Dialog Imajiner dengan Samuel P Huntington tentang Benturan Peradaban

oleh -961 Dilihat
banner 468x60

Dialog Imajiner saya dengan Samuel P. Huntington, penulis buku: “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”. Dialognya dilakukan di sebuah ruang diskusi akademik yang hangat, dengan rak-rak penuh buku sejarah, peta dunia, dan secangkir kopi di atas meja. Berikut dialognya.


Goris Sahdan: Profesor Huntington, dalam buku Anda, Anda menyebut bahwa konflik di masa depan akan ditentukan oleh peradaban, bukan ideologi. Tapi bukankah konflik global hari ini lebih banyak dipicu oleh perebutan sumber daya, kekuasaan geopolitik, dan ekonomi?

Huntington: Itu benar sebagian. Tapi saya melihat bahwa di balik konflik-konflik itu, ada fondasi budaya yang lebih dalam. Nilai-nilai, agama, dan identitas peradaban menjadi sumber loyalitas paling kuat. Itulah yang membuat konflik antarperadaban jauh lebih sulit diselesaikan.

Goris Sahdan: Namun, membagi dunia dalam kotak-kotak seperti “Islam vs Barat” atau “Konfusian vs Barat” terdengar sangat menyederhanakan. Dunia Islam sendiri sangat kompleks—ada Sunni, Syiah, Arab, non-Arab. Bukankah ini cara pandang yang terlalu kaku?

Huntington: Saya tidak menyangkal kompleksitas internal. Tapi dalam krisis global, negara-negara dan masyarakat seringkali bersatu berdasarkan identitas peradaban yang lebih luas. Lihat bagaimana solidaritas dunia Muslim muncul saat isu Palestina mencuat, misalnya.

Goris Sahdan: Tapi tidakkah narasi Anda justru menjadi semacam nubuatan yang dipenuhi sendiri—self-fulfilling prophecy? Dengan menyebarkan gagasan benturan peradaban, bukankah Anda membantu menciptakan benturan itu?

Huntington: Saya bukan menciptakan realitas, saya membacanya. Tugas saya sebagai ilmuwan politik adalah mengenali pola dan tren. Jika dunia merespons secara hati-hati, maka benturan itu bisa dikelola. Jika diabaikan, maka kita sedang berjalan menuju konflik besar.

Goris Sahdan: Sejumlah pemikir seperti Edward Said mengkritik buku Anda sebagai bentuk baru dari “Orientalisme.” Pandangan Anda dianggap memperkuat stereotip Barat terhadap dunia Islam, dan justru merusak dialog lintas budaya.

Huntington: Saya memahami kritik tersebut, tapi saya tidak menilai berdasarkan baik atau buruk. Saya hanya menunjukkan bahwa perbedaan nilai-nilai mendasar—seperti antara liberalisme Barat dan hukum syariah—itu nyata, dan bisa menjadi titik ketegangan.

Goris Sahdan: Tapi bukankah kita justru membutuhkan narasi yang membangun jembatan, bukan tembok? Bukankah sejarah juga penuh dengan kolaborasi antarperadaban? Seperti filsafat Yunani yang berkembang di dunia Islam, lalu kembali ke Eropa.

Huntington: Tentu. Tapi saya menulis dalam konteks dunia pasca-Perang Dingin. Saat negara-negara tidak lagi dibatasi ideologi besar, identitas peradaban menjadi pedoman utama mereka. Saya tidak menolak kerja sama, tapi saya memperingatkan realitas perbedaan yang bisa meledak jika diabaikan.

Goris Sahdan: Terakhir, kalau saya boleh bertanya sebagai anak zaman ini — apakah masih relevan memandang dunia dari sudut peradaban yang terpisah, ketika globalisasi, teknologi, dan budaya pop menyatukan semua orang?

Huntington: Globalisasi memang menyatukan secara permukaan — pakaian, makanan, musik. Tapi di balik itu, manusia tetap berpegang pada akar. Dan akar itu adalah budaya, sejarah, agama. Justru karena globalisasi, benturan bisa jadi lebih langsung, karena dunia saling bersentuhan lebih intens.


Demikian dialog imajiner saya dengan Samuel P. Huntington tentang “Benturan Peradaban”.

Oleh: Goris Sahdan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.