Mayor Jenderal (Purn.) I Gusti Kompyang Manila, atau yang akrab disapa IGK Manila, berpulang pada Senin, 18 Agustus 2025 pukul 08.59 WIB di RS Bunda Jakarta Pusat. Kabar duka ini langsung menyentuh banyak kalangan, mulai dari keluarga besar Partai NasDem, dunia olahraga, hingga rekan seperjuangan di TNI Angkatan Darat. Usia 83 tahun menutup perjalanan seorang tokoh yang sepanjang hidupnya senantiasa menorehkan pengabdian bagi bangsa.
Lahir di Singaraja, Bali, pada 8 Juli 1942, IGK Manila menapaki jalan hidup sebagai seorang prajurit hingga mencapai pangkat Mayor Jenderal. Ia dikenal sebagai perwira yang tegas dalam disiplin namun tetap menaruh perhatian besar pada kemanusiaan. Dalam perjalanan kariernya, ia terlibat dalam sejumlah operasi penting, salah satunya Operasi Ganesha pada 1982, yang menegaskan komitmennya sebagai abdi negara yang setia.
Sesudah purna tugas, jalan pengabdiannya tidak berhenti. IGK Manila bergabung dengan Partai NasDem dan dipercaya memimpin Akademi Bela Negara. Dari kampus kaderisasi itu ia menanamkan nilai cinta tanah air, patriotisme, dan loyalitas tanpa pamrih kepada generasi muda partai. Sosoknya dihormati bukan hanya sebagai guru dan panutan, melainkan juga sebagai sahabat sejati. Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyebutnya sebagai pribadi yang tulus, yang dalam persahabatan menerima kelebihan maupun kekurangan orang lain dengan lapang hati.
Nama IGK Manila juga sangat lekat dengan dunia olahraga Indonesia. Saat dipercaya menjadi manajer tim nasional sepak bola pada SEA Games 1991 di Manila, ia berhasil mengantarkan tim Garuda meraih medali emas setelah melalui drama adu penalti yang menegangkan melawan Thailand. Kemenangan itu menjadi salah satu momen bersejarah dalam sepak bola nasional. Dedikasinya tidak berhenti di situ, karena ia pun tercatat sebagai manajer Persija Jakarta dan dikenal dekat dengan para pemain, bahkan memilih tinggal bersama mereka di mes untuk menumbuhkan disiplin dan kebersamaan. Selain sepak bola, kiprahnya juga besar dalam perkembangan olahraga wushu di Indonesia. Ia dikenang sebagai bapak wushu yang dengan kerja keras dan komitmen memperkenalkan cabang olahraga ini hingga mendapat tempat di kancah nasional.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Jenazahnya lebih dahulu disemayamkan di RS Gatot Soebroto sebelum dibawa ke Kampus ABN NasDem untuk penghormatan terakhir. Partai NasDem menggelar upacara kebesaran sebagai bentuk penghormatan kepada pengabdiannya, sebelum prosesi kremasi yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Dalam dirinya berpadu disiplin seorang prajurit, keteguhan seorang pemimpin, ketulusan seorang sahabat, dan semangat sportivitas seorang penggerak olahraga. IGK Manila bukan hanya seorang jenderal, melainkan juga seorang pendidik bangsa yang memberi inspirasi dan teladan. Kehilangan ini tentu besar, namun warisan nilai dan keteladanan yang ia tinggalkan akan terus hidup di hati banyak orang.
Selamat jalan, Opa IGK Manila. Terima kasih atas segalanya yang telah engkau wariskan kepada negeri ini.








