Oleh: Maria Lidia Marut Media sosial hari ini dipenuhi orang yang gemar tampil paling pintar di setiap kolom komentar. Mereka melempar istilah
Tag: Unwira Kupang
Smartphone dan Hedonisme Bentham di Era Digital
Oleh: Didimus WungoDi tengah derasnya perkembangan teknologi, Smartphone telah menjadi bagian yang hampir mustahil dipisahkan dari kehidupan manusia modern. Ia tidak lagi
Layakkah Aku Menyambut Tubuh Kristus? Ekaristi dan Krisis Moral Umat
Oleh: Isfilus Ergon Sakramen Ekaristi merupakan jantung kehidupan Gereja Katolik. Dalam setiap perayaan Misa Kudus, umat tidak sekadar mengenangkan peristiwa Perjamuan Terakhir,
Menyelamatkan Masa Depan NTT: Menakar Solusi Fenomena Anak Jalanan di Kupang
Oleh: Agustinus Bili Mude Pemandangan di beberapa titik lampu merah utama Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti di kawasan Lampu Merah
Pasangan yang Merasa Tidak Dihargai: Luka yang Sering Tidak Terlihat
Oleh: Oktovyenta Martareda Tefa Dalam sebuah hubungan, setiap orang tentu ingin dicintai, dihormati, dan dihargai. Perasaan dihargai bukan hanya tentang menerima hadiah
Buruh di Ujung Tanduk: Ketika Keringat Tak Lagi Dihargai
Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera Setiap tahun, di bawah terik matahari atau dinginnya malam pabrik, jutaan buruh Indonesia mengulang ritual yang sama: bekerja
Kebebasan dan Kecemasan: Potret Manusia Modern di NTT
Oleh: Primus Nifu Manusia modern hidup dalam dunia yang menawarkan banyak kebebasan. Kemajuan teknologi, akses pendidikan yang semakin luas, dan perkembangan media
Membumikan Koinonia: Koperasi sebagai Katup Penyelamat Ekonomi Masyarakat NTT
Oleh: Agustinus Bili Mude Dinamika pasar modern saat ini sering kali menempatkan masyarakat kecil dalam posisi yang rentan. Kehadiran gurita ritel modern
Menakar Ulang Netralitas Sains dan Teknologi: Menuju Kompas Tanggung Jawab Moral Peradaban Perspektif Heather Douglas dan Hans Jonas
Oleh: Agustinus Saka Tmaneak Perkembangan pesat sains dan teknologi di era modern kontemporer kerap kali dipandang secara naif sebagai sebuah instrumen otonom yang
Mengapa Kita Butuh Ruang?
Oleh: Yoseph L. Kaku Wally Ada satu momen yang membekas di kepala saya ketika mengikuti ujian mata kuliah Pentateukh beberapa waktu lalu.
Membaca Penderitaan Manusia di Tengah Perkembangan “Artificial Intelligence”: Sebuah Refleksi Teologi Kontekstual Asia dalam Konteks Kota Kupang
Oleh: Kalvianus Jogo Teologi Kontekstual Asia mengajarkan bahwa refleksi iman harus berangkat dari realitas konkret kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai
- Sebelumnya
- 1
- 2
- 3
- 4
- …
- 32
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











