Prank dan Selera Humor Sahabat Nabi

oleh -787 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Kisah yang bersifat lelucon (prank) antara Ukasyah dengan Rasulullah menjelang wafatnya, hanya mungkin dilakukan oleh seorang Sahabat yang memiliki selera humor tinggi. Apa yang dilakukan Ukasyah, yang membuat para sahabat lain merasa jengkel dan dongkol, selaras dengan anekdot atau lelucon yang sering dilakoni sahabat Nabi lainnya (seperti Nu’aiman) dengan beragam adaptasi oleh banyak penulis biografi Rasulullah.

Oleh karena itu, izinkan saya menulis dalam versi tersendiri, terkait wasiat terakhir Rasulullah yang disampaikan kepada ratusan sahabat yang berkumpul di Masjid Nabawi, setalah Bilal bin Rabah mengumumkan undangan atas kehadiran mereka.

Saat itu, Rasulullah melangkah perlahan masjid yang tak jauh dari kediamannya menuju. Mata sayu dan wajahnya agak pucat, memerhatikan para sahabat dengan penuh perhatian, mencurahkan rasa rindu setelah sekian lama tak berjumpa, karena kondisinya yang lemah dan masih sakit.

Rasulullah duduk pelan-pelan di atas mimbar, seolah menahan rasa sakit, kemudian matanya berputar menatap para sahabat sambil bertanya: “Wahai sahabatku semua, ingat pernah saya sampaikan kepada kalian, bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang layak kalian sembah?”

Para sahabat serentak menganggukkan kepala sambil menjawab: “Ya benar, hanya Allah Yang layak disembah, ya Rasulullah.”

“Baik, kalian sudah mengerti.”

Rasulullah menghela nafasnya, berbisik pelan seolah sedang berkomunikasi dengan Rabbul Alamin : “Persaksikan ya Allah, saya sudah menyampaikan kepada mereka semua.”

Lalu, sampailah pada satu pernyataan yang membuat para sahabat merasa pilu dan sedih, ketika Rasulullah mengangkatnya dengan berkaca-kaca: “Wahai sahabatku, sudah waktunya aku berpisah dengan kalian, dan harus kembali kepada Allah.Tetapi sebelumnya, saya harus menyelesaikan urusan saya dengan manusia, sekiranya saya pernah berutang kepada salah seorang di antara kalian. Saat ini, saya akan menyelesaikan hutang saya kepada kalian, sebelum saya berjumpa dengan Allah. Untuk itu, saya akan bertanya pada kalian semua, saya memiliki kepada kalian?”

Seketika para sahabat mendengarkan dan merasa terenyuh. Dalam hati mereka ingin mengakui bahwa Rasulullah sama sekali tidak memiliki hutang apa pun kepada mereka, tetapi justru merekalah yang memiliki banyak hutang budi dan jasa kepada Rasulullah.

Karena para sahabat saling memikirkan, maka pertanyaan itu diulang sampai tiga kali: “Adakah saya memiliki hutang kepada salah seorang di antara kalian?”

Seorang sahabat bernama Ukasyah yang tampaknya kurang banyak dikenal, dan bukan sekelas Abu Bakar yang populer, Umar bin Khattab yang tenar, bahkan bukan tergolong saudagar yang kaya-raya seperti Utsman bin Affan, bukan tergolong ahlul bait sekaliber Ali bin Abi Thalib, tiba-tiba mengangkat tangan, lalu berkata: “Ya Rasulullah, saya kurang paham juga masalah ini diminta atau bukan. Jika apa yang saya alami ini dianggap ‘hutang’ maka saya minta Rasulullah agar menyelesaikannya sekarang juga.Tetapi, jika hal ini bukan termasuk hutang, maka sebaiknya kita melupakannya ya Rasulullah.”

“Baik, sampaikan sekarang, wahai Ukasyah,” dengan bijak Rasulullah mempersilakan Ukasyah agar menjelaskan duduk perkaranya.

Semua yang memunculkan mata bersinggungan dengan sahabat yang sepertinya bukan tergolong sahabat dekat Rasulullah. Siapakah Ukasyah ini? Bapaknya bernama Mihshan dari Bani Asad? Siapakah pula dia itu?

Sebagian mata para sahabat mendelik dan merasa jengkel, tetapi Ukasyah dipersilakan oleh Rasulullah untuk berdiri dan mengungkapkan keluhannya: “Mulailah, kejadiannya waktu Perang Uhud, ketika Rasulullah memukulkan cambuk ke belakang kuda, namun pukulannya sama sekali tidak mengenai kuda tetapi justru mengenai dada saya. Jadi, waktu itu saya sedang berdiri di belakang kuda yang muda tunggangi ya Rasulullah.”

Rasulullah memahami dengan mata terpejam, kemudian beliau membuka pelupuk matanya sambil berkata, “Walaupun kejadian itu tidak disengaja, tapi engkau benar Ukasyah… itu pun termasuk hutang juga.”

Rasulullah mengingat-ingat sesuatu, kemudian memerintahkan Bilal agar mengambil cambuk miliknya di rumah puterinya Fatimah, sambil berkata pelan, “Kalau hutang saya berupa pukulan cambuk, maka hari ini saya pun harus menerima dengan pukulan cambuk yang sama.”

Sebagian sahabat merasa gusar dan jengkel pada Ukasyah. Orang-orang di sekelilingnya saling berbisik, “Apa-apaan Ukasyah ini? Apakah dia akan mencambuk Rasulullah? Bukankah dia sedang sakit?”

Ketika Bilal meminta cambuk di rumah Fatimah, sontak Fatimah terperanjat kaget saat Bilal menceritakan duduk perkaranya. “Kenapa Ukasyah tega melakukan itu? Bukankah Ayah sedang sakit?” Namun, karena perintah itu datangnya langsung dari Rasulullah, Fatimah tak berkuasa untuk menolaknya seraya menyodorkan cambuk itu.

Reaksi Para Sahabat

Bilal melangkah menuju Masjid Nabawi sambil menenteng cambuk. Para sahabat melihat dari pertemuan dengan ditemukannya nanar. Sebelum cambuk itu sampai di tangan Ukasyah, Abu Bakar mendekati Ukasyah sambil menegurnya, “Ukasyah, kau kenal aku sebagai sahabat dekat Rasulullah. Saya selalu bersama dia di saat suka maupun duka. Kalau kau mau mencambuk dia, lebih baik kau mencambuk saya sekarang juga.”

Rasulullah melihat adanya kegusaran pada wajah Abu Bakar, namun ia menyudahi pembicaraannya saat Rasulullah memerintahkannya agar duduk di tempat.

Kini, cambuk itu sudah berada di tangan Ukasyah. Rasulullah mempersilakan Ukasyah agar berjalan mendekati mimbar. Namun lagi-lagi, Umar bin Khattab menghalangi langkahnya sambil berujar: “Ukasyah, dulu saya pernah menentang Rasulullah, bahkan pernah punya rencana menyakitinya, tapi sekarang siapa yang akan coba-coba menyakitinya? Orang itu harus berhadapan dengan saya, termasuk kau Ukasyah. Ayo, cambuklah saya… cambuklah saya sekarang juga, hai Ukasyah!” Teriak Umar bin Khattab.

Suasana begitu tegang. Para sahabat semakin cemas, namun kemudian tenang dan senyap setelah Rasulullah menegur Umar agar segera duduk kembali.

Ukasyah melangkah pelan mendekati mimbar, lalu Ali bin Abi Thalib mengamit lengannya sambil berbisik, “Ukasyah, darah daging Rasulullah mengalir ke dalam diriku, sekarang lebih baik kau cambuk aku daripada menyakiti Rasulullah…”

“Lebih baik kau diam, wahai Ali… urusan utang-piutang ini hanya antara diriku dan Ukasyah.”

Tinggal beberapa langkah lagi Ukasyah mendekati Rasulullah. Tiba-tiba, kedua cucu Rasulullah, Hasan dan Husein bangkit sambil memegangi tangan Ukasyah: “Paman Ukasyah… jangan cambuk Kakek kami, Paman… jangan cambuk dia… kalau Paman menyakiti Kakek berarti Paman juga menyakiti kami….”

Rasulullah menegur kedua cucunya dengan lembut, kemudian beliau memerintahkan keduanya agar duduk di tempat.

Begitu mendekati tangga mimbar, suasana semakin tegang dan senyap. Rasulullah meminta disediakan kursi, hingga beliau turun dari mimbar kemudian pelan-pelan duduk di atas kursi yang disediakan.

Masih ada satu permintaan Ukasyah, yang membuat suasana begitu lengang mencekam, dan sebagian sahabat merasa dongkol setengah mati. Dengan suara serak dan pelan, Ukasyah meminta satu undangan kepada Rasulullah, “Dulu, saat saya terkena cambuk, tubuh saya dalam keadaan bertelanjang dada.”

Perlahan Rasulullah membuka bajunya. Tubuhnya agak macet karena demam yang sedang dideritanya. Tatapan mata yang nanar dan geram membuat suasana semakin menegangkan. Tetapi, tak ada seorang pun sahabat yang berani mendekati Ukasyah, karena kepatuhan dan ketaatan mereka kepada perintah dan anjuran Rasulullah.

Kini, dalam keadaan bertelanjang dada, ketika Rasulullah menutup matanya, dan cambuk siap dilayangkan ke tubuhnya, tiba-tiba Ukasyah mengayunkan itu ke samping, sambil menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Rasulullah: “Maafkan saya, ya Rasulullah… ampunilah saya… sejak dulu saya bercita-cita memeluk tubuh Rasulullah… dan sekaranglah kesempatan bagi saya untuk melakukannya. saya….”

Para hadirin terperangah dan menghela nafas dalam-dalam. Mereka duduk dengan tenang, seolah terbebas dari beban yang teramat berat. Sambil tersenyum menghadap hadirin, Rasulullah berkata singkat: “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat seorang ahli surga, maka lihatlah Ukasyah ini!”

Semua sahabat menitikkan air mata. Setelah Ukasyah melepaskan pelukannya, kini giliran para sahabat bergantian memeluk Rasulullah, sebagai tanda perpisahan antara Sang Rasul (khatamul anbiya) dengan umat yang sangat dicintainya.

Selera Humor

Selera humor Ukasyah sehaluan dengan lelucon konyol yang sering dilakoni Nu’aiman bin Rufa’ah, baik yang dilakukan kepada Nabi maupun kepada sahabat lainnya. Itulah yang membuat Rasulullah pernah memberikan hiburan tersendiri kepada Nu’aiman, dengan sabdanya: “Nu’aiman itu akan masuk surga sambil tertawa.”

Terkait dengan humor dan anekdot yang dipertontonkan Nu’aiman, hingga para sahabat tertawa terpingkal-pingkal, di antaranya peristiwa yang dialami bersama Suwaibith, salah seorang sahabat karibnya.

Dalam buku “Kisah Inspiratif Sahabat Nabi”, M. Nasrullah menjabarkan perlakuan konyol yang diperbuat Nu’aiman, ketika memperlakukan Suwaibith sebagai budak belian, lalu dengan sengaja menjualnya di pasar budak. Kisah ini diawali dalam suatu perjalanan bersama Abu Bakar, ketika Nu’aiman merasa jengkel pada Suwaibith, karena ia tak diberi makanan olehnya pada saat perutnya merasa lapar.

“Kita tunggu Abu Bakar dulu, baru kemudian kita makan bersama-sama,” ujar Suwaibith sambil berteduh di bawah pohon.

Saat kelaparan melanda, Nu’aiman berjalan menuju suatu pasar budak, sambil melihat-lihat orang yang sedang bertransaksi dengan jual-beli budak. Nu’aiman mendekati seorang pedagang budak yang gemuk, lalu mengatakan kepadanya bahwa dia memiliki seorang budak yang akan dijualnya dengan harga 10 ekor unta. Pedagang yang sedang membutuhkan budak itu kontan membayar 10 ekor unta, meski kemudian Nu’aiman diberitahu: “Nanti budak itu ngotot mengaku dirinya orang merdeka. Karena itu, langsung saja ikat dan bawa, jangan hiraukan apa yang dikatakannya.”

Nu’aiman mengantarkan pedagang itu, kemudian dari kenyamanan dia memberikan isyarat bahwa budaknya sedang berteduh di bawah pohon rindang itu. Kontan saja Suwaibith berteriak dan meronta-ronta, bahwa dirinya bukan budak. “Apa-apaan ini? Saya ini orang merdeka…saya ini orang merdeka…!”

Si pedagang marah, karena ia telah memberikan 10 ekor unta kepada Nu’aiman. Di sisi lain, Nu’aiman tampil dengan penuh percaya diri, berjalan mondar-mandir di sekitar pasar budak, bersama dengan untanya.

Setibanya Abu Bakar kembali menemui keduanya, kontan ia dikejutkan dengan cerita dari orang-orang yang menyatakan bahwa Nu’aiman telah menjual temannya sendiri. Abu Bakar perumahan menuju pedagang dan Nu’aiman di pasar budak, yang tampak sedang duduk santai sambil uncang-uncang kaki. Saat itu juga, si pedagang kembali menyerahkan Suwaibith kepada Abu Bakar sambil menukarnya kembali dengan 10 ekor unta yang sudah memahaminya.

Lelucon dan kejahilan yang dilakoni Nu’aiman pernah juga dialami langsung bersama Rasulullah, ketika Nu’aiman menyodorkan roti kepada Rasulullah sambil mengatakan bahwa itu adalah hadiah darinya. Rasulullah meminta Nu’aiman agar duduk bersama, sebelum menikmati roti yang tampaknya cukup enak dan nikmat itu.

Nu’aiman memandang nampan roti dengan santai. Namun, tak berapa lama, tiba-tiba muncul seorang pedagang mendekati Rasulullah dan meminta pembayaran roti yang telah diambil oleh Nu’aiman tadi.

“Lho? Bukannya roti ini hadiah dari kamu, Nu’aiman?”

“Iya, itu hadiah… tapi belum dibayar ya Rasulullah…”

Kontan Rasulullah tertawa sambil membayarkan roti itu, kemudian mengajak Nu’aiman untuk duduk bersama sambil menikmat roti yang masih hangat itu. (*)

Penulis adalah Peneliti kenangan sejarah, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.