Meneladani Ketaatan Iman dan Pemuridan Maria sebagai “Jembatan Ekumene” di Flobamora

oleh -62 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Petrus Giavano Obazin Missa

Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah masyarakat yang dikenal luas dengan kehidupan yang ramah, damai, dan yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dalam hal ini toleransi. Kepribadian-kepribadian masyarakat ini secara eksistensial lahir dari dasar iman yang kuat. Di mana iman yang sangat kental dalam kehidupan masyarakat NTT adalah mayoritas Kristen, baik itu Katolik maupun Protestan. Dengan demikian, tanpa disadari hal inilah yang membentuk karakter setiap individu karena selalu berlandaskan pada hukum cinta kasih.

Sehingga meskipun mendiami daerah yang bersifat kepulauan, tetapi tetap bersatu dalam naungan filosofi Flobamora (Bersatu dalam keberagaman). Meskipun kendati demikian tidak dapat dipungkiri pula bahwa semua kebanggaan akan status yang diberikan sebagai daerah toleransi tingkat tinggi, harus menerima kenyataan pahit dengan praktek sosial yang dialami dengan kehadiran public figure yang bersembunyi di balik layar institusi iman untuk memperdalam jurang pemisah dengan berlandaskan pada argumen-argumen semu.
Hal ini semakin tampak jelas di tengah perkembangan arus globalisasi ini.

Kehidupan masyarakat Flobamora semakin mengalami kemerosotan dan kehilangan kontrol diri dari yang seharusnya memelihara keragaman justru semakin memperlebar jurang pemisah. Dimana, dalam kehidupan kristiani yang seharusnya tidak terlepas dari jati diri dan identitasnya, justru semakin terlena dengan kenyaman kelompok pribadi-keluar dari ketaatan ekumene dengan mengesampingkan dan mengusik kestabilan kelompok lainnya. Hal ini sangat tampak dengan fenomena yang terjadi di media sosial belakangan ini.

Dimana orang-orang mulai membangun suatu sistem polemik sebagai kreator konten dalam mengupload platform-yang tidak lagi merupakan suatu dukungan dalam hidup beriman di tengah keberagaman, tetapi saling mempersalahkan dan menjatuhkan satu sama lain-jauh dari contoh pemuridan yang sejati. Tidak lagi mau membangun dialog yang lebih intens antara lintas agama dengan memanfaatkan kehadiran media sosial sebagai tempat pewartaan yang lebih memadai juga dalam membangun jembatan ekumene yang lebih memadai, akan tetapi kehadiran sarana digital seakan justru semakin menjadikan wajah institusi keagamaan sebagai panggung debat. Akibatnya merusak keharmonisan kehidupan toleransi yang telah dibangun.

Mulai dari panggung kreator menjadi panggung debat, yang memperpecah-belah kekhasan daerah yang taat pada kehidupan toleransi dan merusak citra diri kemuridan kristiani. Dalam membaca arus problematika yang terjadi ini, peranan Maria yang adalah sosok typos gereja, merupakan argumen yang sangat tepat dan strategis dalam melihat lebih jauh kedalaman ketaatan iman Maria dan posisi Maria sebagai murid yang pertama dalam membangun “jembatan ekumene”. Hal ini tampaknya akan memicu banyak perdebatan dari kedua belah pihak Kristen. Tetapi mari kita terlebih dahulu melihat gagasan-gagasan pokok yang menjadi kunci.

Pertama, dapat kita ketahui bahwa Maria merupakan teladan yang sangat baik bagi kita insani manusia dalam menanggapi anugerah dan rahmat dari Allah dengan kesetiaan yang senantiasa taat. Hal ini tampak juga dalam teologi Protestan yang sangat berpegang pada sola fide (hanya pada iman), yang apabila dalam menampilkan esensi utama, ketika Maria mengatakan “jadilah padaku menurut perkataanmu” (Lukas. 1:38). Yang mana Maria mau menunjukkan ketaatannya dalam mendengar dan menerima tanggung jawabnya sebagai murid pertama dan tabut perjanjian yang baru.

Juga dalam teologi Katolik dikenal dengan Fiat Maria yang adalah momentum penyerahan diri secara total kepada Allah. Juga dapat ditambahkan kesetiaan Maria dibawah kaki salib (Yohanes 19:25). Maria yang setia menunjukkan kemuridan sejati yang tidak melarikan diri seperti para murid lainnya karena ketakutan. Tetapi kesetiaan hingga darah penghabisan. Untuk itu, menjadi jembatan ekumene bukan hanya hadir sebagai figur yang mau memperdebatkan tentang siapa yang lebih mencolok dan tentang siapa yang lebih menarik dalam beretorika di panggung kreator. Tetapi siapa yang hadir dengan ketaatan tanpa publik dan kemuridan tanpa pengakuan.

Kedua, menjadikan pemuritan Maria, dalam menggeser paradoks yang menjembatani. Sehingga kekristenan bukan lagi dua peserta debat, tetapi dua saudara yang kembali merangkul. Maka, meneladani sosok Maria, sebagai murid Kristus dalam persepsi Protestan, tidak akan mengganggu prinsip solus Christus (hanya Kristus). Dimana melihat Maria sebagai teladan iman merupakan hal yang berdasar pada alkitabiah. Juga dapat digarisbawahi bahwa Maria tidak mengambil disposisi atau bahkan menggantikan kedudukan Kristus, tetapi sebaliknya Maria mengarahkan semua kita kepada Kristus.

Pendekatan ini tidak menjadi suatu kekurangan bagi disposisi Maria dalam perspektif Katolik, sebab hal ini justru mengembalikan peranan Maria dalam alkitabiah. Dimana keagungan Maria justru terletak di pemuridan imanNya.
Maka demikian, sebagai bentuk konkret yang nyata dalam kehidupan perwujudan teladan Maria sebagai jembatan ekumene.

Perlu diadakannya suatu gerakan yang terus melestarikan ekumene dengan contohnya mendekatkan diri pada keteladanan iman Maria yang terbuka kepada kehendak Allah. Membangun jembatan ekumene dengan tinggal bersama Maria mengartikan bahwa semua orang harus turut mengambil bagian dalam kehidupan pemuridan Maria. Hidup dalam pelayanan, ketaatan, merenungkan firman, solider, saling mendoakan dan menjadi murid yang setia. Dengan begitu, dapat berakhirlah rantai perselisihan yang senantiasa menjadi jurang pemisah.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.