6 Level Berpikir Taksonomi Bloom

oleh -8833 Dilihat
banner 468x60

TAKSONOMI Bloom adalah suatu struktur hierarki yang menggambarkan tingkat keterampilan berpikir, mulai dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi.

Asal usul kata taksonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu tassein yang berarti mengklasifikasikan dan nomos yang berarti aturan. Jadi, taksonomi mengacu pada klasifikasi hierarkis berdasarkan prinsip dasar atau aturan. 

Istilah ini diperkenalkan Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan tentang kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.

Taksonomi Bloom pertama kali diterbitkan pada 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan. 

Pada 2021, dilakukan revisi oleh Krathwohl dan para ahli aliran kognitivisme, sehingga dikenal dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi ini hanya berfokus pada ranah kognitif dan menggunakan kata kerja sebagai acuan.

Taksonomi Bloom lahir dari hasil pertemuan di Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika pada awal 1950-an. Bloom dan rekan-rekannya menyadari bahwa sebagian besar pertanyaan dalam evaluasi hasil belajar di sekolah hanya meminta siswa mengulang hapalan mereka.

Pada 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill, dan Krathwohl memperkenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang disebut Taksonomi Bloom. Taksonomi ini mengidentifikasi keterampilan dari tingkat yang rendah hingga tingkat yang tinggi.

Taksonomi Bloom terbagi menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun,ranah kognitif lebih sering digunakan dalam pembelajaran. Ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan dan keterampilan berpikir.

Ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom terdiri dari enam level, yaitu:

1. Pengetahuan (knowledge)

Kemampuan merestitusi atau mengulang kembali informasi

2. Pemahaman atau persepsi (comprehension)

Kemampuan memahami petunjuk atau permasalahan, menginterpretasikan, dan menyampaikannya kembali dengan kata-kata sendiri

3. Penerapan (application)

Kemampuan menerapkan konsep dalam situasi atau praktik yang belum dikenal sebelumnya

4. Penguraian atau penjabaran (analysis)

Kemampuan menganalisis konsep menjadi beberapa komponen untuk mendapatkan pemahaman lebih komprehensif tentang dampak komponen-komponen tersebut terhadap keseluruhan konsep

5. Pemaduan (synthesis)

Kemampuan menyusun kembali atau menggabungkan komponen-komponen untuk menciptakan makna, pemahaman, atau struktur baru

6. Penilaian (evaluation)

Kemampuan menilai dan mengevaluasi sesuatu berdasarkan norma, referensi, atau kriteria yang ditentukan

Para pelatih sering menghubungkan ketiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dengan Knowledge, Skill, dan Attitude (KSA). Ranah kognitif lebih menitikberatkan pada pengetahuan (knowledge), ranah afektif pada sikap (attitude), dan ranah psikomotorik pada keterampilan (skill).

(Sumber: Media Indonesia)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.