RADARNTT, Kupang – Bakal calon wakil bupati kabupaten Alor periode 2024-2029 dari partai Demokrat Lukas Reiner Atabuy (Rey Atabuy) menyatakan menghormati pilihan politik mantan Bupati Alor Amon Djobo yang mendukung secara terang-terangan salah satu pasangan bakal calon.
Hal ini disampaikan Rey Atabuy setelah menyimak video pidato Amon Djobo yang beredar luas di sosial media saat menghadiri sebuah acara yang diduga diadakan salah satu pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati kabupaten Alor untuk bertarung di Pilkada akhir November mendatang.
“Kita hormati pilihan politik pak Amon Djobo yang mendukung salah satu pasangan bakal calon yang cuplikan videonya pidato sedang beredar,” kata Rey Atabuy usai pemeriksaan kesehatan Senin (2/9/2024) malam.
Menurutnya, sebagai insan politik tentu memiliki kebebasan memilih siapa yang didukung. Perbedaan itu indah, kata Rey Atabuy, mari bersanding dalam perbedaan dan keberagaman pilihan.
“Itulah hak politik masing-masing pribadi dan mari kita bersanding secara sehat tanpa saling melukai hati,” tegas Rey Atabuy.
Ia mengatakan, pernah terlibat aktif bekerja untuk memenangkan orang maka sudah cukup memahami apa dan bagaimana untuk menang.
“Kita pernah urus orang untuk menang jadi kita tahu bagaimana untuk menang,” tandas Rey Atabuy yakin.
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Alor itu menegaskan, bila nanti dia juga menjadi mantan bupati akan memilih berada di antara semua dan memberi spirit bagi semua kader yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan yang ditinggalkan.
“Jika suatu saat nanti kita juga direstui dan menjadi mantan bupati akan berada di antara semua kader yang akan melanjutkan kepemimpinan,” pungkasnya.
Diketahui, video berdurasi singkat beredar di media sosial yang menunjukkan mantan bupati Alor Amon Djobo sedang berpidato di sebuah acara yang diadakan oleh salah satu pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati kabupaten Alor.
Dalam pidatonya, Amon Djobo menyentil beberapa isu temasuk keberagamaan dan toleransi antar umat beragama.
Menurut Amon Djobo, bupati tidak mengurus agama tertentu tetapi pembangunan masyarakat secara umum.
“Selama 10 tahun memimpin Bupati tidak pernah membaptis orang,” demikian salah satu bagian pernyataan Amon Djobo. (TIM/RN)







