40 Tahun Bersama Sang Sabda: Pater Thomas Tue, SVD Rayakan Panca Windu Imamat

oleh -1812 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Mbay – Dalam suasana penuh syukur dan sukacita, Pater Thomas Tue, SVD merayakan 40 tahun imamatnya dalam sebuah misa meriah di Kampung Bajo, Paroki Santu Mikhael Mundemi, Rabu (9/7/2025). Perayaan yang mengangkat tema “Allah adalah Kasih, Kasih Setia-Nya Tetap Selamanya” ini menjadi momentum iman yang menyentuh hati banyak umat yang hadir.

Misa syukur dipimpin langsung oleh yubilaris Pater Thomas Tue, SVD, didampingi 16 imam konselebran dan satu diakon. Perayaan diawali dengan penjemputan para imam dan yubilaris oleh gong gendang dan tim penari disusul sapaan adat yang hangat dan khidmat—sebagai bentuk penghormatan kepada sang putra terbaik Bajo yang telah mengabdikan diri selama empat dekade dalam Serikat Sabda Allah (SVD).

Mengusung tema “Allah adalah Kasih, Kasih Setia-Nya Tetap Selamanya,” misa syukur ini bukan sekadar mengenang panjangnya perjalanan waktu, tetapi juga menjadi momen rohani yang menyentuh banyak hati, menggerakkan rasa syukur kolektif, dan menyulut semangat baru dalam hidup panggilan.

Dalam kata pengantar misa, Yubilaris menekankan makna khusus dari perayaan ini. “Perayaan ini sangat istimewa karena bertepatan dengan tahun 2025 sebagai tahun yubileum, peringatan 150 tahun berdirinya Serikat Sabda Allah (SVD), dan juga bersamaan dengan peringatan 80 tahun Imamat Pastor Zakharias Ze, SVD—sosok yang sangat berjasa dalam perjalanan panggilan saya,” ujar Pater Thomas.

Dalam homilinya, Pater Thomas—yang dikenal pendiam dan bersahaja—berbicara jujur dan menyentuh. Ia mengakui bahwa dirinya bukan pengkotbah ulung. Namun justru karena itu, kisah yang dibagikannya terasa begitu nyata. Ia membuka dua pengalaman hidup yang disebutnya sebagai “situasi batas,” titik rawan yang hampir menggoyahkan panggilan imamatnya.

Situasi pertama terjadi dua tahun sebelum tahbisannya, saat ayahnya meninggal dunia. “Saya nyaris mundur. Tapi almarhum Pater Zakharias Ze menguatkan saya: ‘Kamu harus maju terus.’ Dan seluruh keluarga besar benar-benar mendukung saya waktu itu,” katanya dengan suara bergetar. Semua persiapan menuju tahbisan, katanya, diurus sepenuhnya oleh keluarga besar sebagai bukti solidaritas dan iman yang hidup.

Situasi kedua terjadi pada 2016, ketika ia divonis mengalami kerusakan jantung parah. “Dokter bilang jantung saya hanya tinggal dua persen yang berfungsi. Ini sebuah situasi kritis. Malam-malam saya bermimpi bertemu orang-orang terkasih yang telah meninggal. Saya pikir mereka datang menjemput saya,” kenangnya. Namun operasi berjalan sukses, dan pemulihan terjadi perlahan tapi pasti. “Itu semua karena kasih setia Tuhan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Romo Basilius Lewa, Pr yang mewakili Uskup Agung Ende menyampaikan ucapan proficiat dan pesan yang menggugah.

“Panca Windu bukan sekadar perhitungan waktu, melainkan penegasan ulang kesetiaan. Kesetiaan dalam imamat, dalam hidup membiara, dan sebagai pribadi yang memilih membujang demi Kerajaan Allah,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat untuk meneguhkan kembali janji pernikahan, hidup bakti, dan komitmen rohani dengan semangat kekudusan dan ketekunan.

Sementara itu, Pater Eman Embu, SVD selaku Provinsial SVD Ende menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf atas nama Serikat Sabda Allah.

“Pastor Thomas telah mendedikasikan diri selama hampir 40 tahun, khususnya dalam pengelolaan keuangan serikat untuk kepentingan misi. Walau ada jatuh bangun, ia tetap setia. Kami minta maaf jika serikat belum sepenuhnya mengapresiasi karya yang sudah dilakukan itu,” ungkapnya jujur.

Ketua Panitia Panca Windu, Albertus Wundu, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga.

“Dari Stasi Bajo telah lahir enam imam, satu bruder, dan satu suster. Ini bukti bahwa tanah Bajo subur untuk panggilan hidup bakti,” katanya disambut tepuk tangan.

Ia berterima kasih kepada seluruh panitia, keluarga besar Pastor Thomas, serta Provinsial SVD Ende, Vikep Mbay, Pastor Paroki Mundemi, para imam konselebran, serta koor dari Politeknik St. Wilhelmus Boawae yang mengangkat suasana liturgi secara istimewa.

Yang tak kalah penting, kehadiran umat Stasi Bajo dalam jumlah besar menjadi saksi cinta kolektif yang mendalam terhadap seorang imam yang hidupnya dikenal tak banyak bicara, tetapi penuh kerja nyata. Juga hadir komunitas religius dari berbagai kongregasi, para sahabat, hingga rekan kerja, serta para kenalan yang mengikuti jejak pengabdiannya dari kejauhan.

Usai misa, umat dan tamu undangan mengikuti acara ramah tamah keluarga yang disiapkan dengan hangat oleh panitia dan keluarga besar. Di tengah kampung Bajo, digelar acara syukuran sederhana namun penuh makna. Tak ada kemewahan berlebih, namun ada limpahan kasih yang nyata: dari makanan rumahan yang lezat, tawa dalam canda hangat, hingga cerita-cerita nostalgia dari sahabat dan kerabat.

Semua elemen acara—liturgi, adat, syukuran, dan kebersamaan—dirancang dengan baik oleh panitia dan keluarga besar. Mereka bergotong royong sejak hari hari sebelumnya untuk memastikan bahwa pesta ini bukan hanya untuk seorang imam, tapi juga menjadi pesta iman bagi seluruh umat.

Pater Thomas Tue, SVD telah membuktikan bahwa kesetiaan, meski tak selalu mendapat sorotan, memiliki kekuatan membangun sejarah panjang dalam karya dan pelayanan. Dan perayaan Panca Windu ini menjadi gema dari kasih setia Tuhan—yang bekerja dalam kesederhanaan, dalam kerja diam dan dalam doa yang tak pernah padam. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.