Multikultural Indonesia: Refleksi Aktualisasi Nilai Pancasila

oleh -1706 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Fausta Midaun

Benedict Anderson (pemikir kontemporer) menyatakan bahwa bangsa atau negara adalah hasil konstruksi imajiner. Komunitas ini dibentuk berdasarkan kesepakatan kolektif atas simbol-simbol bersama. Misalnya dari bahasa nasional, lagu kebangsaan, sejarah kolektif dan lain-lain yang memperkuat rasa kebangsaan. Indonesia merupakan contoh nyata dari konsep ini dengan keadaan geografisnya yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dan dari Miangas hingga Rote. Luas geografis yang ada membentuk sekitar 17.000 pulau.

Dari sekitar 17.000 pulau lahirlah lebih dari 1.300 suku. Keadaan merupakan fakta empiris tentang adanya kondisi multikultural di Indonesia. Kondisi multikultural di satu pihak menjadi kekayaan dan identitas bangsa Indonesia. Di lain pihak juga menjadi ancaman bagi keutuhan bangsa Indonesia. Sikap diskriminatif antar suku merupakan ancaman utama bagi keutuhan bangsa Indinesia.

Untuk mengatasi ancaman tersebut, Pancasila hadir sebagai mahkota persatuan. Mulai dari sila pertama, yakni ketuhanan yang maha esa menjadi basis untuk kehidupan toleran. Fakta menampilkan keberagaman agama di Indonesia. Toleran menjadi asas untuk menegakan persatuan.

Sila kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab, isinya kesetaraan hak dan kewajiban, diluar perbedaan etnis maupun di depan hukum. Hal seperti ini sangat vital terutama di Negara Indonesia yang multikultural, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan sikap primordialistik dapat diatasi. Dengan sendirinya muncul masyarakat Indonesia yang berakal budi, luhur dan pekerti.

Sila ketiga, persatuan Indonesia, menekankan kesatuan integral. Melihat Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau, dapat menimbulkan potensi adanya separatis. Maka sila tentang persatuan ini sangatlah penting. Rasa persatuan bisa ditimbulkan dari menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan merasa seperti ‘saudara kandung serahim’, yakni rahim Indonesia.

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menekankan dibangunnya suatu dialog atau mufakat guna menyelesaikan permasalahan ditengah masyarakat yang plural. Akhirnya sampai pada kesepakatan bersama, tanpa adanya ego dari individu tertentu.

Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tindakan keadilan merupakan suatu prinsip tertinggi dalam kehidupan sosial. Keadilan merupakan asas yang menentukan kerukunan dari suatu bangsa. Baik keadilan di hadapan hukum, maupun keadilan secara ekonomi.

Dari berbagai refleksi mengenai pancasila di atas, maka pancasila bukan hanya monoton sebagai simbol ideologis semata, namun sebagai pandangan hidup, ligature, dan leitstar(bintang penuntun). Pancasila adalah sumber jati diri Indonesia, moralitas dan haluan keselamatan bangsa. Dengan secara ampuh menjadi perekat seluruh masyarakat Indonesia yang multikultural.

Walaupun pancasila telah ditetapkan secara sebagai ideologi bangsa Indonesia dengan nilai-nilainya menjadi penopang dan pedoman bagi keberagaman masyarakat di Indonesia, namun dalam pelaksanaanya banyak terjadi penyimpangan dan ketimpangan di seluruh daerah Indonesia. Salah satu tantangan utamanya yakni sikap intoleran yang muncul di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini dihadirkan lewat kekerasan yang berbau agama, suku dan budaya. Hal-hal seperti ini bisa kita lihat dalam kilas balik beberapa tahun terahkhir belakangan ini. Di mana yang lebih tragis adalah masalah mengenai penerapan nilai-nilai sila pertama dan sila kedua, yaitu masalah keagamaan dan kemanusiaan yang menjadi trending topik belakangan ini. Berita mengenai tempat-tempat ibadah dibubarkan atau malah dibakar seperti hal lumrah. Kebebasan beragama seperti ditolak.

Tantangan utama lainnya, yakni politik identitas dan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Masalah-masalah seperti ini kerap kali melemahkan kekuatan persatuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Kita dapat melihat bagaimana dinamika perpolitikan Indonesia yang morat-marit sekarang ini. Lebih pada menggunakan politik identitas. Agama atau golongan tertentu dibawah saat melakukan kampanye, sehingga bukan saja mendapatkan banyak perolehan suara yang banyak tetapi membawa perpecahan yang membahayakan persatuan bangsa Indonesia. Korupsi terjadi diberbagai instansi pemerintah atau bisa dikatakan korupsi akibat sistem. Tidak hanya korupsi saja, namun telah muncul perilaku koruptif dalam perilaku seluruh masyarakat Indonesia. Akibatnya kemiskinan dan kemelaratan selalu menjadi pelengkap identitas Indonesia.

Semua tantangan tadi disebabkan oleh satu penyebab inti, yaitu kurangnya pemahaman atau penyerapan nilai-nilai pancasila secara mendalam oleh segenap bangsa Indonesia. Pancasila dipandang sebagai suatu formalitas lambang negara semata, tanpa menjiwainya secara komperhensif. Kesalahan yang berikut adalah memfinalkan batas-batas penafsiran nilai-nilai pancasila dengan membuat badan penafsiran khusus ideologi pancasila. Akhirnya penafsiran yang berasal dari luar akan ditolak. Faktor ini pula yang membuat pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi stagnan atau tak mampu menyeseuaikan dengan arus modernisasi yang selalu dinamis.

Kondisi seperti inilah yang menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam jurang kehancuran, jika tidak diperhatikan secara serius dan mendetail. Melihat latar belakang bangsa Indonesia yang multikultural akan berakibat fatal. Nilai-nilai mutikultural akan hilang dikarenakan berbagai ancaman tadi mulai dari intoleran sampai pada memecah belah kesatuan bangsa.

Melihat realitas kurangnya aktualisasi nilai-nilai pancasila dalam menyokong multikultural dalam bingkai masyarakat Indonesia, diperlukan suatu upaya atau strategi jitu. Bukan bersifat teori namun mengarah pada tindakan, sehingga nilai-nilai pancasila dapat terpatri dalam pola perilaku masyarakat Indonesia. Mula-mula jika ingin menyelesaikan suatu masalah mestilah melihat dari akar permasalahan.

Pertama, dimulai dari lingkungan kecil, yakni keluarga. Sedari dini mungkin memberikan pengajaran dan teladan yang tepat mengenai penerapan nilai-nilai pancasila. Setelah mendapat bekal pada lingkungan non-fromal, kemudian beralih pada lingkungan formal, yaitu institusi pendidikan dalam hal ini sekolah. Pada tahap ini guru memegang peranan penting dalam memberikan pengamalan dengan kurikulum yang dapat menempa mental siswa menjadi seorang manusia yang benar-benar manusiawi. Pengajaran pancasila tidak hanya berputar dalam kawasan kelas, namun sampai pada tindakan konkret dalam hidup bermasyarakat.

Kedua, adalah peran aktif dari para pemimpin agama di Indonesia. Mengapa ditekankan juga peran pemimpin agama? Karena agama memiliki peran vital dalam ranah moral dan iman. Di Indonesia terdapat enam agama resmi, dimana hampir 99% rakyat Indonesia adalah orang-orang beragama. Maka agama bisa dijadikan kuasa sewenang-wenangnya oleh oknum tertentu agar memecah-belah bangsa. Maka tugas para pemimpin agama adalah dalam setiap pengajaran atau kegiatan agama, selalu ditekankan penting menghormati dan toleransi terhadap orang yang berbeda agama, sesuai dengan pedoman nilai-nilai pancasila.

Ketiga, yang terakhir adalah pemerintah yakni mesti hadir dengan kebijakan menjamin kehidupan multikultural di Indonesia berjalan dengan aman dan damai. Pemerintah mesti menerima berbagai penafsiran mengenai ideologi pancasila, karena nilai-nilai pancasila haruslah terus digali sehingga selalu hidup dalam arus modernisasi, tanpa membatasi penafsiran pada pancasila.

Demikian aktualisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan multikultural Indonesia dapat terealisasi dengan lancar. Tugas ini bukan saja dijalankan oleh pemerintah saja, tetapi segenap masyarakat Indonesia. Maka tercipta keharmonisan masyarakat multikultural Indonesia dalam bingaki pancasila.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.