In Memoriam
“Ada orang yang lahir di sebuah negeri, tetapi dikenang sebagai pahlawan di negeri yang jauh dari tanah asal.”
Begitulah barangkali kisah hidup Pastor Nicholas “Niko” Strawn, SVD. Ia lahir di Amerika Serikat, jauh dari Pulau Lembata. Bahasa ibu yang pertama kali didengarnya bukan bahasa Lamaholot. Masa kecilnya tidak diwarnai Laut Sawu, Gunung Ile Ape, atau musim kemarau khas Nusa Tenggara. Namun, ketika kabar wafatnya menyebar, yang berduka bukan hanya keluarga sedarahnya, melainkan ribuan umat di Lembata yang merasa kehilangan seorang saudara, sahabat, sekaligus gembala.
Di situlah letak makna seorang misionaris. Seorang misionaris tidak diukur dari tempat kelahirannya, melainkan dari tempat ia memilih mengabdikan hidupnya. Tanah kelahiran membentuk identitasnya, tetapi tanah perutusan membentuk warisan hidupnya.
Misi yang Melampaui Geografi
Dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara, nama-nama para misionaris asing tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembangunan masyarakat. Mereka datang bukan ketika segala sesuatu telah tersedia, melainkan ketika banyak wilayah masih bergumul dengan keterisolasian dan berbagai keterbatasan.
Saat itu akses pendidikan masih sangat terbatas. Pelayanan kesehatan belum menjangkau banyak desa. Jalan-jalan belum memadai. Transportasi antarpulau masih mengandalkan kapal kayu, sedangkan banyak kampung hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Namun justru ke tempat-tempat seperti itulah mereka datang.
Pilihan itu bukan keputusan yang mudah. Mereka meninggalkan keluarga, budaya, bahasa, bahkan kenyamanan hidup di negara asal. Mereka belajar bahasa daerah, menghormati adat istiadat setempat, hidup sederhana bersama masyarakat, dan menerima segala keterbatasan sebagai bagian dari panggilan iman.Pater Nicholas Strawn termasuk dalam tradisi panjang itu.
Ia bukan sekadar imam yang bertugas di Lembata. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat yang dilayaninya. Banyak keluarga mengenangnya sebagai imam yang membaptis anak-anak mereka, memberkati pasangan yang memulai hidup berumah tangga, memimpin perayaan syukur, menghibur keluarga yang berduka, mendampingi orang sakit, dan hadir dalam berbagai peristiwa penting kehidupan umat.
Hubungan seperti itu tidak dibangun dalam hitungan bulan. Ia lahir dari kesetiaan yang ditempa oleh waktu, oleh kehadiran yang terus-menerus, dan oleh pelayanan yang tulus.
Warisan yang Tidak Selalu Berbentuk Bangunan
Ketika berbicara mengenai para misionaris, orang sering mengingat gereja, sekolah, pastoran, atau fasilitas sosial yang mereka bangun. Padahal warisan terbesar para misionaris justru tidak selalu berupa bangunan. Warisan itu adalah manusia. Generasi guru yang lahir dari sekolah-sekolah Katolik. Perawat dan tenaga kesehatan yang memperoleh pendidikan dari lembaga-lembaga yang dirintis Gereja. Pemimpin masyarakat yang pertama kali belajar membaca dan menulis melalui karya para misionaris. Keluarga-keluarga yang bertumbuh dalam nilai kejujuran, kerja keras, solidaritas, penghormatan terhadap martabat manusia, dan semangat melayani.
Di Nusa Tenggara, khususnya Flores, Lembata, Timor, Alor, Sabu, Rote, dan Sumba, kontribusi para misionaris terhadap perkembangan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial hampir mustahil dipisahkan dari sejarah.
Mereka tidak hanya mengajarkan doa. Mereka mengajarkan membaca, membuka sekolah, merintis klinik pelayanan kesehatan.
Mereka mendampingi masyarakat menghadapi kemiskinan dan keterbelakangan, menanamkan harapan.
Karena itu, mengenang Pastor Nicholas Strawn tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat jalan. Mengenangnya berarti mengingat kembali tradisi pelayanan yang selama lebih dari satu abad telah ikut membentuk wajah Gereja dan masyarakat di Nusa Tenggara.
Senja Sebuah Generasi
Wafatnya Pater Niko juga mengingatkan kita pada kenyataan bahwa generasi para misionaris asing yang membangun Gereja di Nusa Tenggara kini memasuki masa senja. Mereka belum seluruhnya tiada. Beberapa masih setia berkarya, di antaranya Pater Thadeus Gruca, SVD di Nagekeo dan Pater Franz Lackner, SVD di Pulau Sabu. Namun jumlah mereka semakin sedikit, sementara sebagian besar telah memasuki usia lanjut.
Hal ini bukan karena semangat misi telah berakhir. Sebaliknya, Gereja dunia sedang mengalami perubahan besar. Negara-negara yang dahulu mengirim ribuan misionaris kini menghadapi penurunan panggilan hidup membiara dan imamat. Banyak tarekat di Eropa maupun Amerika mengalami penuaan anggota. Di sisi lain, Gereja di Asia dan Afrika justru berkembang pesat dan melahirkan semakin banyak imam, bruder, serta suster.
Perubahan itu menghasilkan pembalikan sejarah. Jika dahulu Belanda, Jerman, Austria, Amerika Serikat, Irlandia, Polandia, dan berbagai negara lain mengirim para misionaris ke Indonesia, kini justru Indonesia mengutus imam dan biarawan ke Eropa, Amerika, Afrika, Amerika Latin, hingga kawasan Pasifik.
Dalam Serikat Sabda Allah (SVD), Indonesia bahkan menjadi salah satu negara dengan jumlah anggota terbesar di dunia. Banyak imam Indonesia kini melayani di berbagai benua sebagai misionaris.
Karena itu, wafatnya Pater Nicholas Strawn bukanlah akhir dari karya misi. Namun, kepergiannya menjadi penanda bahwa sebuah generasi yang pernah mewarnai perjalanan Gereja di Nusa Tenggara perlahan memasuki penghujung sejarah. Generasi yang datang sebagai orang asing, tetapi pulang sebagai bagian dari keluarga besar umat yang mereka layani.
Tugas Generasi Penerus
Keberhasilan para misionaris justru tampak dari kenyataan bahwa Gereja lokal kini mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Putra-putra Flores, Timor, Lembata, Alor, Sabu, Rote, Sumba, dan berbagai daerah lain di Indonesia kini menjadi imam, uskup, bruder, suster, bahkan misionaris yang diutus ke berbagai negara. Mereka adalah buah dari benih yang pernah ditanam para pendahulu.
Namun keberhasilan itu juga membawa tanggung jawab dan beberapa refleksi.
Apakah semangat pengabdian para misionaris tetap diwarisi? Apakah Gereja masih hadir bagi mereka yang miskin, tersingkir, dan terlupakan? Apakah pelayanan tetap menjadi inti panggilan, bukan sekadar jabatan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengenang masa lalu. Sebab penghormatan terbaik kepada para misionaris bukan hanya mengenang nama mereka, melainkan melanjutkan semangat pelayanan yang mereka wariskan.
Lembata Tidak Kehilangan Jejak
Seorang misionaris mungkin meninggal. Namun jejaknya tidak ikut dimakamkan. Jejak itu hidup dalam setiap orang yang pernah disentuh pelayanannya. Ia hidup dalam sekolah yang terus mendidik dan mengajar. Dalam keluarga yang tetap memelihara iman. Dalam anak-anak yang dahulu dibaptisnya dan kini telah menjadi orang tua. Dalam imam-imam muda yang mungkin tanpa sadar meneladani kesederhanaan dan pengabdiannya.
Itulah sebabnya Gereja selalu mengenang para misionaris bukan terutama karena asal-usul mereka, melainkan karena kesetiaan mereka. Kesetiaan itulah yang menjadi bahasa universal Injil.
Selamat Jalan, Pater Niko
Kepergian Pater Nicholas Strawn, SVD memang meninggalkan duka. Namun duka itu bukan semata karena seorang imam telah berpulang. Duka itu lahir karena masyarakat kehilangan seorang gembala yang selama bertahun-tahun memilih berjalan bersama mereka, mendengarkan mereka, dan mencintai mereka. Lembata telah menjadi bagian dari hidupnya. Dan ia pun telah menjadi bagian dari sejarah Lembata.
Semoga warisan pengabdiannya tidak berhenti sebagai kenangan. Warisan itu harus menjadi inspirasi bahwa pelayanan sejati tidak mengenal batas bangsa, warna kulit, bahasa, qmaupun budaya.
Pater Niko telah menunjukkan bahwa hidup yang paling bermakna adalah hidup yang dipersembahkan bagi sesama. Ia datang sebagai seorang asing, tetapi diterima sebagai saudara. Ia meninggalkan tanah kelahirannya, tetapi menemukan rumah di hati umat yang dilayaninya. Semoga generasi penerus terus menjaga nyala api misi yang telah ia rawat dengan kesetiaan sepanjang hidupnya.
Requiescat in Pace.
TIM REDAKSI







