Gadis Cantik dari Palembang

oleh -2027 Dilihat
banner 468x60

Suatu hari di musim hujan, persisnya pada minggu terakhir bulan Januari, saya pernah berpapasan dengan seorang perempuan tercantik di sekitar jembatan Sungai Musi, yakni sosok perempuan yang selama ini saya idam-idamkan.

Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa ini adalah penilaian saya pribadi, subyektif, karena setiap orang punya seleranya sendiri-sendiri. Mungkin juga ada orang berpendapat bahwa kecantikannya biasa-biasa saja, tidak begitu spesial. Usianya juga sudah agak lanjut, mungkin di atas 35-an. Mengenakan kerudung merah berenda-renda, layaknya seorang ustazah yang sangat fasih bicara tentang pentingnya hubungan biologis antara suami-istri secara intensif.

Mengingat umurnya itu, nampaknya kurang pas jika dipanggil ‘Ibu’, paling tidak ‘Mbak’, jadi sudah kurang elegan untuk disebut sebagai gadis lagi. Tapi menurut saya, bagaimanapun, perempuan itu adalah sosok wanita tercantik yang pernah saya jumpai di dunia ini.

Silakan saja Anda pribadi punya selera tersendiri soal perempuan yang Anda idamkan. Misalnya, karena senyumnya yang mempesona, lesung pipitnya, bentuk wajahnya yang bulat atau oval, sorot matanya yang indah, bibirnya yang menawan, dagunya yang lancip atau terbelah, atau bahkan hidungnya yang mangir dan mancung.

Tetapi, apapun pendapat Anda, kalau seorang lelaki sudah terpincut hatinya pada seorang wanita, lalu menilainya sebagai perempuan tercantik, maka sosok itu sudah tak ada bandingannya dengan keindahan apapun yang pernah diciptakan Tuhan.

“Kemarin sore, saya sempat ketemu dengan perempuan tercantik yang saya idam-idamkan selama ini,” kata saya pada Imong, seorang sahabat karib saya.

“Di mana?” tanyanya.

“Di trotoar jalan Malioboro.”

“Terus, kamu ajak ngobrol?” tanya Abud di sebelah saya.

“Cuma berpapasan saja. Dia melangkah ke arah utara Sungai Musi, dan saya melangkah ke selatan.”

“Lalu, kamu mengikutinya dari belakang?” pancing Imong lagi

“Nggak.”

“Kenapa nggak kamu ajak ngobrol sambil duduk-duduk di bangku trotoar?” tegur Yanwar di sebelah Abud.

“Kami cuma berpapasan. Itu saja.”

Tapi, benar juga apa kata Yanwar. Seandainya saya menyapa dia dan menyempatkan waktu untuk ngobrol sejenak atau dua jenak. Tentu saya bisa tahu namanya, dan dia juga akan tahu nama saya. Kemudian, saya akan membahas betapa rumitnya cara kerja takdir, terutama soal mempertemukan lelaki dengan perempuan idaman hatinya, hingga sempat bercanda ria di sekitar jembatan, di musim hujan yang teramat dingin ini.

Seandainya takdir itu bisa kita atur sedemikian rupa, tentu saja akan mudah bagi saya untuk menyapanya, mengajaknya duduk di salah satu café di sekitar Musi, lalu makan-makan dan menikmati pemandangan kapal-kapal berseliweran. Bagaimana jika sang takdir kita arahkan, dengan mengadakan pertemuan yang kedua, ketiga, lalu bicara tentang rencana pernikahan, lalu menyelenggarakan resepsi pernikahan yang dihadiri komunitas alumni Darqo 89, hingga berakhir dengan percintaan di atas ranjang. Wah, indah sekali hidup ini!

***

Tapi masalahnya, segala kemungkinan yang belum terjamah itu hanya sibuk menggedor-gedor hasrat dan keinginan dalam hati, tanpa sanggup kita atur serapi mungkin. Bahkan, seringkali tanpa sesuai dengan rencana yang kita harapkan.

Coba bayangkan, seandainya pada kesempatan itu saya sempat menyapanya, lalu mengajaknya duduk-duduk di salah satu bangku di sekitar bantaran sungai, lalu saya katakan, “Apa kabar, Mbak? Apakah ada waktu untuk duduk-duduk di bangku sebelah situ?”

Ah, nanti malah saya dianggap salesman yang ingin menawarkan barang dagangan kepadanya. Atau begini saja: “Permisi, Mbak, jalan Ahmad Yani di sebelah mana, ya? Bisakah saya diantar sebentar ke arah situ?” Mungkin dia akan berpikir, apa urusannya? Pakai harus diantar segala? Emangnya gue petugas kelurahan?

Atau, barangkali saya harus bicara terus terang dan apa adanya: “Maaf, Mbak ini cantik sekali. Mbak adalah perempuan tercantik yang pernah saya jumpai sepanjang hidup saya.”

Lalu apa komentar dia? Ah, tentu saja dia enggak bakal percaya. Kalaupun percaya, mungkin dia akan takut berbincang-bincang dengan saya yang dianggapnya orang sinting dan senewen. Atau, barangkali dia akan menjawab: “Boleh-boleh saja Mas menganggap saya sebagai wanita idaman, hanya masalahnya saya tak pernah memandang Mas sebagai laki-laki idaman saya.”

Waddeh! Ciloko! Bisa-bisa hatiku akan hancur lebur. Remuk redam. Padahal, saat ini usia saya menginjak 40-an, dan mestinya usia segitu sudah cukup berpengalaman untuk menjadi orang kuat berjiwa besar, serta berhati lapang untuk menerima segala bentuk penolakan cinta.

***

Sore itu cuaca sedikit gerimis, matahari mulai turun di ufuk barat. Membuat saya kurang begitu yakin apakah akan membawa payung atau tidak untuk menuju Sungai Musi. Suasana sangat mendukung untuk berduaan bersama wanita tercantik dan mengajaknya ngobrol di bangku salah satu café. Perempuan cantik itu melintas dan berhenti untuk mengisi kuota internet di sebuah kios di samping bantaran sungai. Ada kesempatan emas sebenarnya, untuk menyapanya, tetapi belum juga saya lakukan. Entah kenapa.

Dia duduk-duduk sebentar di sebuah bangku, dan nampaknya sedang mengirim pesan entah kepada temannya, keluarga atau saudaranya, atau bahkan kepada kekasihnya? Setidaknya, saya tidak berburuk sangka kalau ia sedang mengirim WA kepada Yanwar, Imong maupun Abud.

Dia mengenakan sweater berwarna abu-abu, tersenyum manis melihat layar ponsel, kemudian wajahnya menengadah sambil tertawa sendirian. Saya tidak menaruh curiga atau khawatir sedikit pun, kenapa ia sampai tertawa sendiri. Karena boleh jadi, ada hal-hal menarik dan lucu yang sedang dilihatnya di layar ponsel.

Saya mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan sejenak. Tiba-tiba, perempuan itu menghilang di tengah keramaian para turis yang lalu lalang di sekitar itu.

Seketika saya masuk menyibak kerumunan, tetapi ke mana perempuan itu hengkang? Cepat sekali ia melangkah? Apakah dia menuju salah satu kios atau toko di sekitar itu? Ataukah ada teman yang menjemputnya kemudian berangkat bersama dengan kendaraan bermotor? Ke manakah dia pergi?

Sore keesokannya, pada jam yang sama, sebelum jam yang sama malah. Saya mendatangi tempat yang sama. Saya mengambil posisi strategis untuk duduk-duduk menunggu di salah satu bangku. Sepuluh duapuluh menit, sejam dua jam berlalu, tetapi perempuan tercantik itu belum juga nongol. Atau mungkin saja dia tidak datang lagi, sama sekali, dalam sepanjang umur hidup saya.

Padahal, saya sudah mempersiapkan skenario sebagai bahan untuk berbincang-bincang dengannya. Bahkan, saya mempersiapkan sebuah cerita sebagai bahan obrolan, yang diawali dengan kata-kata “pada suatu ketika”, kemudian akan saya akhiri dengan kata-kata “cerita yang menarik, bukan?”

***

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu sekitar delapanbelas, dan gadisnya sekitar tujuhbelas tahun. Pemuda itu cukup tampan, dan gadis itu juga cantik dan menarik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti kebanyakan orang, merasa kesepian dalam kesendirian.

Keduanya percaya bahwa dalam kehidupan di dunia ini, setiap orang akan menemukan jodohnya, dan keduanya mesti saling mencintai satu sama lain. Kedua muda-mudi itu percaya adanya mukjizat sebagai sesuatu yang niscaya dan mesti terjadi.

Suatu hari di musim hujan di akhir Januari, kedua muda-mudi itu saling berjumpa dan berpapasan di sekitar sungai Musi, Palembang.

“Luar biasa,” ujar si pemuda geleng-geleng kepala. “Sudah lama saya mencari-cari kamu, perempuan seperti kamu, dan barangkali kamu tidak percaya pada apa yang saya katakana ini. Tetapi sungguh, kamulah perempuan yang saya idam-idamkan selama ini.”

“Oya? Serius apa yang kamu bilang? Kalau begitu, firasat saya tepat sekali. Kamu juga adalah lelaki yang menjadi idaman saya selama ini!”

Mereka duduk di bangku trotoar, di antara kios-kios bunga di sekitar bantaran sungai. Kemudian, mereka saling berpegangan tangan, menceritakan kisah hidupnya masing-masing selama berjam-jam. Kini, tidak lagi mereka kesepian dalam kesendirian. Mereka telah menemukan dan dipertemukan jodohnya, dan mereka sangat mencintai satu sama lain. Mereka pun yakin bahwa pertemuan itu suatu pertanda dan mukjizat dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Namun demikian, masih ada sedikit keraguan yang mengganjal dalam hati mereka. Apakah benar keduanya adalah pasangan yang memang sudah jodohnya? Apakah mungkin hasrat dan impian itu terkabul begitu mudahnya?

Si pemuda mengamati wajah si gadis dengan seksama, lalu dia berkata, “Kalau memang benar kita ini pasangan yang berjodoh, mari kita uji dengan saling berpisah satu sama lain. Karena bagaimanapun, kalau kita memang jodoh, toh pada akhirnya kita bisa saling jumpa suatu hari nanti. Dan pada saat kita berjumpa, kita langsung mengadakan pernikahan, bagaimana?”

“Oke siap kalau begitu, sekarang juga kita berpisah.”

Kemudian mereka pun berpisah. Si gadis melangkah ke arah utara, dan lelakinya melangkah ke arah selatan.

Kalau mereka yakin seratus persen, bahwa mereka sudah jodohnya, sebaiknya perpisahan itu tidak mesti terjadi. Tapi waktu itu, lantaran usia mereka masih belia, mereka belum bisa memutuskan untuk saling menikah.

Lalu, gelombang takdir menghempaskan mereka di jalannya masing-masing. Ada jalanan berliku, berkelok-kelok bahkan berkali-kali mereka terjerembab dalam jurang yang terjal bahkan teramat terjal. Gelombang itu menghempaskan mereka tanpa pandang bulu. Meski pada akhirnya, mereka saling menyadari bahwa setiap orang mengalami hal yang sama dalam hidup ini. Setiap orang mengalami pasang-surut, ujian dan cobaan silih berganti.

Ketika semua orang mengalami hal yang tak jauh berbeda, maka bukan ganasnya sang takdir yang menjadi persoalan. Apalagi Tuhan sudah berjanji bahwa takdir yang membebani hidup manusia, tidak akan melampaui kesanggupan manusia untuk memikulnya. Maka dari itu, bukan persoalan takdirnya melainkan persoalan manusia yang harus pintar menyikapi sang takdir. Harus sanggup memikul beban yang disodorkan sang takdir itu sendiri.

Mereka saling percaya bahwa kekasihnya pun mengalami hal yang sama dalam soal menghadapi pasang surutnya gelombang takdir.

Pada awal Februari 2025 masih di musim hujan, tiba-tiba muncul pandemi semakin merebak di seluruh dunia bahkan di wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Si pemuda dan si gadis menderita flu berat, demam dan sesak napas. Mereka terkapar selama beberapa bulan di rumah sakit yang berbeda, namun sama-sama menampung dan menangani pasien Covid 25. Kini, mereka tak berdaya lagi, bahkan sama-sama lupa pada kenangan indah di usia tujuhbelas dan delapanbelas tahun.

Keduanya termasuk pribadi-pribadi yang ambisius dalam mengejar cita-cita, tetapi juga pribadi yang religius. Di usia mereka yang ke-30, keduanya terbilang sukses dalam bidang dan profesinya masing-masing. Juga sangat terpandang di tengah masyarakatnya. Selama mereka saling berpisah, mereka juga mengenal banyak teman dan sahabat dekat, baik dari kaum lelaki maupun perempuan. Tapi mereka tak pernah serius dalam hubungan bersama sahabat yang dicintai, paling banter hanya mencapai tujuhpuluh atau delapanpuluh persen. Tidak ada yang mencapai seratus persen.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga. Mendadak si pemuda telah berusia 33 tahun, dan si gadis berusia 32 tahun. Tetapi, seperti yang saya katakan tadi, keduanya terkapar tak berdaya karena terjangkit penyakit Covid-25. Berbulan-bulan lamanya mereka berbaring di rumah sakit…

***

Nah, kisah seperti itulah yang mau saya sampaikan kepada perempuan tercantik yang menjadi idaman saya itu. Kisah itu akan saya utarakan setelah saya mengajaknya duduk-duduk santai di salah satu café sekitar sungai Musi. Sehingga, dia pun akan penasaran pada akhir cerita, apakah kedua orang yang katanya jodoh itu pada akhirnya menikah atau tidak? Ataukah keduanya menjalani takdirnya masing-masing di tempat yang berbeda? Atau bahkan keduanya meninggal karena penyakit Covid-25 yang merebak di mana-mana? Siapakah yang bersalah jika nasib buruk justru menimpa orang-orang baik?

Lalu, saya pun menjelaskan, justru karena adanya pandemi Covid-25 yang mempertemukan keduanya, ketika mereka tiba-tiba dirujuk ke rumah sakit darurat yang merawat para pasien Covid di Wisma Atlet, Kemayoran Jakarta. Ternyata, kedua pasien itu dirawat berdampingan di ruang yang sama, di antara ratusan ruang perawatan yang tersedia. Kedunya pun mendapat perawatan dari beberapa dokter dan perawat yang rela dan tulus mengabdi demi kesehatan dan pemulihan pasien dari penyakit Covid.

“Sedy… benarkah ini Sedy?!”

“Oh, ya ampun… benarkah ini Hafiz? Kenapa kamu bisa ada di sini?”

Keduanya saling bertatapan, terkesima, lalu saling tersenyum dan bersalaman. Tak lama kemudian, Jirin pun berujar, “Saya nggak paham, Sedy, saya nggak ngerti… barangkali ini sudah suratan takdir… apakah kamu masih ingat dengan rencana kita?”

“Ya, tentu saja saya masih ingat,” kata Sedy sambil tersenyum gembira.

Karena keduanya mendapat perawatan dari para dokter dan perawat handal dan profesional, beberapa minggu kemudian kedua muda-mudi itu dinyatakan negatif dari Covid-25, kemudian melangsungkan pernikahan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Cerita yang menarik, bukan?

***

Pada hari Minggu sore, saya pun berhasil menemukan perempuan tercantik yang menjadi idaman saya itu. Ia sedang mengisi kuota internet di sebuah kios di bantaran Sungai Musi. Lalu, ia duduk-duduk di salah satu bangku sambil menatap serius pada layar ponsel seraya tersenyum gembira.

Seketika saya menghampirinya dan melangkah pelan-pelan ke arahnya. Sore itu juga, saya bertekad untuk menceritakan kisah Sedy dan Jirin, setelah berhasil mengajaknya berbincang-bincang di bangku tersebut. []

Oleh: Supadilah Iskandar

Penulis adalah Cerpenis dan kritikus sastra, menjadi pengajar sastra di pedalaman Banten Selatan. Menulis cerpen di berbagai harian lokal, nasional dan media daring, di antaranya Nusantaranews.co, NU Online, alif.idinilahbanten.com, Jurnal Toddoppuli, Kabar Madura, Harian Haluan dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.