Negeri Bencana

oleh -134 Dilihat
banner 468x60

Indonesia adalah negeri yang terlalu sering berduka, tetapi terlalu cepat melupakan dukanya. Kemarau meretakkan tanah, banjir menelan permukiman, api melahap hutan, gunung memuntahkan isi perut bumi. Bencana seolah menjadi kalender kesengsaraan rakyat.

Di antara segala bencana itu, ada yang paling licin menyamar: korupsi. Berbalut jas dan pidato pembangunan, ia menggerogoti negeri melalui transaksi gelap dan angka-angka manipulatif.

Banjir merendam rumah rakyat, korupsi merendam akal sehat. Alam punya hukumnya sendiri, tetapi kerusakan lingkungan, tata ruang yang diabaikan, dan mitigasi yang dikalahkan kepentingan memperparah malapetaka.

Mereka yang paling sedikit menikmati keuntungan justru kerap menjadi korban pertama. Rumah hanyut, sawah mengering, penghidupan musnah. Sementara itu, penderitaan menjadi panggung pencitraan.

Apa arti pembangunan jika gedung meninggi sementara keselamatan warga terabaikan? Apa arti kemajuan jika keuntungan dinikmati segelintir orang, sedangkan kerusakan diwariskan kepada generasi mendatang?

Indonesia tidak kekurangan sumber daya, melainkan nurani dalam mengelolanya. Kita membutuhkan “pertobatan nasional”: kekuasaan yang amanah, hukum yang adil, serta pembangunan yang menghormati manusia dan alam. Semakin besar kuasa, semakin besar tanggung jawab.

Jangan memuji ketangguhan rakyat tanpa mempertanyakan mengapa mereka terus menanggung penderitaan yang semestinya dapat dicegah. Ketangguhan rakyat tak boleh menjadi dalih bagi kegagalan negara.

Cinta tanah air bukan kewajiban untuk selalu memujinya. Kadang-kadang, cinta berarti mengakui bahwa rumah ini terbakar, fondasinya keropos, bahkan ada tangan-tangan yang diam-diam mencuri batu batanya. Diam demi menjaga citra bukan kesetiaan, melainkan pembiaran.

Bencana alam mungkin tak seluruhnya dapat dicegah. Namun, korupsi, keserakahan, dan kelalaian bukanlah takdir. Sebagian air mata negeri ini jatuh bukan karena kehendak alam, melainkan keputusan manusia.

Negeri yang terus berduka masih mungkin bangkit. Tetapi negeri yang kehilangan rasa bersalah atas penderitaan yang diciptakannya akan kehilangan kompas moralnya—dan alasan untuk bisa bertahan.

Oleh: Yudi Latif

Penulis adalah Aktivis dan Cendekiawan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.