Jalan Makmur

oleh -79 Dilihat
banner 468x60

Kalau saja kemakmuran bisa menular, maka yang punya potensi makmur berikutnya adalah: Iran dan Suriah.

Katakanlah dalam 25 tahun ke depan. Di belakang itu bisa menyusul: Irak, Jordania, Mesir dan Lebanon. Berarti, itu 50 tahun kemudian. Maka dalam 50 tahun wilayah Arab bagian timur menjadi wilayah yang maju. Sampai Parsi.

Di utara itu ada Turkiye yang sudah lebih dulu makmur.

Setelah itu praktis semua negara bekas kejayaan Turki Usmani bisa kembali ke era jaya.

Itu kalau perang Israel-Iran benar-benar selesai. Dan tidak kambuh lagi. Juga bila tidak ada lagi sanksi Barat atas Iran dan Suriah.

Di belahan Timur, kemajuan Tiongkok menular sampai Vietnam. Di belakang itu bisa menyusul Malaysia dan Kamboja. Entah apakah bisa menular terus sampai ke Tenggara: Indonesia dan Filipina.

Di belahan Selatan terlihat sudah India juga menuju kemakmuran. Yang lebih dulu tertular India kelihatannya Bangladesh. Sedang Pakistan, Afghanistan, Uzbekistan kelihatannya perlu waktu lebih lama. Pun Laos dan Burma.

Anda sudah tahu: Jepang dan Korea sudah jauh lebih dulu makmur di belahan Timur. Sedang Arab Saudi dan negara-negara Teluk juga sudah lebih dulu makmur di belahan Barat Asia.

Dengan demikian di kawasan Asia tinggal 12 negara yang miskin: Laos, Korut, Burma, Filipina, Nepal, Pakistan, Yaman, Afghanistan dan empat negara di kanan-kiri Afghanistan.

Dengan adanya 20 negara maju di Asia rasanya mereka sudah bisa menjadi mayoritas: 20 negara itu mengepung 12 negara miskin. Kebalikan dari sekarang: negara miskin mengepung negara kaya.

Maka kalau skenario itu terjadi maka akan ada 20 negara Asia yang maju dan 12 yang masih miskin. Betapa raksasanya Asia. Belum lagi dihitung dari jumlah penduduk dibandingkan dengan keseluruhan penduduk Asia.

Sementara itu Anda juga sudah tahu: satu negara yang mendominasi dunia selalu berganti. Dari satu abad ke abad lainnya. Amerika baru mendominasi dunia 100 tahun terakhir. Belum sampai. Belum begitu lama untuk hitungan sejarah dunia.

Bedanya: di zaman Amerika sedang menguasai dunia pikiran manusia sudah semakin pintar. Apalagi pikiran orang Amerika.

Maka di Amerika pasti berkembang diskusi dengan tema “penyebab-penyebab runtuhnya penguasa dunia di masa lalu”. Jangan sampai itu terjadi lagi. Jangan sampai Amerika hanya menguasai dunia hanya 100 tahun.

Mereka tentu belajar dari situ agar Amerika bisa abadi menguasai dunia. Apa saja yang harus dilakukan. Apa saja yang tidak boleh dilakukan.

Itu sama dengan orang-orang kaya masa kini. Mereka tahu dari sejarah: kekayaan itu akan habis di generasi ketiga. Kekuasaan keuangan runtuh atau diturunkan di generasi ketiga.

Seminar-seminar tentang itu pun banyak dilakukan. Laris. Penyebab-penyebab keruntuhan dipelajari. Dikaji. Mereka terus mencari cara agar kekayaan itu bisa abadi. Sudah ada yang mulai menemukan jalan keluar: menciptakan family constitution. Dr Hadi Cabayi salah satu ahlinya di Indonesia.

Semua skenario penyelamatan kekayaan itu fokus pada internal di orang kaya: bagaimana bisa kokoh. Tidak rapuh. Tidak satu pun studi menyebut perlunya memiskinkan orang lain. Memiskinkan tetangga. Teman. Lingkungan. Bukan itu jalan untuk terus menjadi terkaya.

Di level negara mungkin saja caranya sama: jaga negara agar tetap kokoh, tetap lebih produktif, tetap lebih pintar. Tidak harus dengan cara mengadu domba negara lain. Tidak perlu membuat negara lain yang terlihat akan maju dihambat kemajuannya.

Betapa enteng Presiden Trump mengucapkan itu tanggal 6 April: “whole civilization will die tonight, never to be brought back again.”

Iran mungkin contoh paling nyata. Negara itu memenuhi syarat untuk bisa menjadi negara makmur asal penduduknya tidak dimusnahkan—apalagi hanya dalam satu malam.

Kamis, 23 April 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.