Iris Istri

oleh -107 Dilihat
banner 468x60

Setelah camino dua etape, kami makan siang di Magome. Ini lokasi transit camino Nakasendo yang lebih besar dan lebih indah. Makan siangnya set Jepang. Meski menunya istimewa tapi itu bukan agenda pokok –itu keharusan orang hidup. Agenda terpenting di Magome –agak malu menyebutkannya– adalah membeli talenan.

Sssstttt….!

Itu jangan dihubungkan dengan doktrin sayang istri. Istri memang suka masak dan butuh talenan, tapi dia sudah punya beberapa. Beli talenan di Magome lebih karena ikut-ikutan.

Ketua rombongan kami, pengusaha sangat besar itu, mampu menceritakan kehebatan talenan Magome. Sama mampunya dengan saat menceritakan mengapa Jepang sampai punya 2.200 lapangan golf. Termasuk bagaimana talenan Magome dibeli lebih banyak dari jumlah pemain golf di Jepang yang mencapai 10,7 juta orang.

Ia bisa bercerita detail bahkan sampai bagaimana sistem dan prosedur mencuci talenan: jangan dicuci dengan deterjen. Jangan pula dicuci dengan sabun berlebihan. Itu akan menghilangkan zat-zat di kayu talenan. Padahal zat-zat itu mengandung aroma harum dan anti bakteri.

Talenan juga tidak boleh terendam air. Atau selalu basah. Meski anti bakteri tapi talenan tidak anti jamur. Kalau sampai talenan berjamur amatlah berbahaya bagi kesehatan.

Talenan harus selalu kering.

Ia juga bisa menjelaskan jenis-jenis talenan. Talenan untuk potong daging harus dibedakan dengan talenan untuk potong sayur dan cabai. Juga harus berbeda dengan talenan untuk potong buah –biasanya lebih tipis.

Dari yang penting-penting itu ada yang tidak kalah penting: pisau untuk mengiris. Pisau harus sangat tajam –agar tidak terlalu ditekan sampai melukai talenan.

Pokoknya bos perusahaan besar itu bisa menjelaskan karakter talenan sama baiknya dengan memahami karakter para partner bisnisnya.

—

Saya pun ikut masuk toko oleh-oleh. Di Tsumagu saya membeli caping Jepang. Itu karena saya tidak membawa topi. Saya selalu taat pada dokter transplantasi di Tianjin: hindari terik matahari.

Di Magome saya ikut lagi masuk toko oleh-oleh: untuk membeli talenan. Ketika mulai memilih, ketua rombongan menghampiri saya.

“Jangan beli di sini pak. Kita ke sana saja. Lebih banyak pilihan,” kata ketua rombongan itu.

Saya pun membututinya. Ia mendaki jalan naik. Saya ikut. Ia belok kanan. Saya ikut. Tanjakan jalan batu itu kian tinggi. Ia kian jauh di depan.

Ternyata toko yang dimaksud masih jauh lagi di atas sana. Jalannya menanjak. Maka ia kian jauh di depan. Apalagi ia justru berlari di jalan yang paling menanjak. Saya pilih mengerem kaki. Saya sadar: beda umur. Tidak boleh emosi. Jangan karena t!lenan napas putus di tanjakan.

Saya pilih istirahat sebentar. Kebetulan ada kincir air yang amat tua di tepi jalan menanjak. Setelah naas tertata saya mengejarnya lagi: pelan-pelan. Setiap toko saya tengok –siapa tahu ia di dalamnya.

—

Akhirnya tibalah di toko itu: toko talenan.

Ia benar: aneka ukuran dipajang di seantero toko. Talenan daging. Talenan sayur. Talenan buah. Tidak hanya talenan. Mangkok kayu pun ada. Juga sendok kayu, centong, piring, cangkir dan segala macam alat dapur dari kayu.

Saya ambil satu talenan. Satu saja. Itu pun belum tentu dia pakai. Bisa hanya disimpan untuk kenangan.

Magome memang dikenal sebagai penghasil kayu terbaik di Jepang: kayu hinoki. Itulah sebabnya kerajinan kayu lahir di Magome. Sejak zaman Edo. Tekstur kayunya memberi rasa tangan yang berbeda dibanding talenan kayu lain.

Kayu hinoki dikenal di Jepang sebagai kayu pilihan untuk membangun istana, kuil, pagoda dan bangunan lain yang ingin berumur panjang. Bahkan, di Jepang, kayu hinoki biasa digunakan untuk bak mandi. Bukan pohon besar yang dipahat. Bak itu terbuat dari papan-papan hinoki yang disambung dan dirangkai. Tukang kayu di Jepang tahu: tidak akan bocor. Sifat kayu hinoki khas: bila basah justru mengembang. Berarti begitu kena air bagian sambungannya kian rapat. Karena itu saya justru khawatir kalau tumbuh di Indonesia kayu hinoki dianggap bisa untuk jamu sari rapat.

Saya melirik ketua rombongan: ia membeli lima talenan. Istrinya membeli tongkat kayu panjang. “Untuk pakai sepatu,” katanyi. Betul. Baru sekali itu saya melihat ada alat bantu pakai sepatu yang tongkatnya panjang sekali: agar pemakai sepatu tidak perlu jongkok atau membungkuk.

Alat itu disebut shoehorn. Biasa juga disebut sendok sepatu. shoehorn dari kayu hinoki tentu istimewa: ringan dan aroma kayunya khas.

Di Indonesia saya tidak tahu kayu apa yang dibuat talenan. Anda tahu? Mungkin kayu jati. Padat dan kering. Juga tidak terlalu keras –terasa ketika menggergaji jati lebih mudah. Atau kayu sawo. Mahoni. Jangan-jangan kayu waru.

Kayu waru terbukti cocok untuk sandal santri: tidak mudah lembab, ringan dan tidak terlalu keras bagi ujung pisau. Juga untuk bantal santri –di samping kayu randu.

Apa pun kayunya sebenarnya yang terpenting adalah tangan istri: gaya mengiris tiap istri tidak sama.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.