Oleh: Alfred Lanang
Di era digital serta kemajuan teknologi yang kian pesat, manusia modern diperhadapkan dengan sebuah paradoks. Ketika informasi yang tersaji semakin banyak justru semakin sedikit pula keberanian dalam berpikir sendiri. Saat ini, teknologi semacam mempengaruhi pikiran manusia serta begitu mendominasi kehidupan modern. Akses pengetahuan yang mudah dijangkau, mengalirnya informasi tanpa henti, dan berbagai tawaran menggiurkan dari algoritma kini begitu mewarnai kehidupan manusia modern. Dalam hal ini, kehidupan orang-orang zaman ini sudah tidak dapat dilepas pisahkan dari berbagai informasi, konten viral, bau tren, opini dsb.
Saat ini, peran internet menjadi sangat signifikan. Internet dapat menjamin kemudahan akses, baik dalam menyajikan ilmu dan informasi maupun dalam menyebarkannya. Semua sudah tersedia lengkap di dalam, tinggal gerakan kecil untuk memasuki ruang yang besar.
Ketika semakin banyak yang tersedia di internet, maka munculah budaya instan dan konsumerisme hingga pada titik tertentu lahirlah manusia non age. Lantas, apa itu non age?
Kant dalam esainya berjudul “What is Enlightenment?”, telah jauh-jauh hari mengkritik fenomena tersebut. Baginya, non age itu suatu kondisi ketidakdewasaan seseorang yang diciptakannya sendiri. Dengan kata lain, suatu keadaan dimana seseorang tidak berani untuk menggunakan akalnya tanpa bimbingan dari orang lain. Kant berpendapat bahwa penyebab dari fenomena itu ialah bukan akibat dari ketidakcerdasan seseorang tetapi kurangnya keberanian dalam berpikir. Secara lebih kasar, dapat dikatakan bahwa manusia tidak benar-benar tumbuh dewasa secara intelektual dan karena hal itu maka ia bergantung pada yang lain tanpa suatu sikap kritis dan rasional.
Detik ini pula, berbagai informasi berseliweran di internet secara khusus dalam jagad media sosial yang telah siap saji untuk disantap. Budaya always online, like, dan share, sudah merupakan kebiasan yang kerap dikejar dan dihidupi.
Hal lain yang menjadi pengaruh kuat terhadap manusia era kini ialah ketika mereka lebih suka mencari yang instan, plagiarism tanpa memahami, mengikuti arus informasi, diombang-ambing oleh viralitas, hingga setuju tanpa refleksi mendalam, serta kesepakatan tanpa mempertanyakan. Dari sini terbitlah, “Jika ada yang lebih mudah, mengapa harus menyulitkan diri dengan berpikir.” Namun menjadi miris ketika orang-orang terbenam dalam hoax, penipuan, berita yang tidak valid, opini tanpa argumen serta kebenaran karena kerasnnya suara dsb.
Manusia-manusia masa kini dapat dengan mudah digiring oleh opini-opini suara keras, lebih banyak ikut rame, sampai mudah dipengaruhi banyaknya like hingga mereka lupa untuk memberi ruang refleksi di dalam pikiran dan hati baik secara kritis dan rasional. Hidup manusia seperti dikendalikan oleh sajian menu bergizi dalam media sosial sehingga banyak hal selalu ditentukan oleh algoritma. Di sini, budaya menerima mentah-mentah merupakan yang paling banyak dianut oleh orang-orang. Memang, pribadi-pribadi tertentu merasa diri benar namun banyak yang belum benar-benar berpikir.
Sayangnya jika ini dibiarkan begitu saja, maka seseorang akan mengalami kebuntuan dalam berpikir sebab baginya untuk apa berpikir keras sampai menguras tenaga jika memang sudah ada. Dan persis, ketika pikirannya selalu dituntun dan ditentukan secara mentah-mentah oleh yang berseliweran di medsos maka dapat distigma bahwa dirinya sedang dilanda fenomena non age-ketika orang-orang sudah jarang untuk menggunakan pikirannya secara mandiri di era pengetahuan dan informasi yang merajalela di internet. Meskipun ia dewasa secara usia namun tidak dewasa secara intelektual dan pada taraf tertentu melahirkan kemalasan intelektual.
Kant menerangkan bahwa penyebab fenomena non age ini bukan terletak pada ketidakmampuan akal seseorang melainkan karena kurangnnya keberanian dalam berpikir. Jika kondisi ini dibiarkan terus maka, generasi-generasi kini akan sulit menuju suatu pencerahan dan lebih banyak menguras waktu dalam kegelapan.
Untuk itu, Kant lagi-lagi menyerukan sebuah slogan filosofis yang amat legendaris dari masa pencerahan yang berbunyi, Sapere Aude-beranilah menggunakan pikiranmu sendiri. Dan untuk dapat keluar dari non age, seseorang mesti berani berpikir menggunakan akalnya sendiri tanpa harus diombang-ambing oleh yang lain. Pada akhirnya sebuah pertanyaan melintas di dalam pikiran anda, apakah saya non age?
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







