sebenarnya sudah mencoba meredam tuntutan Pati itu dua hari sebelum jadwal demo. Yakni dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru bikin marah publik. Itu karena publik tahu Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok. Bahkan dianggap di seberang mereka.

Cara lain untuk mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat ”pembekuan” rekening Mas Botok di Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung perjalanan pendemo ke Jakarta. Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya untuk ke Jakarta. Bahkan siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke kelompok Mas Botok: kan bisa dicari-cari unsur pidananya.

Hasilnya?

Anda sudah tahu: justru blunder besar. Justru kian besar saja simpati untuk Pati. Kian besar pula dukungan untuk demo itu. Kian terbakar hati mereka yang sudah membara.

Yang terbakar paling nyata adalah Bank Mandiri. Kemarahan publik kepada bank itu sudah sampai level yang sangat mengkhawatirkan. Terutama bagi bank milik negara itu sendiri. Ia jadi korban keputusan yang tidak dirancang dengan matang.

Publik justru emosi ketika pemblokiran itu ditutupi dengan alasan ”untuk melindungi pengirim uang maupun pemilik rekening”. Alasan seperti itu dengan mudah bisa dibaca: alasan yang dicari-cari secara tergopoh-gopoh.

Akhirnya disadari: sendi-sendi Bank Mandiri bisa goyah. Lalu keluarlah putusan pemblokiran itu dicabut. Goresan sudah melukai Bank Mandiri.

Sampailah datang waktu senja tanggal 26 Agustus 2026. Matahari tenggelam seperti lebih bergegas. Bulan purnama pun mulai menampakkan menornya di langit timur Jakarta. Kian gelap medsos kian riuh: demo Pati di Jakarta pasti terjadi. Kian malam kian panas. Puncak panas itu terjadi ketika Mas Botok diajak masuk ke mobil polisi. Atau sengaja dimasukkan. Mobil itu dihadang massa. Dikepung. Dipepet. Mas Botok harus dikeluarkan dari mobil. Mereka sangat mengkhawatirkan akan dibawa ke mana tokoh demo mereka. Polisi memenuhi permintaan itu. Selesai.

Pukul 02.30 –sudah tanggal 27 Agustus– saya bangun. Biasa. Langsung buka HP. Muncul notifikasi: live channel. Kamera mengarah ke jalan raya depan DPR di Senayan. Beberapa orang terlihat duduk menunggu pagi. Seperti juga menunggu siapa lagi yang mau datang ke lokasi demo.

Narasi live itu tidak provokatif. Narasinya sangat simpatik. Pun terhadap komentar yang nadanya anti demo. Tidak reaktif. Tetap dingin. Tetap simpatik.

Ternyata sedini itu sudah banyak yang live lewat channel masing-masing. Saya pindah-pindah. Ketegangan sedikit muncul ketika narasi di situ menyebut mulai kesulitan sinyal. “Kami sudah tidak bisa menggunakan Indosat sama sekali,” ujar salah satu narasi. Kesannya: pihak keamanan mulai membatasi gerak medsos. Mungkin agar tidak terjadi seperti di Nepal: pemerintah terguling akibat demo yang digerakkan oleh medsos. Rasanya Indosat tidak ada kepentingan apa-apa. Indosat sudah milik Ooredoo, Qatar.

Narasi lainnya memberi peringatan: “Kalau nanti kami tidak bisa live di channel ini Anda bisa pindah ke FB,” katanya. Seolah semua jaringan selular terancam akan ditutup. Lalu bermunculan pertanyaan di layar HP: akun FB nya yang mana.

Sampai pukul 05.00 saya terus mengikuti live dari sarang demo di Jakarta. Untung ada Dismorning. Tiap jam lima pagi. Saya tinggalkan live itu untuk live sendiri di Dismorning. Saya bilang ke Sasa, host Dismorning: “Mungkin pagi ini tidak ada orang yang menyaksikan kita di Dismorning. Semua orang akan memilih menyaksikan live situasi Jakarta menjelang demo,” ujar saya kepada Sasa. “Orang pingin mengukur suhu politik Jakarta. Aman atau tidak aman,” kata saya lagi.

Selesai Dismorning saya harus berangkat olahraga. Di jalan saya ikuti lagi live. Belum banyak perkembangan. Setelah itu kesibukan lain susul-menyusul. Siangnya baru live lagi: begitu banyak yang mendukung demo. Terutama dari pengemudi ojek online.

Tengah hari saya balik ke live: demo tidak seberapa besar. Setidaknya tidak sebesar yang dikhawatirkan. Sekitar 3000 orang.

Tapi itu juga sudah besar. Dan akan benar-benar besar kalau tidak segera ada jalan keluar. Mereka bisa bermalam di jalan raya depan DPR. Simpati bisa kian besar. Bisa meluas. Bisa ditunggangi. Bisa rusuh. Apalagi kalau sampai senja digantikan gelap.

Bahaya itulah yang dibaca para politisi di DPR. Khususnya oleh Wakil Ketua DPR Don Dasco. Maka Mas Botok dan tim intinya diajak masuk ruang sidang DPR. Diajak bicara. Lalu keluarlah jaminan dari Don Dasco yang sangat terkenal itu: Kalau sampai 15 Desember UU Perampasan Aset tidak disaahkan, ia akan mengundurkan diri. Pun para wakil ketua DPR lainnya: Cucun Ahmad Syamsurijal, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati. Tidak jelas mengapa Ketua DPR Puan Maharani tidak melibatkan diri dalam penjaminan itu.

Demo pun berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Letupan kecil tetap terjadi di sana-sini. Tapi bisa diatasi. Rupanya skenario ”rusuh malam” kehilangan momentum. Kelihatannya tetap ada yang ingin memaksakannya. Sejumlah peristiwa terjadi di kegelapan. Tapi timing-nya sudah layu sebelum berkembang.

Don Dasco pantas dapat Piala Citra untuk kategori penyutradaraan terbaik di festival film mendatang.

Sabtu, 29 Agustus 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.