Orang Tua, Pesantren dan Al-Quran Tua

oleh -2042 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Achmad Faisal Hadziq

Etika otonom yang dilakukan Uwais Al-Qarni tampak berseberangan dengan para sahabat Nabi yang hijrah menuju Madinah. Ia adalah tabi’in yang hidup semasa dengan Rasulullah, lahir di Desa Qarn, perbatasan Arab Saudi dan Yaman. Ia mencintai Rasulullah, namun karena ia disibukkan mengurusi ibunya di hari senja, ia sempat mengikuti perjalanan Rasulullah bersama sahabat lain, untuk hijrah dari Mekah ke Madinah.

Uwais Al-Qarni bukan tipologi sahabat Nabi yang mengalami eforia atas kemenangan Perang Badar, juga bukan seorang terkenal dan cerdas, sehingga tak banyak memberikan fatwa-fatwa keagamaan bagi para sahabat lainnya. Ia hanyalah seorang pemuda biasa yang berbakti kepada ibunya yang lumpuh, serta mampu memenuhi harapannya untuk melaksanakan ibadah haji ke kota suci Mekah. Atas pengabdian dan baktinya kepada orang tua, Uwais akhirnya dikenal sejarah bukan karena aksi heroik dan kepahlawanannya, melainkan karena kualitas amal salehnya.

Ia pernah melatih kekuatan otot di sekitar bahu dan bahunya, bukan untuk ketangguhan berkuda, memanah atau menombak, juga bukan untuk estafet atau ketangkasan dalam kompetisi olahraga. Tetapi, otot yang sudah kuat dipakai untuk memenuhi harapan terakhir ibu yang lumpuh, hendak menunaikan ibadah haji ke kota suci Mekah. Dalam catatan sejarah, kitab Al-Wafi dari Safadi menjulukinya sebagai sahabat Nabi yang tak dikenal di muka bumi, tetapi ia sangat dikagumi oleh penduduk langit. Pernyataan ini dipertegas pula oleh Syekh Nawawi dalam karya monumentalnya, “al-Minhaj bi Syarh Shahih Muslim”.

Terkait dengan kebaktian pada orang tua, pengasuh Ponpes La Tansa Pusat (Cipanas), KH Adrian Mafatihullah Kariem mengulas lebih dalam lagi dalam pemikiran yang ditanamkan oleh Hafis Azhari dalam buku “Al Quran Tua, Kekuatan Birrul Walidain” (2014). Itulah buku yang membuat kiprah Kiai Adrian tercatat dalam sejarah, karena mampu memberikan motivasi kepada ribuan penghargaan di lapas-lapas Banten, hingga puluhan lembaga pendidikan dan kampus-kampus perguruan tinggi.

Motivasi yang disampaikan kepada generasi milenial, terkait penghargaan dan penghormatan (ta’dzim) kepada kedua orang tua, merupakan tugas mulia sebagai hamba Tuhan sekaligus khalifah di muka bumi. Semangat yang gigih dari teladan Kiai Adrian, kiranya dapat menjadi uswah hasanah bagi lembaga pendidikan manapun, sehingga dapat memberikan solusi bagi maraknya liberalisasi pendidikan di era distraksi dan persaingan viralitas ini. Degradasi moral yang menimpa anak-anak bangsa adalah akibat dari longsoran peradaban yang membuat jurang pemisah antara orang tua dan anak, bahkan guru dan para muridnya.

Fenomena kebudayaan liberal yang diterapkan secara masif, bahkan merambah dunia metropol hingga daerah-daerah, tentu bukan hasil dari hukum kodrat manusia, tetapi ia merupakan grand skenario demi kepentingan iklim kapitalisme, seolah-olah tanpa menganut agenda yang diprogramkan budaya ekonomi mereka, sistem pendidikan di lembaga Islam seakan berjalan dengan baik.

Padahal, lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren La Tansa, Daar el-Qolam, Al-Bayan, dan ribuan pesantren di pelosok negeri ini tetap bertahan dan berjalan selama berabad-abad. Di beberapa pesantren modern di daerah Rangkasbitung, justru menampung anak-anak suku Baduy yang dididik melalui pola asuh yang diterapkan, hingga mereka mampu berbahasa Inggris dan Arab, sambil tetap berpedoman pada keluhuran budi pekerti, keikhlasan, kemandirian, dan sikap hormat kepada orang tua.

Jasa baik orang tua tak diukur dengan nilai kebaikan apapun yang diberikan kepada seorang anak. Bahkan, terdapat doa yang mengidentikkan kasih sayang Allah ibarat mengasuh kedua orang tua hingga sewaktu anaknya bayi: “Wa irhamhuma kama rabbayana shagira” (Berilah kasih sayang kepada kedua orang tua kami, sebagaimana mereka memberikan rasa sayang kepada kami sejak masih kecil).

Untuk itu, kreativitas intelektual bagi seorang anak-didik belum cukup, namun harus konsekuen mengamalkan nilai-nilai akhlak dan moral, agar anak selalu terkoneksi dengan rasa syukur kepada Tuhan serta sikap ta’dzim kepada kedua orang tua.

Untuk itu, Kiai Adrian pernah menegaskan, bahwa segala kesuksesan adalah hasil dari jerih payah perjuangan kita untuk meraihnya. Itu ada benarnya, namun pemikirannya belum optimal. Karena, dengan disertai doa dan dukungan moril dari orang tua, maka kesuksesan hidup, dapat mengantarkan kita kepada keberkahan dan kebahagiaan sejati. (*)

Penulis adalah Akademisi dan Pengasuh Ponpes La Tansa 2 di Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.