“Menuju Zero Stunting”, Chris Mboeik Raih Doktor di UKSW Salatiga

oleh -2618 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Salatiga – Petrus Christian Mboeik mencapai prestasi akademik membanggakan. Chris Mboeik, nama familiar di Suara Pembaruan itu resmi menyandang gelar Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT ini berhasil mempertahankan tesisnya dalam ujian yang berlangsung Rabu, (17/7/2024) dengan judul disertasi “Menuju Zero Stunting Kajian Sosial Budaya dan Kelembagaan di Pedesaan Pulau Timor. Studi Kasus di Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, NTT.”

Chris Mboeik dalam disertasinya menyebutkan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) merupakan kabupaten yang menyumbang angka stunting tertinggi di Indonesia yakni 35,6 persen (SSGI, 2021). Jika tidak teratasi dengan maksimal, masalah stunting akan memberikan dampak buruk terhadap pembangunan nasional karena berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Telah banyak program/kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah sebagai upaya penurunan angka prevalensi stunting serta pencegahannya, namun masalah stunting belum juga dapat diselesaikan dengan baik.

Berangkat dari keresahan ini, Chris Mboeik melakukan penelitian tentang stunting dengan menggunakan kajian sosial-budaya, agar dapat memperoleh gambaran terkait akar permasalahan utama stunting di wilayah perdesaan Timor, Nusa Tenggara Timur.

“Kajian sosial-budaya ini dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi pada 16 keluarga kasus yang memiliki anak stunting yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur,” sebut Chris Mboeik.

Hasil penelitian dalam disertasinya menjelaskan bahwa lingkungan sosial budaya yang menormalisasi kehamilan di luar nikah membuat banyak pasangan yang memiliki anak tanpa adanya kesiapan fisik, mental dan finansial sehingga memberi pengaruh pada status kesehatan dan tumbuh kembang anak yang dilahirkan.

“Hal ini juga tak lepas dari pengaruh status ekonomi, pendidikan dan pengetahuan orang tua yang rendah yang membentuk pola perilaku pengambilan keputusan untuk menentukan pilihan makanan, waktu untuk makan, jenis dan jumlah makanan khususnya bagi ibu hamil dan balita.,” jelasnya

Dalam disertasi, Chris Mboeik juga menjelaskan bagaimana pola intervensi yang selama ini dilakukan belum tepat sasaran.

“Pola pemberian bantuan berupa produk jadi tanpa adanya pendampingan dan pelatihan bagi masyarakat belum memberikan dampak pada perubahan gaya hidup namun semakin meningkatkan ketergantungan masyarakat pada produk-produk bantuan, sehingga kebijakan intervensi yang dilakukan tidak mengalami keberlanjutan,” sebutnya.

Dalam disertasinya Chris Mboeik merekomendasikan akan pentingnya kerja kolaboratif antar lembaga, baik lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam penyusunan program intervensi berbasis potensi lokal yang disertai dengan pelatihan dan pendampingan sebagai upaya perbaikan kondisi sosial, ekonomi serta peningkatan pengetahuan masyarakat dan perubahan perilaku, sehingga dapat tercipta kekuatan sosial-ekonomi keluarga dan kemandirian masyarakat. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.