RADARNTT, Kupang – Hasil survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) elektabilitas bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) pasangan Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu (SIAGA) selalu menempati urutan kedua di beberapa simulasi.
Elektabilitas para bakal calon dalam simulasi tiga pasangan, SIAGA berada di posisi kedua dengan 22,7 persen disusul Yohanis Fransiskus Lema jika dipasangkan dengan Refafi Gah 19,1 persen. Dalam simulasi ini, Melki Laka Lena dipasangkan dengan Jane Natalia Suryanto berada di urutan pertama dengan 36,6 persen.
Pasangan SIAGA selalu berada di posisi dua dalam beberapa simulasi, dengan raihan elektabilitas yang signifikan yakni rata-rata 22 persen dibanding sebelumnya yang hanya mendapatkan angka tertinggi dua persen.
Pengamat Politik Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Lasarus Jehamat mengatakan, meningkatnya elektabilitas pasangan SIAGA karena masifnya sosialisasi dari pasangan tersebut.
“Bacaan saya, ini lebih karena masifnya sosialisasi mereka. Karena mereka sudah punya pasangan yang sudah fix. Ini berbeda dengan dua bakal calon lain yang masih mencari calon wakil,” kata Lasarus Jehamat, Sabtu (27/7/2024) saat diminta tanggapan hasil survei SMRC.
Lasarus kembali menegaskan bahwa melejitnya hasil survei untuk pasangan SIAGA disebabkan karena masifnya sosialisasi.
Ia mengatakan, posisi wakil berpengaruh tergantung pada popularitas dan kemudian keberterimaan masyarakat. Sementara, dua bakal calon yang belum menentukan sikap, jelasnya, punya kelebihan dan kekurangan.
“Kelebihannya, mereka agak matang menentukan calon. Sementara kelemahannya, peluang sosialisadi masif terbatas,” tandasnya.
Pendapat serupa disampaikan Pengamat Politik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Urbanus Ola Hurek, tentang survei elektabilitas pasangan calon gubernur NTT yang dirilis SMRC cukup mengejutkan.
“Kejutan terjadi karena hasil survei SMRC ini menunjukan Paket SIAGA mengungguli Ansy Lema. Pada survey sebelumnya paket SIAGA jauh di bawah Melki Lakalena dan Ansy Lema,” sebut Ola Hurek.
Perubahan elektabilitas ini, kata Ola Hurek, disebabkan oleh semakin mengerucut pasangan calon yang akan terlibat dalam kontestasi Pilgub NTT. Bergabungnya Gerindra dan Golkar bersama beberapa partai lain mendukung Melki Laka Lena maka semakin mengerucut pasangan calon dalam pilkada tahun 2024.
“Pemilih yang sebelumnya tidak memberikan pendapatnya saat survei kini sudah terbuka menentukan pilihannya,” jelasnya.
Di samping itu, kata Ola Hurek, pola penetapan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di NTT tetap mengacu pada model politik akomodatif sehingga kandidat-kandidat yang disimulasikan pun tidak jauh berbeda antara Flores -Timor atau Timor- Flores dengan sejumlah atribut ikutannya.
“Jika tingkat elektabilitas ini tetap menunjukan pergerakan seperti ini maka bisa diprediksi kontestasi dalam Pilgub di NTT 2024 sangat kompetitif,” pungkasnya. (TIM/RN)







