๐ƒ๐ข ๐“๐š๐ง๐š๐ก ๐Š๐ž๐ซ๐ข๐ง๐  ๐๐“๐“, ๐Œ๐๐† ๐‰๐š๐ฅ๐š๐ง ๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ฐ๐š๐ญ ๐Š๐ž๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐š๐ง โ€” ๐๐š๐ ๐ข๐š๐ง ๐Ÿ

oleh -123 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Setyo Budiantoro

Ada kalimat pendek yang tidak meminta perhatian, tetapi tiba-tiba membuat kita berhenti lama. Ketika Bang Anton Doni Dihen, Bupati Flores Timur, mengirim pesan WhatsAppโ€”โ€œ๐‹๐ฎ๐š๐ซ ๐›๐ข๐š๐ฌ๐š. ๐‰๐š๐ฅ๐š๐ง ๐ค๐ž๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ž๐ฆ๐ข๐ฌ๐ค๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ฎโ€โ€”saya terdiam. Bukan karena kalimat itu indah, tetapi karena ia terasa benar. Seperti sesuatu yang selama ini kita cari terlalu jauh, dengan bahasa yang terlalu rumit, ternyata berdiri begitu dekat: di kebun petani, di dapur sekolah, di piring anak-anak, dan di tanah desa yang terlalu lama menunggu untuk sungguh-sungguh diperhitungkan.

Pesan itu datang setelah ia melihat praktik yang sedang berjalan di Timor Tengah Selatan (TTS). Di sana, kemiskinan tidak sedang dilawan dengan slogan besar. Ia sedang disentuh dari tempat yang paling dasar: pangan. Setiap hari sekolah, hampir 2 ton sayur dipasok ke 8 dapur MBG dan 10 sekolah oleh sekitar 300 petani sekitar, sebagian di antaranya adalah orang tua murid.

Bayangkan betapa sederhana, sekaligus betapa dalam maknanya: seorang petani menanam sayur di lahannya, sayur itu masuk ke dapur sekolah, dimasak, lalu dimakan oleh anaknya sendiri atau anak tetangganya. Di titik itu, pertanian tidak lagi hanya menjadi pekerjaan. Ia menjadi cara sebuah desa merawat masa depannya.

Apa yang terjadi di TTS menunjukkan bahwa rantai yang selama ini putus sebenarnya bisa disambung kembali. Praktik ini didukung Kementerian PPN/Bappenas dan GIZ Indonesia & ASEAN, lalu berkembang secara swadaya. Kini, sekitar 2.389 petani telah masuk dalam ekosistem yang menghubungkan pertanian lokal dengan kebutuhan pangan sekolah, dapur MBG, dan pasar yang lebih luas melalui pertanian tumpangsari atau multiple crops. Dengan pola sederhana ini, petani seperti memiliki ritme penghasilan yang lebih teratur: ada panen bulanan, triwulanan, dan tahunan. Ada arah. Ada pembeli. Ada alasan untuk menanam dengan lebih terencana. Ada harapan yang mulai punya bentuk.

Di situlah kalimat Bang Anton “menemukan tubuhnya”. Jalan keluar dari kemiskinan yang paling terjangkau tidak selalu dimulai dari proyek besar yang jauh dari warga. Kadang ia dimulai dari hal yang paling dekat, tetapi paling sering kita abaikan: tanah yang diurus lebih baik, petani yang diberi pasar lebih pasti, dapur sekolah yang membeli dari kebun desa, dan anak-anak yang tumbuh dengan gizi cukup. Kemiskinan bukan hanya soal kurangnya uang. Ia juga soal rantai yang putus: petani menanam tanpa kepastian, desa menghasilkan tetapi nilai ekonominya bocor keluar, anak-anak bersekolah tetapi tubuhnya belum tentu mendapat asupan terbaik.

Dan inilah sebenarnya yang sejak lama saya bayangkan. Pada 2019, tujuh tahun lalu, saya mengusulkan gagasan makan bergizi gratis (yang kemudian saya jelaskan secara detail) untuk anak-anak yang berbasis community-driven development: digerakkan oleh masyarakat, berakar pada kekuatan lokal, menjadi pesta rakyat, bukan pesta elite. Sasaran utamanya mereka yang paling membutuhkan: daerah 3T, wilayah dengan indeks pembangunan manusia rendah, dan tempat-tempat di mana anak-anak tumbuh dalam kerentanan gizi yang panjang.

Di TTS, ketika angka stunting mencapai sekitar 56 persen, kita tidak sedang bicara statistik dingin. Kita sedang bicara tentang kemungkinan bahwa satu dari dua balita tumbuh dengan masa depan tubuh yang sudah dibatasi sejak awal.

Karena itulah kehadiran 135 petani dari Flores Timur, Kupang, TTU, dan Belu untuk mengikuti pelatihan dan magang pertanian-peternakan yang terhubung dengan MBG di TTS menjadi sangat berarti. Selama sekitar dua minggu, mereka tidak hanya datang untuk melihat-lihat.

Mereka tinggal di rumah para petani, turun ke lahan, belajar dari proses nyata: perencanaan lahan, mengerjakan lahan, membuat bedeng, pembibitan, perawatan, panen, sampai penjualan. Mereka tidak belajar dari jarak aman. Mereka menyentuh sendiri bagaimana perubahan disusun: dengan disiplin, sistem, pasar, kerja bersama, dan kesabaran yang sering tidak terlihat dalam laporan kegiatan.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari cara belajar seperti ini. Orang bisa lupa isi pelatihan di ruang kelas, tetapi sulit melupakan pengalaman bangun pagi bersama petani, mengerjakan tanah lalu menyaksikan hasil kebun bergerak menuju dapur sekolah. Di sana, ilmu tidak lagi menjadi teori. Ia menjadi ingatan tubuh. Ia masuk melalui mata, tangan, dan hati. Ia menjadi keberanian untuk pulang dan mencoba. Mungkin kelak, di desanya masing-masing, ada petani yang berdiri di depan keluarganya dan berkata pelan: kita bisa mulai lagi.

Kegiatan ini didukung penuh oleh Pemda TTS maupun Flores Timur, namun praktis tidak menggunakan pembiayaan dari Pemda. Dukungan datang dari Yayasan Plan International Indonesia, Caritas Indonesia – KARINA, GIZ dan Krisna Fundation. Bagi saya, ini penting. Perubahan seperti ini tidak bisa hanya bergantung pada satu institusi. Ia membutuhkan kerja sama, rasa saling percaya, dan orang-orang yang bersedia menjahit niat baik yang sering tersebar di banyak tempat. Saya turut membantu menghubungkan. Sebab sering kali, niat baik itu ada di mana-mana. Ia hanya butuh dijahit agar menjadi gerakan.

Di sinilah MBG tidak boleh dilihat hanya sebagai program makan. Bila dikelola dengan serius, ia bisa menjadi simpul ekonomi lokal. Anak-anak mendapat makanan bergizi. Petani mendapat pembeli yang lebih pasti. Perempuan desa mendapat ruang kerja. Anak muda menemukan peran baru dalam produksi, distribusi, pengolahan, logistik, dan manajemen. Uang tidak cepat bocor keluar daerah, tetapi berputar lebih lama di desa. Inilah pembangunan yang paling konkret: ketika kebijakan tidak berhenti di meja rapat, tetapi sampai ke tanah, dapur, meja makan, dan kehidupan keluarga-keluarga kecil.

Namun harapan seperti ini tidak boleh dibungkus dengan romantisme. Petani tidak cukup diberi semangat, lalu dibiarkan berjalan sendiri. Mereka membutuhkan pendampingan yang sabar, jadwal tanam yang tertata, standar kualitas yang jelas, kepastian pembelian, akses pembiayaan yang masuk akal, kelompok tani yang kuat, dan tata kelola yang bersih. Sebab yang paling menyakitkan bukan ketika petani tidak mau berubah. Yang paling menyakitkan adalah ketika mereka sudah mulai percaya, tetapi sistem di sekitarnya gagal menjaga kepercayaan itu.

Mungkin itulah yang membuat pesan Bang Anton terasa mengguncang. โ€œJalan keluar dari kemiskinan yang paling terjangkauโ€ ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐š๐ซ๐ญ๐ข ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ฎ๐๐š๐ก. Ia terjangkau karena sebenarnya dekat dengan kehidupan kita. Ia ada di tanah yang selama ini diinjak. Ia ada di kebun yang sering dianggap kecil. Ia ada di dapur sekolah yang setiap hari menyala. Ia ada di tangan petani yang jarang tampil di panggung, tetapi diam-diam menopang masa depan anak-anak kita.

Pada akhirnya, yang sedang kita bangun bukan hanya rantai pasok. Bukan hanya dapur. Bukan hanya program. Bukan hanya pasar. Yang sedang kita bangun adalah rasa percaya: bahwa anak-anak desa layak makan lebih baik, petani layak hidup lebih bermartabat, dan desa layak menjadi pusat masa depan, bukan sekadar halaman belakang pembangunan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perubahan itu mungkin. Di TTS, kita sudah melihat benihnya. Di Flores Timur, saya kemudian berlayar ke Pulau Solor: tanah yang sedang disiapkan bersama masyarakat, dengan harapan yang tidak kecil.

Dan di sana, hati saya terguncang.

Selama ini saya sering mendengar istilah โ€œtanah berbatuโ€ dan โ€œlahan keringโ€. Tetapi di Solor, istilah itu tidak lagi menjadi kata-kata. Ia menjadi pemandangan. Ia menjadi kenyataan yang berdiri di depan mata. Tanah keras. Batu-batu yang tersebar. Air begitu sulit. Angin yang kering. Ruang hidup yang seolah sejak awal meminta manusia bekerja lebih panjang, lebih sabar, dan lebih keras hanya untuk menumbuhkan sesuatu.

Saya terdiam, lalu menarik napas panjang. Sebab di tempat seperti itu, menanam bukan hanya urusan teknik pertanian. Menanam adalah tindakan iman. Ia adalah keberanian untuk percaya bahwa bahkan tanah yang keras pun tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Bahwa masyarakat yang hidup di atasnya tidak boleh dibiarkan menanggung keringnya masa depan sendirian.

Mungkin di situlah ujian sebenarnya dari pembangunan: bukan ketika kita bekerja di tanah yang mudah, tetapi ketika kita tetap memilih hadir di tanah yang sulit.

(Bersambung)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.