Nus Narek, Kongo dan Perjalanan Pulang

oleh -257 Dilihat
P. Nus Narek, SVD
banner 468x60

KETIKA peluit panjang berbunyi di Stadion Atlanta, harapan jutaan rakyat Republik Demokratik Kongo ikut berhenti. Tim berjuluk Leopards itu harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor 2-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, setelah sempat unggul lebih dahulu. Perjalanan yang begitu indah akhirnya harus berakhir. Namun, bagi seorang misionaris Indonesia yang tinggal jauh di pedalaman Kongo, kekalahan itu bukanlah akhir dari segalanya. Namanya P. Nus Narek, SVD.

Seperti jutaan warga Kongo lainnya, Nus Narek tentu ikut merasakan denyut kegembiraan ketika negaranya mencatat sejarah. Republik Demokratik Kongo tidak sekadar lolos ke Piala Dunia. Mereka juga mencatat kemenangan pertama sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia setelah menaklukkan Uzbekistan 3-1, sebelum akhirnya menghadapi Inggris di fase gugur. Itu adalah pencapaian yang membangkitkan kebanggaan nasional setelah puluhan tahun menanti.

Namun sepak bola, sebagaimana hidup, selalu mengajarkan satu hal: tidak semua perjalanan berakhir dengan kemenangan. Inggris memang melangkah lebih jauh. Dua gol Harry Kane membalikkan keadaan setelah Kongo sempat memimpin lebih dahulu. Banyak pendukung pulang dengan mata berkaca-kaca. Mereka kecewa, tetapi juga bangga. Sebab tim mereka telah menunjukkan keberanian melawan salah satu raksasa sepak bola dunia. Pelatih Sรฉbastien Desabre bahkan mengatakan bahwa timnya telah melakukan segala yang mungkin dan meninggalkan sesuatu yang berharga bagi dunia: semangat, daya juang, dan harga diri bangsa Kongo.

Di tengah suasana itu, Nus Narek tidak sedang duduk di tribun stadion. Ia juga tidak larut dalam perdebatan di media sosial. Ia berada di tempat yang jauh lebih sunyi: menjalankan panggilannya sebagai seorang imam Serikat Sabda Allah (SVD). Di desa-desa, di stasi-stasi kecil, bersama umat yang setiap hari bergumul dengan kemiskinan, penyakit, pendidikan anak-anak, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Mungkin malam itu ia ikut bersorak ketika Brian Cipenga mencetak gol pembuka bagi Kongo. Mungkin ia ikut terdiam ketika Inggris membalikkan keadaan. Tetapi keesokan paginya, hidup tetap berjalan. Ada Misa yang harus dipersembahkan. Ada orang sakit yang perlu dikunjungi. Ada anak-anak yang menunggu pelajaran iman. Ada keluarga yang membutuhkan penghiburan.

Begitulah kehidupan seorang misionaris.
Sepak bola menghadirkan kegembiraan selama sembilan puluh menit. Misi menghadirkan harapan sepanjang hidup.

Di sinilah letak keindahan panggilan seorang misionaris. Ia boleh mencintai tanah tempat ia berkarya. Ia boleh ikut bersedih ketika bangsa itu kalah. Ia boleh merasakan denyut kehidupan masyarakat setempat. Namun cintanya tidak berhenti pada kemenangan atau kekalahan. Ia tetap hadir ketika sorak-sorai stadion telah usai. Ia tetap tinggal ketika kamera televisi sudah berpindah ke pertandingan lain. Karya misi selalu dimulai justru ketika keramaian telah selesai.

Republik Demokratik Kongo bukanlah negeri yang mudah. Negara ini diberkati kekayaan alam yang luar biasa, tetapi juga mengalami sejarah panjang konflik bersenjata, kemiskinan, pengungsian, dan ketidakstabilan politik. Di tengah realitas itu, Gereja Katolik memainkan peran penting dalam pendidikan, kesehatan, rekonsiliasi, dan pendampingan masyarakat. Para misionaris menjadi bagian dari harapan yang terus menyala di tengah berbagai luka bangsa.

Karena itu, kekalahan Kongo di lapangan hijau tidak mengurangi semangat seorang misionaris.
Sebaliknya, mungkin justru pertandingan itu mengingatkan kembali bahwa kehidupan bukan hanya soal siapa yang mengangkat trofi. Kehidupan adalah tentang siapa yang tetap setia ketika trofi tidak pernah datang.

Dalam Injil, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kemenangan duniawi kepada para murid-Nya. Yang dijanjikan adalah salib, pelayanan, dan kesetiaan. Seorang misionaris memahami bahwa ukuran keberhasilan bukanlah tepuk tangan, melainkan ketekunan. Bukan popularitas, melainkan pengabdian.
Karena itu, ketika rakyat Kongo pulang dari stadion dengan hati yang campur aduk antara bangga dan sedih, Nus Narek juga melakukan perjalanan pulangnya sendiri. Bukan perjalanan menuju rumah pribadi, melainkan kembali kepada umat yang telah menjadi keluarganya.

Ia kembali kepada anak-anak yang belajar membaca. Ia kembali kepada para ibu yang menyiapkan hidup keluarganya. Ia kembali kepada orang-orang sakit yang menanti doa. Ia kembali kepada altar tempat Kristus setiap hari hadir. Di situlah perjalanan pulang seorang misionaris menemukan maknanya.

Piala Dunia akan selesai beberapa minggu lagi. Juara baru akan lahir. Trofi akan berpindah tangan. Para pemain akan kembali ke klub masing-masing. Dunia akan segera melupakan pertandingan demi pertandingan. Namun karya misi tidak mengenal musim kompetisi. Setiap pagi adalah babak baru.

Setiap manusia adalah pertandingan baru melawan keputusasaan. Setiap pelayanan adalah kesempatan baru menghadirkan kasih Allah. Mungkin itulah sebabnya Nus Narek tetap tersenyum. Kongo memang kalah dari Inggris. Tetapi kasih tidak pernah kalah. Harapan tidak pernah tersingkir. Dan seorang misionaris tahu bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengangkat Piala Dunia, melainkan membantu manusia menemukan kembali martabatnya sebagai anak-anak Allah. Itulah perjalanan pulang yang sesungguhnya.

Oleh: Vitalis Wolo

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.