DALAM hidup bersama, penilaian baik atau buruk terhadap seseorang, tidak hanya dilihat dari apa yang dikatakannya, melainkan dari apa yang diperbuatnya. Seseorang yang hanya bicara tanpa melakukan aksi, akan dipandang remeh dibandingkan dengan orang yang sedikit berbicara tetapi melakukan banyak hal. Kata-kata indah yang dirangkai seseorang, akan kalah dengan perbuatan kasih yang tulus dari orang lain. Kualitas hidup seseorang tampak dalam tindakan nyata, kasih dan kebaikannya. Seseorang yang baik dan berkualitas, tercermin dari sikap dan tindakannya yang baik dan berkualitas juga.
“Kamu tidak berbuah jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”, demikian sabda Yesus hari ini dalam injil Yohanes 15:1-8. Yesus menyatakan diriNya sebagai pokok anggur dan kita sebagai rantingnya. Sama seperti ranting tidak bisa hidup dari dirinya sendiri, demikian pun kita tidak bisa hidup di luar Yesus. Sebagai ranting, kita hendaknya melekat pada Yesus, Sang Pokok Anggur sejati agar mampu menghasilkan buah berlimpah. Yesus, pokok anggur sejati, memberi hidup kepada setiap ranting yang melekat padaNya.
Melekat pada pokok berarti bersatu di dalam Kristus, hidup bersama Yesus dan menghidupkan Yesus, Sang Sabda yang telah menjadi manusia. Ranting yang melekat pada pokok, akan berbuah limpah. Hidup di dalam Kristus dan bersama Kristus, tentu akan menghasilkan buah-buah rohani yang berlimpah.
Ada cinta, kasih dan kebaikan yang dihasilkan demi kemuliaan Bapa. Bapa yang adalah pengusahanya, akan memangkas ranting yang bisa menghasilkan buah agar berbuah lebih banyak lagi. Hidup bersama Kristus bukan tanpa penderitaan. Hidup kita dipangkas oleh Bapa sendiri. Dipangkas dari cinta diri, kesombongan, ketamakan, kebencian, hawa nafsu dan buah-buah yang tidak baik.
Teladan hidup bersekutu dengan Yesus, ditunjukan oleh jemaat perdana dalam Kisah Para Rasul 15:1-6. Persekutuan jemaat perdana tidak luput dari konflik. Dalam pemberitaan injil, baik oleh Paulus dan Barnabas maupun oleh para murid yang lain, muncul konflik. Kelompok Paulus dan Barnabas dengan keras mengatakan injil harus diwartakan kepada semua bangsa, yang berarti sukacita kebangkitan Yesus harus diberitakan juga kepada orang-orang di luar bangsa Yahudi. Sebaliknya para murid dari Yudea dengan tegas mengedepankan perihal tradisi sunat yang diwariskan oleh Musa.
Namun yang menarik adalah penyelesaian konflik. Konflik yang terjadi tidak serta merta menimbulkan perpecahan di antara mereka. Ada diskusi yang dibangun untuk kedua belah pihak. Konflik yang terjadi kemudian diselesaikan secara bersama-sama, tanpa menghakimi satu sama lain. Inilah bukti dari buah-buah yang dihasilkan jika kita bersekutu dengan Yesus. Ada pengendalian diri, ada ruang dialog yang dibangun dan juga ada kesempatan untuk saling mendengarkan.
Sebagai orang beriman yang hidup di jaman sekuler saat ini, kita dituntut untuk mampu menghasilkan buah-buah yang baik dan berkualitas. Hidup bersama Kristus adalah hidup di dalam firmanNya, membiarkan diri dipangkas, dibersihkan dari kerapuhan manusiawi kita berupa dosa. Mari kita menghayati persekutuan kita dengan Kristus, melalui perbuatan-perbuatan baik. Mari menghasilkan buah-buah yang berkualitas seperti persaudaraan, kerendahan hati, cinta kasih dan pengampunan, agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Bapa di Surga.
Renungan Hari Rabu, 6 Mei 2026
Oleh: Magdalena Hokor







