Puisi Soekarno
Aku adalah suara yang lahir dari radio usang,
terganti notifikasi yang tak paham sejarah.
Hari ini, aku masih hidup,
kudapati proklamasi
terselip di antara iklan cuci otak.
Di feed-mu, di scroll-mu,
merdeka jadi caption berbayar.
Dulu ku teriakan “Bangkitlah!”
dari celah meriam dan nyali.
Kini kalian rebahan,
berperang komentar antar netizen,
membela harga diri digital
lebih dari harga beras di dapur ibumu.
O, bangsaku yang menjadi budak algoritma,
apa masih kau ingat bahwa kemerdekaan
bukanlah sesuatu yang bisa diunduh secara gratis.
Mei 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







