[Sisip Gagas untuk Momen Pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung Rektor IFTK Ledalero]
Momen pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik di IFTK Ledalero merupakan momen filosofis yang sarat makna. Dalam tradisi filsafat yang mengakar di Ledalero, pengukuhan ini menegaskan komitmen abadi terhadap pencarian kebenaran melalui dialektika nalar dan iman. Sebagai seorang imam SVD yang mendedikasikan hidupnya bagi dunia akademik, Prof. Otto Gusti menghadirkan sintesis unik antara panggilan pastoral dan rigor intelektual, sebuah perjumpaan antara ‘Athena dan Yerusalem’ dalam konteks Indonesia.
Disertasi doktoralnya di Munich yang mengkaji relasi politik dan kekerasan melalui lensa Jürgen Habermas dan Giorgio Agamben mencerminkan kedalaman komitmennya terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kekuasaan, demokrasi, dan martabat manusia. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pemikiran Habermas tentang deliberasi diskursif dan kritik Agamben terhadap biopolitik menjadi relevan untuk membaca dinamika politik kontemporer dari tantangan multikulturalisme hingga kebangkitan konservatisme agama. Prof. Otto Gusti membawa warisan intelektual ini ke dalam ruang-ruang kelas di Ledalero dan di mana saja Beliau diundang untuk berbicara. Terutama nian dalam praksis hidup menggereja dan masyarakat.
Pengukuhan ini juga menandai transformasi institusional yang signifikan. Sebagai rektor pertama IFTK Ledalero setelah bertransformasi dari STFK, Prof. Otto Gusti tidak hanya melanjutkan tradisi panjang pembentukan intelektual calon imam dan awam yang unggul, tetapi juga membuka cakrawala baru melalui integrasi filsafat dengan teknologi kreatif. Dalam era digital yang mengaburkan batas-batas antara yang nyata dan virtual, antara yang sakral dan profan, visi ini menjadi keniscayaan. Filsafat tidak boleh lagi terjebak dalam menara gading, tetapi harus hadir secara kreatif dalam membentuk etika digital, kebijakan publik, dan praksis sosial yang membebaskan.
Perjalanan akademik Prof. Otto Gusti mengingatkan kita bahwa filsafat sejati selalu bersifat ENGAGÉ, terlibat secara kritis dalam realitas sosial-politik tanpa kehilangan jarak refleksifnya. Seperti halnya Thomas Aquinas, ia dipanggil untuk menjembatani yang transenden dan yang imanen, yang ideal dan yang real, dalam upaya terus-menerus mewujudkan ‘bonum commune’, kebaikan bersama. Dalam konteks Indonesia yang sedang bergumul dengan masa depan demokrasinya, kehadiran seorang profesor filsafat politik dari timur Indonesia ini adalah anugerah dan harapan.
Selamat dan sukses, Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung. Semoga pengukuhan ini bukan titik akhir, melainkan ‘KAIROS’, momentum ilahi untuk terus mewartakan kebijaksanaan melalui pengajaran, penelitian, dan pelayanan bagi gereja dan tanah air. AD MAIOREM DEI GLORIAM ET BONUM SOCIETATIS, demi kemuliaan Allah yang lebih besar dan kebaikan masyarakat.
Oleh: Ansel Dore Woho Atasoge
Penulis adalah Staf Pengajar STIPAR Ende Flores









