Orang Kuat

oleh -99 Dilihat
Kakortas Tipidkor Polri, Irjen Totok Suharyanto mengatakan pelimpahan itu usai adanya kesepakatan Polri dan Kejagung dalam wujud sinergi penanganan perkara. (Foto: Rafi Adhi Pratama)
banner 468x60

Setelah melihat sepak bola di Amerika dan Kanada, lalu pulangnya mampir Tiongkok dan Russia, akhirnya saya menemukan semifinal “Piala Dunia” di Jakarta: Trunojoyo v Gedung Bundar.

Anda sudah tahu: Komandan Satuan Pemberantasan Korupsi Mabes Polri Irjen Pol Totok Suharyanto mengungkap kasus korupsi besar yang melibatkan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Ardiansyah. Skor 1-0 untuk Irjen Pol Totok. Boleh juga disebut 3-0.

Irjen Pol Totok memang menghadapi tiga perkara besar yang tiga-tiganya melibatkan nama Febrie.

Yang pertama: terkait utang piutang antara anak perusahaan BUMN Krakatau Steel, dengan perusahaan swasta pemasok besi. Tagih-menagih. Si penagih pakai backing. Jumlahnya sebenarnya tidak seberapa –meski bagi “perusuh” Disway seperti Ima Lawaru bisa untuk beli buku novel judul apa pun yang pernah ada di jagad raya.

Yang kedua: terkait perkara korupsi di perusahaan asuransi milik TNI, Asabri. Juga di perusahaan asuransi BUMN Jiwasraya. Hebohnya luar biasa –saking besarnya. Sampai uang Asabri ludes –yang asalnya dari potongan gaji anggota TNI.

Para direktur Asabri sudah masuk penjara. Antara delapan sampai 16 tahun. Bintangnya adalah salah satu pengusaha besar asal Solo yang juga aktif sebagai koki goreng saham di pasar modal: Benny Tjokro. Bentjok, begitu biasa disingkat, dijatuhi hukuman berat: seumur hidup.

Tapi ada satu nama besar yang hilang dari berkas perkara. Yakni seorang pengusaha properti yang Anda sudah kenal: Tan Kian. Jangankan jadi tersangka, jadi saksi pun tidak. Anda sudah tahu siapa Tan Kian: memiliki Pacific Place, dua hotel bintang lima Ritz Carlton, Mega Kuningan, hotel bintang lima J.W. Marriott Jakarta, Millennium Centennial Center, South Hills Apartment, dan banyak lagi.

Kenapa nama itu hilang dari berkas perkara Anda sudah bisa menduga. Sebentar lagi akan terungkap di persidangan –kalau jadi sampai disidangkan.

Lain lagi yang terkait dengan penggarongan BUMN Jiwasraya. Di situ ada nama besar HeHi –Heru Hidayat. HeHi sudah dijatuhi hukuman berat: penjara seumur hidup. Asetnya disita Kejaksaan Agung, termasuk perusahaan tambang batu baranya: PT Gunung Harang. Nilainya Rp6,5 triliun. Aset itu dilelang dengan harga yang Anda sudah tahu. Lelang ini dinilai penuh permainan.

Yang ketiga, ini dia: soal batu bara. Nilainya Rp 5 triliun. Yang menurut Irjen Pol Totok menjadi penyebab black out –mati lampu– di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Dua perusahaan batu bara menjadi pemasok emas hitam itu ke PLN: PT Oktasan Baruna Persada dan PT Buana Rizky Armia. Itu dua tapi satu. Mereka terikat dalam satu konsorsium.

PT Oktasan berkantor di Jakarta Selatan. PT Buana berlokasi di Bantuas, Palaran, sepelemparan batu dari Samarinda.

Polisi menemukan kejahatan dua perusahaan itu: kirim batu bara ke PLN tidak sesuai dengan kontrak. Batu bara yang dikirim berkalori rendah: 3.000-an GAR. Padahal seharusnya 4.400-an GAR. PLTU-2 PLN memang dirancang untuk dijalankan dengan batu bara kalori 4.400 GAR ke atas. Kalau diberi ”makan” jenis 3.000-an GAR ibarat perut Yuni Shara atau Syifa Hadju dikasih makan gaplek mentah.

Akibatnya Anda sudah tahu: PLTU yang seharusnya, misalnya, menghasilkan listrik 1.000 MW hanya menghasilkan 600 MW. Produksi listrik berkurang banyak. Akibat buruk lainnya: secara teknis PLTU terus bermasalah. Rusak dan rusak lagi.

Sudah sejak enam tahun terakhir batu bara yang berkalori 4.000 ke atas memang diekspor habis-habisan. Harga ekspor memang sangat tinggi. PLTU di dalam negeri tinggal dapat ”sampah” nya. Secara fisik sering sudah tidak terlihat seperti batu bara. Sudah seperti tanah –yang kalau terkena hujan seperti lumpur.

Semua itu terungkap berkat laporan sebuah LSM Antikorupsi bernama Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK). Ketuanya: Ronald Loblobly.

Memang ada pertanyaan besar: mengapa PLN mau menerima batu bara yang kualitasnya rendah. Kenapa tidak ditolak.

Jawabnya ada tiga pilihan: (a) petugas bagian penerimaan kena sogok, (b) dipaksa kekuatan luar untuk menerima, (c) PLN terpaksa menerima karena tidak ada batu bara lagi –yang kalau tidak diterima berarti listrik padam total.

Kelihatannya kombinasi jawaban ”b” dan ”c” yang terjadi. Indikasinya: meski batu bara yang dikirim 3.000 kalori, tagihannya ke PLN 4.000 kalori. Tidak mungkin orang PLN mau dan berani melakukan kesembronoan seperti itu.

Perbedaan kadar kalori yang begitu tinggi tidak bisa disembunyikan. Seluruh karyawan di bagian penerimaan tahu. Seluruh karyawan bagian pembangkitan tahu. Sistem komputer PLN mencatat: mengapa jumlah (tonase) pemakaian batu bara sama tapi hasil listriknya turun drastis.

Bagian keuangan PLN pasti tidak akan mau bayar batu bara kalori 3.000 dengan harga kalori 4.000. Tapi mengapa terjadi. Berarti ada kekuatan besar di baliknya. Tapi seberapa besar pun kekuatan itu tidak akan bisa menghapus angka-angka di komputer DCS –meski mungkin bisa mengubah angka di hasil pemeriksaan lab PLN maupun labnya surveyor Sucofindo.

Ronald Loblobly merangkum semua itu dalam bentuk laporan ke Satuan Pemberantasan Korupsi Mabes Polri. Ditembuskan juga kepada presiden.

Sebenarnya pemilik PT Oktasan bukan orang kuat yang pernah kita dengar namanya. Mayoritas sahamnya (52 persen) dimiliki Tria Bellitonito Aturbumi. Bellitonito menjabat sebagai direktur utama. Bellitonito lahir di Belitong –sebelah Bangka. Nama belakangnya, Aturbumi, terlihat seperti lahir dirancang untuk bisa mengatur tambang di perut bumi.

Pemilik lainnya Anda juga belum kenal: Budi Tunggul Manurung (29 persen). Manurung sebagai komisaris utama. Lalu ada nama Hadi Hidayat (14 persen), dan Muchlis Saleh (5 persen).

Tahun 2023 saja konsursium PT Oktasan kirim batubara 2,1 juta ton ke PLN –kalau itu masih bisa disebut batu bara.

Hebat sekali. Bukan orang kuat tapi kuat sekali.

Selasa, 14 Juli 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.