Bunuh Diri Bukan Keputusan Sederhana: Ketika Otak Terjebak dalam Tekanan dan Kehilangan Jalan Keluar

oleh -137 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

KEPUTUSAN bunuh diri sesungguhnya merupakan hasil dari proses yang sangat kompleks di dalam otak manusia. Keputusan tersebut hampir tidak pernah disebabkan oleh satu masalah saja. Biasanya terdapat gabungan antara tekanan hidup, rasa kehilangan, konflik keluarga, masalah ekonomi, trauma, penyakit, depresi, penggunaan alkohol atau narkoba, kesepian, serta perasaan bahwa tidak ada lagi orang yang memahami atau dapat menolong. Karena itu, bunuh diri tidak boleh dipandang secara sederhana sebagai tindakan orang yang lemah, tidak bersyukur, tidak berpikir panjang, atau kurang beriman. WHO menegaskan bahwa perilaku bunuh diri berkaitan dengan berbagai faktor psikologis, sosial, biologis, dan lingkungan, serta sering terjadi ketika kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup sedang mengalami keruntuhan.

Pada dasarnya, otak manusia memiliki mekanisme untuk menghindari rasa sakit dan mempertahankan kehidupan. Ketika tangan menyentuh benda panas, tangan secara otomatis ditarik. Demikian pula ketika menghadapi rasa malu, kegagalan, kehilangan pekerjaan, utang, penolakan, atau konflik, otak segera mencari cara untuk mengurangi rasa sakit tersebut. Namun, hal ini tidak berarti bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Yang dimiliki manusia adalah kecenderungan untuk mencari kelegaan dari penderitaan. Masalahnya terletak pada cara yang dipilih untuk memperoleh kelegaan tersebut.

Sebagian orang menghadapi masalah dengan berbicara, berdoa, berolahraga, mencari pertolongan, menyusun rencana baru, atau beristirahat. Sebagian lainnya memilih menghindar, mengurung diri, tidur sepanjang hari, berjudi, menggunakan narkoba, minum alkohol sampai mabuk, atau melakukan tindakan berbahaya. Semua itu dapat menjadi usaha untuk “mematikan” rasa sakit untuk sementara waktu. Akan tetapi, pelarian tidak menghilangkan sumber masalah. Pelarian hanya menunda masalah, bahkan sering menciptakan masalah baru yang lebih besar.

Alkohol, misalnya, dapat memberikan rasa tenang atau senang untuk sementara karena memengaruhi sistem penghargaan dan emosi di dalam otak. Namun, penggunaan yang berulang dapat membentuk lingkaran ketergantungan: seseorang minum karena tertekan, merasa lega sebentar, kemudian mengalami masalah kesehatan, keuangan, pekerjaan, dan hubungan, lalu kembali minum untuk melupakan masalah baru tersebut. Alkohol juga mengganggu bagian otak yang mengendalikan pertimbangan, ingatan, dan pengambilan keputusan, sehingga seseorang lebih mudah bertindak impulsif ketika sedang mengalami krisis.

Untuk memahami proses tersebut, otak dapat digambarkan secara sederhana sebagai sebuah organisasi. Amygdala berfungsi seperti alarm bahaya. Bagian ini cepat bereaksi terhadap ancaman, ketakutan, rasa malu, kemarahan, dan kehilangan. Korteks prefrontal dapat diibaratkan sebagai manajer yang bertugas berpikir jernih, mempertimbangkan akibat, mengendalikan dorongan, dan mencari beberapa pilihan penyelesaian. Hippocampus membantu menempatkan pengalaman dalam konteks serta menghubungkannya dengan ingatan. Sementara itu, sistem penghargaan mendorong manusia mengulangi sesuatu yang dianggap memberikan kelegaan atau kenikmatan.

Ketika tekanan masih berada pada tingkat yang dapat dikendalikan, “manajer otak” masih mampu berkata, “Masalah ini memang berat, tetapi masih ada beberapa jalan keluar.” Namun, ketika tekanan menjadi sangat berat dan berlangsung terus-menerus, alarm bahaya dapat menjadi terlalu aktif, sedangkan kemampuan berpikir tenang dan fleksibel melemah. Penelitian menunjukkan bahwa stres berat dapat menggeser pengendalian perilaku dari proses yang lambat dan penuh pertimbangan menuju reaksi emosional yang lebih cepat, refleks, dan berdasarkan kebiasaan.

Pada kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami pandangan terowongan. Otaknya seolah-olah hanya melihat satu masalah dan satu jalan keluar. Ia tidak lagi mampu melihat kehidupan secara utuh. Kehilangan pekerjaan terasa seperti kehilangan seluruh masa depan. Putus hubungan dianggap sebagai bukti bahwa tidak akan ada lagi orang yang mencintainya. Kegagalan ujian dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak berguna. Utang dianggap sebagai akhir dari kehormatan. Padahal, semua itu adalah kesimpulan yang dibuat oleh otak yang sedang berada dalam keadaan sangat tertekan, bukan gambaran objektif mengenai seluruh kehidupan seseorang.

Misalnya, seseorang kehilangan pekerjaan, memiliki cicilan, dan mengalami konflik dengan keluarganya. Pada mulanya ia hanya ingin melupakan masalah dengan minum alkohol. Setelah beberapa kali minum, tidurnya terganggu, pengeluarannya bertambah, konsentrasinya menurun, dan hubungannya dengan keluarga semakin buruk. Otaknya kemudian mulai mengulang kalimat, “Semua masalah ini tidak akan pernah selesai.” Dalam keadaan normal, Orang itu mungkin dapat melihat beberapa pilihan: mencari pekerjaan sementara, berunding dengan pemberi pinjaman, menjual aset yang tidak produktif, meminta bantuan keluarga, atau menemui psikolog. Namun, ketika alarm bahaya menguasai otaknya, semua pilihan tersebut seakan-akan menghilang.

Karena itu, langkah pertama ketika pikiran sedang sangat tertekan bukanlah membuat keputusan besar, melainkan menghentikan keadaan darurat di dalam otak. Seseorang perlu menjauh dari alkohol, narkoba, senjata, obat dalam jumlah besar, tempat berbahaya, atau benda lain yang dapat dipergunakan untuk melukai diri. Ia tidak boleh dibiarkan sendirian. Tubuh perlu ditenangkan melalui pernapasan perlahan, makan, minum air, tidur yang cukup, berjalan kaki, dan berada bersama orang yang dipercaya. Tujuannya bukan langsung menyelesaikan semua masalah, tetapi terlebih dahulu mengembalikan kemampuan otak untuk berpikir.

Langkah berikutnya adalah memisahkan diri dari masalah. Seseorang yang gagal bukanlah manusia gagal. Orang yang kehilangan pekerjaan bukanlah manusia tanpa nilai. Orang yang memiliki utang bukanlah manusia tanpa masa depan. Kalimat “Saya sedang menghadapi masalah keuangan” sangat berbeda dari “Hidup saya sudah hancur.” Bahasa yang dipergunakan akan memengaruhi cara otak memahami keadaan. Masalah harus ditempatkan sebagai sesuatu yang sedang dihadapi, bukan sebagai identitas permanen.

Pengalaman saya dapat dijadikan contoh bahwa kegagalan pada satu tahap kehidupan tidak berhak menentukan batas akhir kehidupan. Saya pernah dua kali tidak naik kelas di SMA, dianggap lemah dalam Aljabar, dan kemudian kembali mengalami kegagalan dalam mata kuliah Pengantar Statistika. Apabila kegagalan tersebut langsung diterjemahkan sebagai identitas—“Saya bodoh dan tidak memiliki masa depan”—maka kehidupan akan berhenti pada kesimpulan yang salah. Namun, kegagalan itu dipandang sebagai informasi bahwa cara belajar harus diubah. Perjalanan kemudian berlanjut sampai menyelesaikan Magister Statistika Terapan dan pendidikan doktor dengan prestasi tinggi (IPK 4.0).

Contoh tersebut bukan berarti bahwa semua persoalan kesehatan mental cukup diselesaikan dengan tekad. Depresi berat, trauma, ketergantungan zat, dan pikiran bunuh diri dapat membutuhkan pertolongan psikolog, psikiater, dokter, obat-obatan, serta pendampingan keluarga. Pesannya adalah bahwa keadaan hari ini bukanlah keputusan akhir mengenai kehidupan. Ketika otak sedang sakit atau kelelahan, seseorang membutuhkan pertolongan sebagaimana penderita penyakit fisik membutuhkan dokter. Psikoterapi antara lain membantu seseorang mengenali pola pikiran, mengembangkan keterampilan menghadapi tekanan, menyelesaikan masalah, dan membuat rencana keselamatan ketika muncul keinginan menyakiti diri.

Mendekatkan diri kepada TUHAN juga sangat penting karena manusia membutuhkan makna yang lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapinya. Doa, ibadah, perenungan, komunitas keagamaan, dan keyakinan bahwa kehidupan memiliki tujuan dapat menjadi tempat bersandar ketika kemampuan pribadi sedang melemah. Namun, agama tidak boleh dipergunakan untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami krisis. Kalimat seperti “Imanmu kurang”, “Kamu tidak bersyukur”, atau “Berdoa saja” dapat membuat orang semakin malu dan semakin tertutup. Pendekatan kepada TUHAN harus disertai kasih, kehadiran, pendampingan, dan pertolongan nyata.

Manusia perlu terus-menerus mengisi pikirannya dengan harapan, tujuan, dan cita-cita yang lebih besar daripada tekanan yang sedang dihadapi hari ini. Cita-cita besar memperpanjang jarak pandang otak. Ketika seseorang hanya memusatkan perhatian pada kegagalan, utang, penolakan, kehilangan pekerjaan, atau penderitaan hari ini, otaknya dapat terjebak dalam kesimpulan sempit bahwa seluruh kehidupan telah berakhir. Padahal, yang sedang berakhir mungkin hanya satu tahap, satu rencana, satu hubungan, atau satu jalan lama—bukan seluruh masa depan.

Sebaliknya, ketika seseorang masih memiliki gambaran tentang sesuatu yang ingin dilakukan—membahagiakan orang tua, mendidik anak, menyelesaikan pendidikan, membangun usaha, menulis buku, menciptakan lapangan kerja, menolong masyarakat, atau melayani sesama—otak memperoleh alasan untuk bertahan dan bergerak. Harapan tidak selalu langsung menyelesaikan masalah, tetapi harapan membuka kembali ruang berpikir yang sebelumnya tertutup oleh tekanan. Otak mulai melihat bahwa di balik kesulitan hari ini masih terdapat hari esok, pilihan lain, kesempatan baru, dan tujuan yang lebih besar.

Pengalaman saya menunjukkan pentingnya menyuntikkan emosi harapan besar ke dalam pikiran. Saya selalu berbicara mengenai cita-cita yang sangat besar: menjadi orang yang SUCCESS, mencapai kesejahteraan ekonomi, menghasilkan karya besar, mengubah kehidupan banyak orang, bahkan menyampaikan gambaran yang terdengar sangat jauh seperti “membangkitkan orang-orang mati”. Pernyataan terakhir tentu tidak perlu dipahami secara harfiah, tetapi sebagai simbol keberanian untuk membangkitkan kembali manusia yang telah “mati” harapannya, “mati” semangatnya, “mati” kepercayaan dirinya, dan merasa masa depannya telah selesai.

Bagi sebagian orang, cita-cita seperti itu mungkin dianggap berlebihan, tidak realistis, atau sekadar khayalan. Namun, bagi saya, cita-cita besar tersebut mempunyai fungsi penting: mengalihkan pusat perhatian otak dari rasa sakit menuju kemungkinan; dari kegagalan masa lalu menuju pekerjaan yang masih dapat dilakukan; dari tekanan hari ini menuju kehidupan yang masih dapat dibangun. Dengan demikian, otak tidak terus-menerus berputar di dalam lingkaran ketakutan, penyesalan, dan keputusasaan.

Mungkin saja tidak semua cita-cita besar itu akan tercapai. Hal tersebut bukan masalah. Nilai sebuah cita-cita tidak hanya terletak pada pencapaian akhirnya, tetapi juga pada kemampuannya menjaga seseorang tetap hidup, belajar, bekerja, dan bergerak. Cita-cita besar dapat berfungsi sebagai kompas psikologis. Meskipun seseorang belum sampai ke tujuan akhir, kompas tersebut telah menjauhkannya dari jurang keputusasaan dan mengarahkannya menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Itulah alasan saya sering menyatakan, “Tirulah keberanian cara berpikir orang yang dianggap gila, tetapi tetaplah berperilaku normal dan bertanggung jawab.” Maksudnya bukan meniru gangguan jiwa, kehilangan kendali, atau melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Maksudnya adalah berani berpikir melampaui batas kebiasaan, tidak terlalu takut ditertawakan, tidak membiarkan penilaian orang lain membunuh cita-cita, tetapi tetap bertindak berdasarkan akal sehat, nilai moral, disiplin, realitas, dan tanggung jawab.

Orang yang berani berpikir besar tidak berarti menolak kenyataan. Ia tetap mengetahui bahwa dirinya mempunyai keterbatasan, masalah, dan risiko kegagalan. Namun, ia tidak mengizinkan kenyataan hari ini menjadi penjara permanen bagi masa depannya. Ia menggunakan kenyataan sebagai titik awal, bukan sebagai batas akhir. Inilah perbedaan antara khayalan kosong dan harapan yang produktif: khayalan hanya berhenti di dalam pikiran, sedangkan harapan mendorong seseorang melakukan tindakan nyata, sekecil apa pun, secara terus-menerus.

Sebagai contoh, ketika saya dua kali tidak naik kelas, dianggap lemah dalam Aljabar, dan kemudian gagal dalam mata kuliah Pengantar Statistika, otaknya dapat saja menerima kesimpulan bahwa dirinya bodoh dan tidak memiliki masa depan akademik. Namun, saya memilih menyuntikkan cita-cita yang lebih besar daripada penilaian orang lain. Ia berani membayangkan sesuatu yang pada saat itu mungkin terdengar tidak masuk akal: mempelajari Statistika Terapan, melanjutkan pendidikan doktor, dan menjadi seorang profesional yang diakui. Cita-cita besar tersebut tidak langsung menghapus kesulitan, tetapi memberikan alasan untuk terus-menerus belajar, mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan bergerak maju.

Demikian pula pengalaman Aldi. Pada tahun 2011, ia tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2 SMA. Keluarga kemudian memindahkannya ke sebuah sekolah internasional dengan harapan lingkungan dan metode pembelajaran yang berbeda dapat membantunya. Namun, keadaan justru semakin berat. Setiap hari ketika hendak pergi ke sekolah, Aldi mengalami ketakutan yang sangat kuat, muntah-muntah, dan merasa tertekan ketika harus memasuki ruang kelas. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh justru telah berubah menjadi sumber tekanan psikologis yang sangat besar.

Pada akhirnya, saya dan keluarga mengambil keputusan yang tidak biasa, yaitu mengeluarkan Aldi dari jalur pendidikan formal. Ia tidak lagi dipaksa mengikuti sistem pendidikan yang pada saat itu justru semakin memperburuk keadaannya. Aldi kemudian belajar di rumah dan diarahkan untuk mengikuti pendidikan Paket C. Setelah ijazah SMP-nya memenuhi persyaratan usia tiga tahun, ia didaftarkan untuk mengikuti ujian Paket C setara SMA. Aldi berhasil lulus, meskipun memperoleh nilai yang sangat rendah pada hampir semua mata pelajaran. Hanya Bahasa Inggris yang menunjukkan nilai relatif tinggi.

Bagi sebagian orang, hasil tersebut mungkin dianggap sebagai bukti bahwa masa depan akademik Aldi telah berakhir. Seorang anak yang tidak naik kelas, tidak mampu bertahan dalam pendidikan formal, mengalami ketakutan setiap kali masuk sekolah, dan kemudian lulus Paket C dengan nilai rendah mungkin akan dianggap tidak memiliki kemampuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Namun, saya justru menyuntikkan harapan yang jauh lebih besar daripada keadaan Aldi pada saat itu. Saya menyatakan bahwa akan membimbing Aldi sampai menjadi seorang doktor yang berprestasi secara akademik.

Pada saat pernyataan itu disampaikan, cita-cita tersebut mungkin terdengar seperti khayalan yang tidak masuk akal. Kenyataan yang terlihat justru sangat bertolak belakang: Aldi baru saja gagal dalam pendidikan formal dan menyelesaikan Paket C dengan nilai rendah. Namun, saya tidak membiarkan keadaan hari itu menentukan seluruh masa depan Aldi. Ia melihat bahwa kegagalan dalam satu sistem pendidikan belum tentu berarti kegagalan kemampuan berpikir, kegagalan belajar, atau kegagalan kehidupan.

Perjalanan tersebut dilakukan secara bertahap, bukan melalui keajaiban yang terjadi dalam satu malam. Pada jenjang sarjana, Aldi memperoleh IPK 3,08. Pada jenjang magister, prestasinya meningkat menjadi IPK 3,28. Selanjutnya, pada jenjang doktor, ia mencapai IPK 3,90. Pernyataan saya yang dahulu mungkin dianggap terlalu besar akhirnya benar-benar terwujud sekitar lima belas tahun kemudian, setelah Aldi berhasil menyelesaikan ujian doktor.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa cita-cita besar dapat menjadi jalan keluar dari tekanan yang berlebihan apabila disertai pendampingan, kesabaran, perubahan metode, dan tindakan nyata secara terus-menerus. Ketika Aldi tidak mampu menyesuaikan diri dengan pendidikan formal, saya tidak terus memaksanya masuk ke dalam sistem yang sama. Sistemnya yang diubah, bukan anaknya yang terus-menerus disalahkan. Tekanan dikurangi terlebih dahulu, kemudian kemampuan belajar dibangun kembali secara bertahap melalui jalur yang lebih sesuai.

Jika pada tahun 2011 pikiran Aldi dan keluarganya hanya dipenuhi oleh pertanyaan, “Mengapa Aldi tidak seperti anak-anak lain?” atau “Mengapa ia gagal di sekolah?”, tekanan akan semakin besar. Namun, saya mengganti pertanyaan tersebut menjadi, “Melalui jalan apa Aldi masih dapat belajar dan membangun masa depannya?” Perubahan pertanyaan itu mengubah arah tindakan. Fokus tidak lagi ditempatkan pada rasa malu akibat tidak naik kelas, melainkan pada pencarian sistem belajar yang lebih tepat.

Harapan besar yang disampaikan saya juga memberikan arah jangka panjang. Aldi tidak diminta langsung membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi doktor. Ia hanya perlu menyelesaikan satu tahap pada satu waktu: menyelesaikan Paket C, memasuki pendidikan sarjana, belajar menyesuaikan diri, menyelesaikan magister, kemudian melanjutkan pendidikan doktor. Tujuan yang sangat besar dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dikerjakan secara bertahap.

Karena itu, ketika tekanan datang, jangan hanya memenuhi otak dengan daftar masalah, kegagalan, kekurangan, dan penilaian buruk orang lain. Isilah juga pikiran dengan alasan untuk tetap hidup, tujuan yang masih ingin diperjuangkan, orang-orang yang masih ingin dibahagiakan, kemampuan yang masih dapat dikembangkan, dan kehidupan yang masih dapat dibangun. Harapan harus dibuat lebih besar daripada ketakutan, sedangkan cita-cita harus dibuat lebih panjang daripada usia masalah yang sedang dihadapi.

Pengalaman Aldi membuktikan bahwa nilai yang rendah, kegagalan naik kelas, keluar dari pendidikan formal, atau ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan suatu sekolah bukanlah keputusan akhir mengenai kecerdasan dan masa depan seseorang. Kadang-kadang yang gagal bukan manusianya, melainkan metode dan lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Ketika metode diubah, tekanan dikurangi, dan harapan dibangun kembali, kemampuan yang sebelumnya tertutup dapat tumbuh secara bertahap.

Namun, harapan dan cita-cita besar tidak boleh dipergunakan untuk mengabaikan kebutuhan akan pertolongan profesional. Ketika tekanan membuat seseorang terus-menerus muntah, sangat takut masuk kelas, tidak mampu tidur, kehilangan fungsi sehari-hari, merasa hidup tidak berguna, atau berpikir untuk menyakiti diri, kondisi tersebut harus ditanggapi secara serius. Pendampingan keluarga perlu berjalan bersama bantuan psikolog, psikiater, dokter, konselor, atau tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.

Mendekatkan diri kepada TUHAN, menanamkan harapan, mengubah lingkungan, menyesuaikan metode belajar, dan memperoleh pertolongan profesional bukanlah pilihan yang saling bertentangan. Semuanya dapat bekerja bersama untuk memulihkan seseorang. Iman memberikan kekuatan dan makna, keluarga memberikan rasa aman, cita-cita memberikan arah, sedangkan pertolongan profesional membantu menangani tekanan dan gangguan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan nasihat atau kemauan pribadi.

Kisah Aldi akhirnya menegaskan satu pelajaran penting: keadaan hari ini tidak berhak menentukan batas akhir pencapaian seseorang. Pada tahun 2011, ia tidak naik kelas dan tidak mampu bertahan dalam pendidikan formal. Lima belas tahun kemudian, ia menyelesaikan ujian doktor dengan prestasi akademik tinggi. Di antara kedua titik itu terdapat proses panjang berupa tekanan, perubahan sistem, kegagalan, pembelajaran, pendampingan, dan harapan yang tidak pernah dihentikan.

Masa lalu dapat menjelaskan titik awal kehidupan, tetapi tidak berhak menentukan batas akhir pencapaian seseorang. Ketika tekanan dikurangi, metode diubah, dan harapan besar terus dipelihara melalui tindakan nyata, seseorang yang dahulu dianggap gagal dapat mencapai sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.

Pada akhirnya, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada penderitaan hari ini. Ia membutuhkan iman untuk percaya bahwa hidupnya tetap bernilai, harapan untuk melihat hari esok, cita-cita untuk menentukan arah, dan tindakan nyata untuk bergerak. Mungkin tidak semua impian akan tercapai, tetapi selama impian itu menjaga otak tetap melihat kemungkinan, menjaga hati tetap mempunyai harapan, dan menjaga tubuh tetap melangkah, impian tersebut telah menjalankan fungsi yang sangat penting.

Berpikirlah sebesar mungkin, meskipun dianggap tidak masuk akal oleh orang lain. Namun, tetaplah bertindak secara normal, rasional, bermoral, disiplin, dan bertanggung jawab. Sebab masa lalu hanya menjelaskan titik awal kehidupan, sedangkan harapan, cita-cita, dan tindakan hari inilah yang membuka kemungkinan bagi masa depan.

Cita-cita tersebut tidak harus seluruhnya tercapai. Nilai sebuah cita-cita tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada kemampuannya memberikan arah. Cita-cita adalah kompas, bukan hakim. Cita-cita tidak boleh berubah menjadi tekanan baru seperti, “Jika saya tidak berhasil, hidup saya tidak berarti.” Seseorang tetap berharga meskipun rencananya berubah, impiannya tertunda, atau targetnya tidak tercapai. Harapan yang sehat bersifat lentur: jalan dapat berubah, waktu dapat bergeser, tetapi kehidupan tetap memiliki makna.

Agar terhindar dari tekanan yang berlebihan, seseorang perlu melatih otaknya setiap hari melalui tindakan sederhana. Masalah besar harus dipecah menjadi langkah kecil. Jangan memikirkan bagaimana menyelesaikan seluruh utang dalam satu malam; pikirkan siapa yang harus dihubungi besok pagi. Jangan memikirkan seluruh karier selama tiga puluh tahun; pikirkan satu keterampilan yang dapat dipelajari minggu ini. Jangan memikirkan bagaimana memperoleh kebahagiaan seumur hidup; pikirkan bagaimana melewati dua puluh empat jam berikutnya dengan aman.

Hubungan dengan manusia lain juga merupakan perlindungan yang sangat penting. Ketika seseorang mulai berkata bahwa hidupnya tidak berguna, merasa menjadi beban, merasa terperangkap, berbicara tentang kematian, menarik diri, atau mengalami rasa sakit emosional yang tidak tertahankan, pernyataan tersebut harus ditanggapi dengan serius. Tanyakan secara langsung dan tenang, “Apakah kamu sedang berpikir untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup?” Menanyakan hal tersebut bukanlah menanamkan gagasan bunuh diri, melainkan membuka jalan agar orang tersebut tidak menanggung krisisnya sendirian. NIMH atau National Institute of Mental Health, yaitu Institut Nasional Kesehatan Mental Amerika Serikat. merekomendasikan langkah bertanya, hadir mendampingi, membantu menjaga keselamatan, menghubungkan dengan bantuan, dan melakukan tindak lanjut.

Kesimpulannya, keputusan bunuh diri bukanlah keputusan sederhana yang muncul karena seseorang sekadar tidak mampu mengendalikan pikirannya. Keputusan itu dapat terjadi ketika sistem alarm di dalam otak bekerja terlalu kuat, kemampuan berpikir jernih melemah, rasa sakit terasa tidak tertahankan, dan semua jalan keluar seolah-olah tertutup. Alkohol, narkoba, dan berbagai bentuk pelarian dapat memperburuk keadaan karena memberikan kelegaan sesaat tetapi melemahkan pertimbangan serta menambah masalah baru.

Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan dengan mengurangi tekanan, menjauhkan sarana berbahaya, menghentikan penggunaan zat, memperbaiki tidur, berbicara dengan orang yang dipercaya, memperoleh pertolongan profesional, mendekatkan diri kepada TUHAN, dan terus-menerus membangun harapan. Manusia tidak selalu dapat memilih masalah yang datang, tetapi manusia dapat dibantu untuk tidak mengambil keputusan permanen ketika otaknya sedang berada dalam krisis sementara.

Jangan pernah mengambil keputusan untuk mengakhiri seluruh kehidupan hanya berdasarkan keadaan otak pada satu malam yang sangat gelap. Malam itu dapat berlalu, tekanan dapat ditangani, masalah dapat dipecah, jalan baru dapat ditemukan, dan kehidupan dapat dibangun kembali.

Oleh: Vincent Gaspersz

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.