Cinta dalam Cengkeraman Finansial

oleh -1444 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Antonius Guntramus Plewang

Panorama kisah cinta dari waktu ke waktu selalu dibingkai dengan berbagai persoalan yang berbeda-beda. Di zaman ini, nuansa romantis para pasangan lenyap seiring munculnya berbagai tekanan yang berupaya memisahkan mereka. Kata ‘cinta sejati’ seakan menjadi kiasan yang sekadar lewat secara meriah lalu hilang menyisakan air mata.

Kisah Cinta Klasik

Sejarah cinta selalu melibatkan drama konflik dan tragedi. Sekalipun hubungan cinta itu kebanyakan berakhir bahagia (happy ending), tetapi pergulatan untuk mencapai titik itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebagai misal, drama tragedi yang terkenal karya William Shakespeare tentang Romeo dan Juliet. Kisah ini begitu menyejarah dan menjadi inspirasi akan makna cinta sejati.

Demi membongkar sekat permusuhan antar-keluarga, mereka berdua memilih mati bersama dengan membawa rasa cinta yang sama. Selain itu, ada Rama dan Shinta yang menjadi cerita legendaris dari mitologi Hindu. Kisah mereka memuat banyak tantangan, tetapi mereka menunjukkan kepada dunia akan nilai kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian. Dan masih banyak kisah cinta lain di belahan dunia yang seharusnya menjadi inspirasi bagi pasangan zaman ini.

Namun, ada pula potret kisah cinta yang penuh intrik. Siapa yang tak mengenal kisah cinta Cleopatra, Ratu Mesir yang dikenal dengan kecantikan dan kecerdasannya. Dia memanfaatkan kelebihannya untuk menjalin hubungan asmara dengan Julius Caesar yang saat itu menjadi salah satu penguasa terkuat dalam kerajaan Romawi. Pada masa di mana Cleopatra mengalami krisis kekuasaan dalam kerajaan Mesir, dia menjadikan Julius Caesar sebagai sarana untuk memperkuat kembali kekuasaannya. Saat Julius Caesar mati terbunuh, Cleopatra kembali menjalin hubungan dengan Mark Antony (salah satu orang kepercayaan Julius Caesar dalam kerajaan Romawi) untuk menyelamatkan dirinya dari gejolak politik. Tak bisa dimungkiri, cinta mereka melulu diseret pada tataran intrik politik. Gambaran cinta seperti ini tidak menutup kemungkinan sedang marak terjadi di zaman kita.

Relasi Cinta Modern

Persoalan kisah cinta modern tak pernah luput dari yang namanya tata finansial atau ekonomi, perselingkuhan, dan kekerasan. Namun, salah satu faktor yang paling menentukan ialah masalah finansial. Segala bentuk cinta mau tidak mau harus berurusan dengan tata kelola uang. Logika ekonomi kian menggerogoti para pasangan sehingga momen-momen romantis dan penuh asmara dianggap usang dan bukan tujuan.

Apabila ditelisik secara lebih dekat, kini kecakapan finansial menjadi syarat pertama seseorang untuk menemukan pasangan cintanya. Orang yang belum mapan secara ekonomi “dilarang” mencintai, karena dinilai belum mampu untuk menghidupi orang lain. Banyak kisah cinta tragis di mana seseorang ditinggalkan oleh pasangannya karena miskin atau belum mapan dan memilih pergi bersama orang yang menurutnya lebih kaya dan punya kuasa.

Relasi cinta dunia modern juga cenderung mengalami banyak tekanan dari pihak keluarga (Beck, 1995). Keluarga seolah-olah memiliki otoritas khusus yang mampu mengatur pasangan hidup seseorang. Standar yang dipasang oleh keluarga kerap terlampau tinggi sehingga dalam banyak kasus, seseorang harus mundur dari relasi percintaannya karena mendapat banyak tuntutan. Pada titik ini pula, kecakapan finansial menjadi prioritas keluarga. Mereka kerap mengimpikan anaknya bisa hidup dengan pasangan yang memiliki kecakapan fnansial yang sangat baik. Oleh karena itu, banyak pasangan yang merupakan hasil perjodohan dari status sosial keluarga yang sama. Percintaan diubah menjadi aliansi sosial antar kelas baik ningrat maupun konglomerat. Semuanya demi mempertahankan gelanggang kekayaan yang telah diwariskan keluarga.

Lantas, sekalipun tidak sesuai dengan apa yang dicintai oleh si anak, dengan terpaksa ia harus menerimanya demi kebaikan keluarga. Perlawanan terhadap keluarga hanya memperumit masalah yang ada. Akhirnya, perjodohan atau pernikahan yang ada, berlangsung sebagai tanda konvensional bukan tanda alamiah bahwa keduanya saling mencintai. Fondasi cinta yang semestinya menopang pasangan itu dibiarkan luput asalkan ekonomi menunjang hidup (Illouz, 2007).

Memang tidak bisa disangkal bahwa stabilitas ekonomi dapat membantu mereka untuk mencapai hidup yang sejahtera. Siapapun pasti menginginkan situasi hidup yang kondusif dan sejahtera yang terlepas dari jerat kemiskinan. Pasangan yang terlalu fokus untuk membangun relasi asmara yang berkualitas dapat memicu ketimpangan. Artinya, kesejahteraan hidup sebagai pasangan harus didasari pada dua aspek yang seimbang, kualitas hubungan dan kemandirian ekonomi.

Momentum Reflektif

Kasus-kasus percintaan seperti perselingkuhan dan kekerasan sejatinya dapat diatasi dengan memperhatikan dua kualitas itu. Ada pasangan yang kaya raya, tetapi nilai kesetiaan sulit ditemukan akibat perselingkuhan dan pengkhianatan. Adapun yang keduanya saling mencintai dan banyak menghabiskan waktu bersama setiap hari, tetapi tanggung jawab ekonomi untuk menghidupi kebutuhan harian diabaikan. Tak heran, banyak kekerasan yang terjadi pada para pasangan buntut mengalami krisis finansial.

Di tengah carut marut dunia percintaan saat ini, semestinya Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang yang diperingati sepanjang bulan ini menjadi momentum tepat untuk direfleksikan. Makna cinta yang perlahan-lahan mulai pudar perlu diperjelas lagi dengan memprioritaskan dua aspek itu.

Keseimbangan antara kualitas hubungan yang romantis dan kecakapan finansial dapat menutup ruang pertikaian yang sering terjadi pada para pasangan. Dua aspek tersebut merupakan fondasi agar makna cinta bisa ditemukan serentak kebutuhan hidup tetap diperhatikan. Kedua hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama.

Makna cinta sejati perlu ditempatkan kembali pada ruangnya. Cinta sejati itu berpusat pada ketulusan hati antar-pribadi yang dengan setia menjalankan tanggung jawabnya untuk saling menghidupi (Fromm, 1956). Cinta yang hanya berpatokan pada kecakapan finansial atau pada kualitas kemesraan saja tentu mengalami ketimpangan. Cinta tak bisa berat sebelah. Oleh karena itu, permenungan tentang cinta harus dimengerti secara lebih rasional dan bukan perasaan semata. Ini menyangkut kehidupan orang lain, kesejahteraan para pasangan menjadi jaminan untuk keturunan mereka di masa yang akan datang.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.