RADARNTT, Labuan Bajo – Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Edistasius Endi, menyatakan pemberitaan Majalah Tempo edisi 13–19 April 2026 bertajuk “PT NasDem Indonesia Raya Tbk” merupakan “cambuk” bagi kader untuk berlari lebih kencang menuju Pemilu 2029, bukan sekadar respons spontan terhadap kritik media. Ia mencerminkan pilihan strategi komunikasi politik yang penting: mengubah tekanan eksternal menjadi energi konsolidasi internal. Namun, strategi komunikasi seperti ini hanya akan efektif bila disertai langkah reflektif, transparansi organisasi, dan penguatan agenda publik yang nyata, bukan sekadar mobilisasi loyalitas kader.
“Berita Tempo adalah cambuk bagi kita kader Partai NasDem untuk bergerak lebih kencang meraih masa depan yang gemilang,” tegas Edi Endi, Kamis (16/4/2026) pagi via seluler.
Dalam tradisi demokrasi modern, kritik media terhadap partai politik adalah mekanisme koreksi yang sehat. Pers bukan musuh partai, melainkan bagian dari ekosistem demokrasi yang menjaga akuntabilitas kekuasaan. Karena itu, framing bahwa pemberitaan kritis sebagai “cambuk” harus dipahami secara konstruktif, bukan defensif apalagi ofensif. Jika benar dimaknai sebagai cambuk, maka cambuk itu seharusnya mendorong pembenahan tata kelola partai, memperkuat integritas organisasi, dan memperjelas posisi politik partai di tengah tuntutan publik yang semakin rasional dan kritis.
“Majalah Tempo memantik kader Partai NasDem untuk bangkit dan bergerak lebih kencang membangun konsolidasi internal dan soliditas menghadapi kontestasi Pemilu dan Pilkada mendatang dalam satu garis komando Ketua Umum Surya Paloh,” tegasnya.
Seruan Edistasius Endi agar kader tetap solid bersama Ketua Umum Surya Paloh menunjukkan bahwa isu yang berkembang tidak hanya menyentuh citra partai, tetapi juga menyentuh pusat legitimasi kepemimpinan. Dalam banyak pengalaman partai politik di Indonesia, ketika kritik media mulai dikaitkan dengan figur sentral partai, maka potensi disorientasi kader di daerah menjadi nyata. Karena itu, ajakan menjaga soliditas merupakan langkah taktis yang dapat dimengerti. Namun soliditas tanpa refleksi berisiko berubah menjadi loyalitas mekanis yang tidak produktif bagi pembaruan organisasi.
Partai politik modern tidak cukup hanya solid; ia harus adaptif. Adaptif terhadap kritik, adaptif terhadap perubahan sosial, dan adaptif terhadap tuntutan transparansi publik. Jika kritik media dijawab hanya dengan konsolidasi struktural tanpa pembaruan substantif, maka partai berisiko kehilangan momentum kepercayaan publik, terutama di kalangan pemilih muda yang semakin kritis terhadap relasi antara politik dan kepentingan ekonomi.
“Partai NasDem menjunjung tinggi kebebasan pers sebagai pilar keempat demokrasi setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Namun, jangan kebebasan yang kebablasan,” tandas Edi Endi
Di sinilah pentingnya membaca pemberitaan Majalah Tempo secara lebih strategis. Terlepas dari perdebatan mengenai framing dan sudut pandang jurnalistiknya, substansi kritik media seharusnya menjadi bahan evaluasi internal. Partai yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan koreksi biasanya memiliki daya tahan politik lebih kuat dibanding partai yang merespons kritik dengan mobilisasi emosional semata. Politik masa depan menuntut partai yang transparan, terbuka, dan berani menjelaskan posisi strategisnya secara jujur kepada publik.
Ajakan memperkuat konsolidasi organisasi menghadapi verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2027 menunjukkan bahwa NasDem membaca polemik ini dalam kerangka jangka panjang. Ini langkah tepat. Verifikasi KPU bukan sekadar prosedur administratif, melainkan ujian kesiapan struktur partai hingga tingkat akar rumput. Partai yang kuat secara administratif tetapi lemah secara sosial biasanya tidak mampu mempertahankan elektabilitas secara stabil. Sebaliknya, partai yang kuat secara sosial tetapi lemah secara kelembagaan juga sulit bertahan dalam kompetisi elektoral nasional.
Namun konsolidasi organisasi tidak boleh berhenti pada penguatan struktur formal. Konsolidasi sejati adalah penguatan hubungan antara partai dan masyarakat. Ia tercermin dalam keberpihakan terhadap isu rakyat kecil, keterlibatan dalam penyelesaian problem publik, dan keberanian mengambil posisi politik yang jelas terhadap kebijakan nasional yang berdampak luas. Tanpa itu, konsolidasi hanya menjadi aktivitas internal yang tidak beresonansi dengan kebutuhan publik.
Dalam konteks NTT, pesan konsolidasi yang disampaikan Edistasius Endi memiliki makna strategis tersendiri. Wilayah seperti NTT memiliki karakter politik berbasis relasi sosial yang kuat, sehingga kekuatan partai sangat ditentukan oleh jaringan kader di tingkat komunitas. Karena itu, respons kader yang melakukan aksi damai di berbagai daerah menunjukkan adanya loyalitas struktural yang masih terjaga. Loyalitas ini adalah modal penting. Tetapi modal politik hanya bernilai jika diarahkan untuk memperkuat agenda perubahan yang nyata di tingkat lokal.
Partai NasDem sejak awal mengusung narasi “Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.” Narasi ini kuat secara simbolik, tetapi simbol hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam program konkret yang dirasakan masyarakat. Restorasi tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus hadir dan menjelma dalam bentuk keberpihakan pada pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan. Tanpa itu, restorasi berisiko menjadi jargon politik yang kehilangan daya mobilisasi.
Dalam perspektif komunikasi politik, respons kader terhadap pemberitaan Majalah Tempo juga perlu dikelola secara proporsional. Aksi damai adalah hak demokratis. Namun partai harus memastikan bahwa respons tersebut tidak dipersepsikan sebagai tekanan terhadap kebebasan pers. Demokrasi yang sehat membutuhkan partai kuat sekaligus pers yang bebas. Jika hubungan keduanya memburuk, yang dirugikan bukan hanya partai atau media, tetapi kualitas demokrasi itu sendiri.
Orientasi menuju Pemilu 2029 dan Pilkada 2030 yang ditegaskan dalam pernyataan Edistasius Endi menunjukkan bahwa NasDem sedang membangun horizon strategi jangka menengah. Ini langkah realistis. Politik elektoral tidak dimenangkan dalam waktu singkat. Ia membutuhkan konsistensi kerja organisasi, kaderisasi berkelanjutan, dan komunikasi publik yang stabil. Namun strategi jangka menengah hanya akan efektif jika didukung evaluasi jangka pendek yang jujur terhadap tantangan internal partai.
Di titik ini, pemberitaan Majalah Tempo seharusnya dibaca bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alarm. Alarm bahwa partai harus memperkuat transparansi, memperjelas posisi politiknya, dan memperdalam relasi dengan masyarakat. Alarm bahwa kepercayaan publik tidak bisa dipertahankan hanya dengan loyalitas kader. Ia harus dirawat dengan integritas organisasi dan keberpihakan nyata kepada rakyat. Jika NasDem mampu menjadikan polemik ini sebagai momentum pembaruan, maka benar bahwa kritik media adalah cambuk yang menyehatkan. Tetapi jika polemik ini hanya dijawab dengan mobilisasi solidaritas tanpa refleksi struktural, maka cambuk itu hanya akan menjadi gema sesaat yang tidak menghasilkan perubahan berarti.
Pemilu 2029 masih jauh. Justru karena masih jauh, inilah waktu terbaik bagi Partai NasDem untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar partai yang solid secara internal, tetapi juga partai yang matang secara demokratis, terbuka terhadap kritik, dan konsisten memperjuangkan agenda restorasi yang benar-benar dirasakan oleh rakyat. Demokrasi membutuhkan partai seperti itu. Dan publik menunggu pembuktiannya. (TIM/RN)









