Surat Terbuka untuk Jajago Keliling Indonesia

oleh -1186 Dilihat
banner 468x60

Kepada
Yth. Pemilik Akun Media Sosial
Jajago Keliling Indonesia, John dan Riana
Di mana saja anda berada dalam kelilingmu

Salam sejahtera,

Belakangan ini media sosial diramaikan oleh unggahan Anda tentang pengalaman di Ratenggaro, Sumba Barat Daya, khususnya mengenai oknum masyarakat yang meminta sejumlah uang kepada wisatawan. Kami tidak menutup mata bahwa kejadian seperti itu benar adanya, dan kami sepakat bahwa praktik tersebut perlu ditertibkan secara bijak dan adil.

Namun, izinkan kami, anak yang lahir dari rahim pulau yang indah ini dan bermartabat ini, menyampaikan kegelisahan dan keberatan kami atas cara Anda menyampaikan peristiwa tersebut kepada publik. Unggahan Anda seolah menampilkan Sumba—secara keseluruhan—sebagai destinasi yang tidak aman, tidak bersahabat, dan penuh manipulasi. Padahal, kami yakin bahwa sejak Anda tiba di Tanah Sumba, melakukan perjalanan, hingga kembali pulang, Anda juga mengalami keramahan, keindahan budaya, dan kebaikan hati masyarakat kami.

Mengapa hanya cerita buruk yang Anda angkat ke permukaan, sementara ribuan cerita baik tentang Sumba tak mendapat ruang dalam narasi Anda?

Kami menyayangkan bahwa Anda, sebagai influencer dengan ribuan pengikut, menggunakan pengaruh itu untuk menyudutkan satu daerah secara sepihak. Apakah anda sengaja? Tanpa sadar (atau mungkin sadar?), Anda telah menggiring opini publik yang mencederai citra pariwisata kami, dan lebih jauh lagi, melukai hati masyarakat lokal yang tidak tahu-menahu soal peristiwa tersebut.

Mungkin Anda hanya kehilangan Rp200.000 atau berapa dalam pengalaman itu. Ya.. anda kehilangan itu. Tapi dari unggahan tersebut, Anda bisa jadi mendapat nilai eksposur senilai jutaan rupiah—dengan menjual cerita tentang ‘kekurangan’ kami kepada dunia. Sementara kami di Sumba, harus menanggung kerugian lebih besar: kehilangan kepercayaan wisatawan, citra buruk yang meluas, dan efek domino bagi ribuan warga yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata.

Kami tidak sedang membela kesalahan lima orang saudara atau berapapun jumlah mereka itu. Tapi kami mengajak Anda untuk bertanggung jawab secara etis: bahwa satu cerita tidak boleh menjadi dasar untuk menghakimi seluruh komunitas.

Akan jauh lebih bijak jika Anda menyampaikan keluhan itu secara langsung kepada pemerintah daerah atau tokoh masyarakat setempat agar ditindaklanjuti dengan serius. Bukankah itu lebih membangun?

Kami undang Anda untuk datang kembali ke Sumba. Bertemu dengan lebih banyak wajah ramah. Mendengar lebih banyak kisah baik. Melihat betapa indahnya persaudaraan yang kami jaga.

Sumba bukan sekadar latar untuk konten viral. Ia adalah tanah yang hidup, dengan manusia yang punya harga diri dan menghormati anda.

Semoga kita bisa belajar untuk saling memahami, bukan menghakimi.

Hormat kami,
Warga dan Sahabat Sumba

Pater Willy Ngongo Pala, CSsR
Tinggal di Cijantung, Jakarta Timur

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.