Kejadian Malam 30 September

oleh -1289 Dilihat
banner 468x60

Suara-suara agak samar di sekitar dapur membuat sang istri terbangun dari tempat tidurnya. Semula ia menduga bahwa itu suara angin yang mendesir masuk melalui lubang-lubang angin di atas jendela, atau suara dedaunan yang jatuh di atas genting, tetapi suara ini sepertinya lain. Angin malam cukup keras bertiup di akhir-akhir bulan September, kadang disertai hujan atau petir dan guntur, yang membuat aliran listrik seringkali padam selama beberapa jam.

Ia pun membangunkan sang suami yang sudah terlelap sambil menggoyang-goyangkan bahunya, “Pah, bangun… dengar suara enggak?”

Si suami terbangun dan seketika matanya terbelalak mendengar sesuatu. “Suara apa itu?”

“Mungkin ada di sekitar dapur,” bisik istrinya pelan, “tapi, terdengar seperti suara orang berjalan.”

“Ayo, bangun, periksa anak-anak di kamar depan. Apakah listrik belum nyala?”
“Belum, listrik masih mati sejak jam sebelas tadi.”

“Sekarang jam berapa?”
“Enggak tahu, mungkin sekitar jam dua pagi.”

Si suami bangun pelan-pelan dari ranjang. Ia mengisyaratkan perintah agar tak bersuara. Ia menyalakan senter pada ponsel yang tergeletak di meja. Jam menunjukkan Pk. 02.15 pagi. Sambil melangkah pelan-pelan, ia menuju lemari dan mengambil senapan yang biasa dipakainya untuk berburu celeng pada hari libur, bersama teman-teman sekantornya.

Sqementara si istri berjinjit pelan-pelan menuju kamar anak-anak, si suami sudah mengisi senapannya dengan peluru yang tersimpan di kotak lemari. Kini, senapan itu sudah siap untuk ditembakkan. Ia melangkah ke arah dapur dan menguping. Suara tapak kaki makin jelas terdengar di telinganya. Ia melihat sosok tubuh dalam keremangan, karena listrik masih belum menyala sejak tadi malam.

Seketika ia berbalik menuju kamar depan, sambil memberi isyarat pada istrinya agar menjaga anak-anak yang sedang tidur, serta mengunci pintu dari dalam kamar. Si suami bergegas melangkah menuju dapur dengan menenteng senapannya tanpa bersuara. Sosok tubuh itu terlihat membelakangi dirinya, sekitar tujuh meter dari tempatnya berdiri. Orang itu membuka kulkas pelan-pelan, dan si tuan rumah memastikan bahwa dia adalah perampok bersenjata yang biasa membobol rumah penduduk. Ketika ia menutup pintu kulkas dan berbalik ke arahnya, tiba-tiba terdengar dua kali tembakan, “Dor! Dor!!”

Dua peluru mengenai dada dan lehernya. Seketika sosok itu ambruk dan tersungkur ke lantai. Si tuan rumah menghela napas lega, meski ia tetap memutuskan untuk tak bersuara sama sekali. Si istri terperangah di dalam kamar. Ia mendengar dua ledakan seperti suara petasan di kegelapan malam pada saat listrik masih padam. Ia melirik kedua anaknya yang masih tertidur dengan lelap. Akhirnya, ia memutuskan keluar kamar, menuju ke arah dapur, seraya menyaksikan suaminya sedang berdiri sambil memoncongkan senapannya pada tubuh yang tak bernyawa itu.

“Ada apa, Pah?” tanya si istri, suaranya terdengar seperti mau menangis. “Papah enggak apa-apa, kan?”

“Tenang, Mah. Sepertinya Papah sudah melumpuhkan perampok bangsat ini!”
Si istri maju beberapa langkah, dan menyaksikan dalam keremangan tubuh seorang lelaki yang tersungkur tak bergerak.

“Dia sudah mati, Pah, waduh bagaimana ini?” kata si istri setelah menggerak-gerakkan kakinya.

“Cepat ambil karung di lemari, Mah!”
“Lemari yang mana?” tanya si istri.
“Itu di lemari kuning, ada beberapa karung besar yang biasa dipakai untuk berburu celeng. Ambil yang paling besar,” perintahnya setengah berteriak.

Setelah si istri menyodorkan karung besar itu, si suami melangkahi tubuh yang tertelungkup di lantai sambil menyepaknya, dan memastikan ia sudah tak bergerak lagi.

“Lalu, apa yang mesti kita lakukan, Pah? Menelepon polisi?”

“Apa? Kamu ini gila apa?” jawab si suami marah, “Apa kamu tega membiarkan suamimu dipenjara gara-gara bangkai perampok dan pembobol rumah ini?”
Si suami memasukkan mayat itu dalam karung besar di tengah kegelapan malam. “Ambil HP di kamar, lalu nyalakan senternya… Papah mau ikat keras-keras karung ini!” Dan mayat itu pun dimasukkan ke dalam karung masih dalam posisi tertelungkup. Darah segar keluar dari lubang tembakan di leher, menggenang di sekitar lantai.


Ada sedikit cahaya senter yang dinyalakan dari ponsel. Si suami mengikat karung itu dengan tali pandu yang dimiliki salah seorang puteranya untuk latihan kepramukaan. Setelah beres, ia menyeka keringat yang mengucur di sekitar dahinya. Istrinya terbengong-bengong menyaksikan ulah suaminya itu. Si suami segera menuju kamar dan mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana training. Ketika keluar pintu, ia berteriak membentak istrinya. “Kamu ngapain aja berdiri di situ kayak patung? Ayo cepat, ganti baju!”
“Mau kita bawa ke mana mayat ini?” tanya istrinya gemetar.

Dengan perasaan jengkel, si suamii menghardik, “Goblok amat sih kamu? Kan sungai Ciliwung hanya setengah jam dari sini?”

Si istri memandang suaminya dengan lidah kelu dan tenggorokan tercekat. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya dengan sweater dan celana berwarna gelap. Ia mengenakan sepatu olahraga yang biasa dipakainya untuk latihan bulutangkis pada minggu sore. Suaminya, setelah memastikan tak ada anak-anaknya yang terbangun, segera menarik karung itu menuju ambang pintu. Ia mengeraskan tali ikatannya sekali lagi, lalu menggeser karung itu pelan-pelan menuju pintu depan.

Setelah memastikan di depan rumah aman, ia merasa lega karena listrik masih padam dan suasana masih gelap. Hanya diterangi bulan yang menyorot agar remang menyinari bumi. “Saya mau mengeluarkan mobil dari garasi, dan kita masukkan karung itu ke dalam bagasi. Tolong bantu saya mengangkatnya, karena kita diuntungkan oleh listrik yang masih padam ini.”

“Baik,” sahut si istri dengan mulut kaku dan gemetar.

Si suami menyeret karung mendekati mobil, kemudian membuka bagasi dan mengangkatnya sama-sama untuk memasukkannya ke dalam bagasi. Tanpa berisik, si suami membukakan pintu depan dan menyuruh istrinya masuk. Setelah menutup pelan-pelan pintu garasi, ia pun menyetir mobil sedan itu dan meluncur ke arah barat menuju sungai Ciliwung. Ia melihat ke ponselnya sejenak, dan waktu sudah menunjukkan Pk. 03.15 pagi.

Selama perjalanan menuju sungai, si istri seolah diselimuti oleh suara-suara aneh yang bukan berasal dari dirinya, seakan memerintahkannya untuk bungkam dan tak usah memikirkan segala akibat dari perbuatannya itu. Ia nampak merasa lega setelah beberapa bulan lalu menitipkan bapaknya di yayasan panti jompo di kabupaten Tangerang. Karena menurutnya, si bapak yang terdaftar dengan nama lengkap “Ahmad Martawi” itu, dianggap sering mencampuri urusan kehidupan rumah-tangganya.

Lalu, ia pun sepakat dengan usulan sang suami agar menitipkan kakek berusia 76 tahun itu, setelah tiga tahun lalu ditinggal mati oleh mendiang istrinya.

Mobil berjalan pelan-pelan di sekitar jembatan sungai Ciliwung yang membujur ke arah utara. Setelah menyusuri jalan dua arah, mobil pun berhenti di sebuah tepi jurang.

“Papah yakin enggak ada orang di sekitar sini?” bisik si istri.

“Enggak usah khawatir, tikus pun enggak bakal berani nongol di tempat gelap seperti ini.”

“Tapi kalau ada mobil lewat bagaimana?”
“Gak usah takut… enggak bakal ada orang iseng jalan-jalan di sekitar sini, apalagi pada saat lampu padam seperti ini.”
Bagasi mobil dibuka pelan-pelan, sedapat mungkin supaya tidak menimbulkan suara. Si istri masih duduk tak bergeming.
“Hey, ayo turun! Saya bilang enggak bakal ada orang di sekitar sini!”
“Saya takut, Pah…”

“Saya juga takut, tapi kita harus mengangkat dan menyeretnya ke tepi sungai itu… mau bagaimana lagi?”
“Tapi semuanya ini karena kesalahan Papah. Coba kalau Papah enggak…”
“Bilang saja terus-terang kalau Papah enggak nembak… itu berarti si bangsat dalam karung ini yang akan membuang mayat kita, atau anak-anak kita ke sungai ini….”


Mereka memutuskan untuk menggelindingkan karung mayat itu melalui jurang yang menganga di tepi jalan. Kedua suami-istri itu menyusuri jalan setapak hingga mendapatkan karung itu kembali sesampainya di tepian sungai Ciliwung. “Jam berapa sekarang?” tanya si suami.

Si istri menyalakan ponselnya dan waktu menunjukkan Pk. 03.55. “Saya takut banget, Pah…,” ujar si istri dengan tubuh bergetar.

“Kamu harus tenang, jangan banyak omong,” kata suaminya kesal.

“Bagaimana kalau ada orang yang tahu?”
“Sudah saya bilang, enggak bakal ada yang tahu,” ancam sang suami. “Ayo, kita angkat dan kita lempar ke arus sungai yang mengalir itu.”

Si istri terpaksa menuruti perintah suaminya, tapi sebelumnya ia berkata lagi dengan tatapan menerawang, “Aduh, saya lupa apakah sudah mengunci pintu depan atau belum, saya khawatir anak-anak malah bangun dan mencari-cari kita…”
“Sudah, saya bilang diam! Jangan punya pikiran macam-macam, ayo cepat!”
Karung itu pun diangkat, dan si istri mengambil posisi di sebelah kaki yang agak ringan. Selepas hitungan ketiga, mereka melempar karung itu ke tengah arus sungai dengan segenap tenaga. Si suami menatap istrinya lekat-lekat dan mendapati raut gusar yang selalu membuatnya terkelu. Sesaat kemudian, mereka melihat ada pantulan cahaya dari beberapa lampu jalan yang menunjukkan listrik sudah mulai menyala.

Mereka bergegas naik ke atas sungai menuju mobil. Setelah memastikan keadaan kiri-kanan aman, mereka segera masuk dan mobil kemudian melaju ke arah timur. Suasana di sepanjang jalan terasa lengang dan senyap. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas dari arah yang berlawanan. Tak ada tanda-tanda mobil patroli dalam perjalanan pulang menuju rumah. Sementara mayat di karung sudah terbawa arus sungai, mungkin sudah beberapa ratus meter dan semakin menjauh dari tempat pembuangan.

Sesampai di rumah, tak terdengar suara apa pun. Bulan tak timbul, karena tertutup awan gelap. Anak-anak juga masih tidur. Suara azan subuh bergema dari kejauhan. Si suami memasukkan mobil pelan-pelan ke dalam garasi. Mereka menuju pintu depan, saling menyorot pandang. Suara mereka menjadi berbisik-bisik pelan, bagai kersik dedaunan yang amat lirih dan nyaris tak terdengar.

Ketika membuka pintu depan, si istri terkaget-kaget, dan baru tersadar adanya kunci menggantung di lubang kunci.
“Kunci siapa itu?” tanya suaminya heran.
Si istri memperhatikan kunci itu di bawah cahaya lampu yang sudah menyala. “Ini kunci serep,” kata si istri lirih, “tak ada yang punya kunci serep di rumah ini, kecuali Bapak yang tinggal di panti jompo di daerah Tangerang.”

Keduanya saling bertatapan terbengong-bengong. Si istri bertanya-tanya dengan suara melengking seperti suara tangis, “Apakah Papah sudah perhatikan wajah mayat yang kita buang itu?”

“Bagaimana saya bisa perhatikan? Bukankah sejak tadi malam suasana rumah gelap karena listrik mati?”
“Jadi, Papah sama sekali belum lihat mukanya?”

“Bagaimana saya bisa lihat? Bahkan, ketika mayat itu saya masukkan ke karung, dia masih dalam posisi telungkup.”

Keduanya saling terdiam membisu selama beberapa waktu. Ketika matahari mulai naik sekitar Pk. 06.30 pagi, suara ponsel berbunyi. Itu suara seorang petugas dari panti jompo di Tangerang yang mengabarkan bahwa seorang anggota panti telah kabur dari kamarnya sejak tadi malam, pada saat listrik padam sekitar Pk. 11.30.

“Sebelum kami laporkan ke pihak kepolisian, kami ingin konfirmasi keluarga dulu, apakah Bapak pulang ke rumah sejak tadi malam?”

“Bapak siapa?” tanya si istri.
“Bapak Ahmad Martawi. Apakah Ibu ini puterinya yang tinggal di Jakarta?”
“Ya, betul, Pak.”

“Apakah Bapak pulang ke rumah pada tengah malam? Sepertinya beliau membawa kunci serep rumahnya yang disimpan di kotak panti.”

Si suami terbengong-bengong dengan tatapan melotot, sementara si istri tersungkur ke lantai, dan jatuh pingsan. ***

Oleh: Alim Witjaksono,
Penulis adalah pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai harian nasional, cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.