Daging Sapi, Kamera dan Martabat Orang NTT

oleh -2096 Dilihat
banner 468x60

(Catatan Kritis atas Narasi Amal di Pelosok NTT)

Berita tentang YouTuber dan pengusaha muda Atta Halilintar yang berkurban 16 ekor sapi di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka Idul Adha 2025 mendapat sorotan luas dan pujian di berbagai media. Dengan narasi yang menggugah, sejumlah media mengangkat kisah masyarakat pelosok yang “belum pernah makan daging sapi seumur hidup” dan mengaitkannya dengan kemurahan hati sang selebritas. Aksi ini ditambah pula dengan renovasi sekolah sebagai bentuk kepedulian terhadap akses pendidikan. Namun di balik gemerlap narasi amal dan sanjungan netizen, perlu ada ruang untuk merenung dan bertanya secara lebih kritis: apa yang sesungguhnya sedang dibangun melalui pemberitaan ini?

Klaim bahwa “warga belum pernah makan daging sapi seumur hidup” adalah sebuah pernyataan yang menuntut kehati-hatian. Meskipun benar bahwa angka konsumsi daging di wilayah-wilayah terpencil NTT memang rendah—dan akses terhadap makanan bergizi masih menjadi tantangan besar—namun menyamaratakan kondisi seluruh masyarakat sebagai “belum pernah mencicipi daging sapi” berisiko mengaburkan kenyataan. Dalam banyak komunitas adat di NTT, konsumsi daging—termasuk daging sapi atau kerbau—dilakukan dalam konteks budaya seperti pesta adat, ritual kematian, atau acara panen. Walaupun tidak rutin dan bukan bagian dari konsumsi harian, fakta ini penting untuk menjaga akurasi dan menghormati pengalaman hidup masyarakat lokal.

Sensasi menjadi bumbu utama dalam pemberitaan semacam ini. Ketimpangan sosial ditampilkan dalam kontras mencolok: selebritas dari pusat datang membawa daging dan renovasi sekolah kepada “mereka yang tertinggal.” Narasi ini mengundang decak kagum dan rasa haru, namun sekaligus menyuguhkan kemiskinan sebagai tontonan emosional, bukan sebagai persoalan struktural yang menuntut keadilan sosial.

Di dalam pemberitaan tersebut, masyarakat NTT direpresentasikan sebagai objek pasif penerima bantuan. Tak ada kutipan dari warga yang menerima daging kurban, dari guru atau siswa yang bersekolah di tempat yang direnovasi, atau dari tokoh adat yang memahami konteks sosial setempat. Suara mereka absen. Sebaliknya, narasi sepenuhnya dikendalikan oleh sudut pandang sang pemberi—yang meskipun niatnya tulus, tetap berposisi di atas.

Inilah potret dari relasi kuasa yang tak banyak disentuh dalam berita: siapa yang memberi dan siapa yang diberi, siapa yang berbicara dan siapa yang dibungkam oleh narasi. Ketika kamera datang bersama sapi dan proyek amal, yang tertangkap lensa adalah momen pemberian yang dramatis, bukan proses dialog yang sejajar. Ketimpangan tak ditantang, hanya ditambal sesaat dengan filantropi.

Peran media dalam peristiwa semacam ini sangat krusial. Alih-alih sekadar mengangkat kisah amal selebritas, media seharusnya mampu menggali lebih dalam: mengapa daerah-daerah tertentu di Indonesia masih terpinggirkan secara ekonomi, pendidikan, dan pangan? Mengapa pembangunan tidak merata, meski dana transfer daerah, program nasional, dan janji-janji politik terus bergulir?

Sayangnya, media lebih sering memilih narasi mudah dicerna dan viral: selebritas baik hati, masyarakat miskin penuh syukur, momen haru yang bisa dibagikan ulang berkali-kali. Padahal, tugas jurnalisme yang sehat adalah mengangkat martabat semua pihak, termasuk mereka yang sering kali hanya dihadirkan sebagai latar dari drama kebaikan orang lain.

Tentu, kita tidak boleh menafikan nilai dari aksi seperti yang dilakukan Atta Halilintar dan keluarganya. Kurban yang sampai ke pelosok, sekolah yang direnovasi, dan perhatian yang diberikan ke wilayah yang sering dilupakan negara—semuanya adalah langkah konkret yang patut diapresiasi. Namun jika berhenti di sana, tanpa menyentuh akar persoalan dan melibatkan warga sebagai subjek penuh, aksi seperti ini akan mudah larut dalam musim dan popularitas.

Yang dibutuhkan bukan sekadar aksi amal, tapi perubahan struktural. Yang diperlukan bukan hanya tangan yang memberi, tetapi juga sistem yang membuka ruang agar setiap orang, di pelosok sekalipun, punya kesempatan yang setara. Dan untuk itu, media punya peran penting dalam menyuarakan keadilan, bukan hanya membingkai kebaikan dalam kemasan dramatis.

Ada saatnya kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya: apakah yang lebih penting dari daging sapi di Idul Adha adalah martabat manusia yang terus-menerus terlupakan? Apakah kita sedang membantu, atau hanya sedang merasa lebih baik tentang diri sendiri? Di antara kamera yang merekam dan sapi yang disembelih, jangan sampai martabat yang hilang justru menjadi harga yang paling mahal.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.