Sakramen Perkawinan: Ikatan Ilahi yang Mengakar Dalam Hidup Modern

oleh -131 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ferdinandus Darwin

Di tengah hiruk pikuk kehidupan masa kini yang penuh dengan pilihan dan perubahan cepat, perkawinan seringkali dihadapkan pada pertanyaan tentang makna dan keawetannya. Bagi umat Kristen Katolik, sakramen perkawinan bukan sekadar bentuk perjanjian duniawi antara dua orang, melainkan sebuah ikatan Ilahi yang dirancang untuk mengakar kuat bahkan di tengah realitas hidup modern yang kompleks.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan dalam Familiaris Consortio-eksortasi apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 22 November 1981. Selain itu, konsep cinta dari Erich Fromm dalam karyanya The Art of Loving (1956), Konsep Relasi Aku-Engkau dari Martin Buber dan Filsafat Wajah dari Emanuel Levinas memberikan perspektif mendalam yang dapat memperkaya pemahaman kita terhadap ikatan perkawinan.

Makna Ilahi sebagai Dasar yang Kokoh

Sakramen perkawinan dianggap sebagai cerminan hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Ini berarti ikatan yang terbentuk bukan hanya dibuat oleh pasangan, melainkan disaksikan dan diberkati langsung oleh Tuhan. Pasangan yang menjalani sakramen ini tidak hanya berjanji mencintai satu sama lain dalam suka dan duka, tetapi juga berkomitmen untuk saling mendukung dalam pertumbuhan Rohani dan menjalankan panggilan sebagai keluarga yang berakidah.

Menurut Familiaris Consortio ayat 56, sakramen perkawinan adalah sumber dan sarana utama pemurnian diri bagi pasangan suami istri Kristen dan keluarga mereka. Ia menguatkan serta memperdalam karunia pemurnian yang diberikan melalui baptisan. Melalui misteri kematian dan kebangkitan Kristus, cinta perkawinan diperkaya, dimurnikan dan ditinggikan dengan karunia kasih karunia yang khusus.

Konsep Relasi Aku-Engkau dari Martin Buber

Dalam bukunya Ich und Du (Aku dan Engkau 1923), Buber membedakan dua pola hubungan manusia: Aku-Dia (Ich-Es) dan Aku-Engkau (Ich-Du). Hubungan Aku-Dia bersifat objektif, di mana pihak lain dilihat sebagai benda yang dapat digunakan, diukur, atau diperoleh manfaatnya-seperti melihat pasangan hanya dari segi penampilan, status ekonomi, atau kemampuan memenuhi kebutuhan pribadi.

Sebaliknya, hubungan Aku-Engkau adalah relasi dialogis yang mendalam, di mana kedua pihak saling mengaku keberadaan dan keunikan satu sama lain sebagai subjek yang hidup, bukan objek. Dalam relasi ini, tidak ada dominasi atau eksploitasi, melainkan adanya kesadaran bahwa kehidupan manusia menemukan maknanya melalui hubungan yang autentik, bahkan terkait dengan hubungan dengan Tuhan sebagai Engkau Abadi.

Konsep Cinta dari Erich Fromm

Erich Fromm mengemukakan bahwa cinta bukanlah perasaan pasif yang hanya terjadi pada seseorang, melainkan sebuah seni yang perlu dipelajari dan dipraktekkan secara terus menerus. Elemen inti dari cinta adalah memberikan, yaitu memberikan yang terbaik dari diri sendiri untuk pertumbuhan orang lain dan diri sendri, bukan sekadar memberikan barang atau materi. Cinta juga mencakup pemahaman, perhatian, tanggung jawab dan keberanian untuk menghadapi kemungkinan kehilangan.

Filsafat Wajah dari Emmanuel Levinas

Levinas dalam karyanya, seperti Totalitas dan Tak Terbatas menekankan bahwa etika adalah filsafat pertama. Pertemuan dengan orang lain dimulai melalui wajah (le visage), yang bukan hanya bagian fisik tubuh, melainkan manifestasi dari keberadaan yang tak terbatas dan panggilan etis. Wajah orang lain membawa perintah ontologis: Jangan membunuh, yang mengingatkan kita akan tanggung jawab tak terbatas terhadap orang lain. Kita tidak boleh melihat orang lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan sendiri, melainkan sebagai makhluk yang memiliki martabat dan hak yang harus dihormati.

Wajah menjadi jendela untuk bertemu dengan yang transenden, sehingga pertemuan dengan orang lain juga merupakan pertemuan dengan Tuhan secara tidak langsung. Makna Ilahi dari sakramen perkawinan yang diperkaya oleh konsep-konsep filosofis ini, menjadi pondasi yang kokoh, berbeda dengan pandangan perkawinan sebagai kontrak yang dapat diakihiri kapan saja.

Menghadapi Tantangan di Era Modern

Hidup di zaman sekarang tidaklah mudah bagi pasangan suami istri. Tekanan ekonomi yang semakin berat, tuntutan karir yang menguras waktu, serta pengaruh budaya yang sering mengedepankan kepentingan individu di atas komitmen bersama menjadi ujian besar bagi ikatan perkawinan. Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap makna sebenarnya dari sakramen ini membuat sebagian orang hanya menjalankannya sebagai formalitas semata, tanpa menyadari tanggung jawab dan berkat yang melekat padanya.

Familiaris Consortio menyadari bahwa keluarga di era modern menghadapi berbagai perubahan sosial dan budaya yang mendalam, seperti fenomena ikatan bebas de facto. Dokumen tersebut menegaskan bahwa perkawinan yang sah memiliki nilai mendalam dan Gereja mendorong Upaya pencegahan dengan menanamkan nilai kesetiaan pada diri kaum muda sejak dini.

Dari perspektif Martin Buber, dominasi pola Aku-Dia dalam hubungan modern sering membuat pasangan sulit menjalin relasi yang autentik. Eric Fromm juga mengkritik pandangan cinta yang bersifat sentimental dan sementara, yang banyak ditemukan di masyarakat kapitalis. Sementara itu, Emanuel Levinas mengingatkan bahwa ketika kita mengurangi orang lain menjadi objek atau totalitas yang dapat dikendalikan, kita merusak martabat mereka dan membuka peluang bagi kekerasan atau pengabaian.

Justru di tengah tantangan ini, makna Ilahi dari sakramen perkawinan dan pemahaman tentang cinta serta relasi yang autentik dari Buber, Fromm dan Levinas menunjukkan nilainya-memberikan kekuatan spiritual dan praktis bagi pasangan untuk menghadapi setiap rintangan dengan sabar dan cinta.

Relevansi dalam Membangun Keluarga dan Masyarakat yang Sehat

Sakramen perkawinan tidak hanya bermanfaat bagi pasangan itu sendiri, tetapi juga memilki peran penting dalam membagun masyarakat. Keluarga yang dibangun di atas dasar ikatan Ilahi cenderung lebih mampu menghargai nilai-nilai kesetiaan, tanggung jawab dan pengorbanan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini akan belajar tentang cinta yang tulus dan komitmen yang sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan menjadi pondasi bagi generasi mendatang yang lebih bertanggung jawab. Familiaris Consortio menyatakan bahwa perkawinan adalah dasar dari komunitas keluarga yang lebih luas, karena institusi perkawinan dan cinta perkawinan itu sendiri diatur untuk kelahiran dan pendidikan anak-anak serta memberitakan Injil. Keluarga juga diharapkan dapat berkontribusi pada terwujudnya keadilan.

Dari sisi Martin Buber, relasi Aku-Engkau dalam perkawinan menjadi model bagi hubungan antar individu dalam masyarakat- di mana setiap orang diakui sebagai subjek yang berharga. Sementara itu, Eric Fromm menekankan bahwa cinta yang matang bukan hanya memperkuat hubungan antarindividu, tetapi juga menjadi dasar bagi masyarakat yang lebih manusiawi dan penuh kasih. Lebih lanjut, Emanuel Levinas mengajarkan bahwa tanggung jawab terhadap orang lain yang dimulai dari perkawinan dan keluarga akan menjadikan masyarakat lebih peduli terhadap keadilan dan martabat manusia. Di era di mana nilai-nilai keluarga sering tergerus, sakramen perkawinan yang diperkaya dengan konsep-konsep filosofis ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat unit dasar masyarakat ini.

Sakramen perkawinan bukanlah sebuah bentuk tradisi yang ketinggalan zaman, melainkan sebuah hadiah Ilahi yang tetap relevan bahkan di tengah dinamika kehidupan modern. Familiaris Consortio memberikan landasan ajaran yang kuat, sementara konsep relasi dari Martin Buber, cinta dari Eric Fromm dan Filsafat Wajah dari Emanuel Levinas menawarkan padangan praktis dan mendalam tentang bagaimana cinta dan relasi dapat dihidupi secara aktif dan bertanggung jawab. Dengan menggabungkan kedua perspektif ini, pasangan suami istri dapat membangun ikatan yang kuat, penuh berkat dan mampu menghadapi segala tantangan yang datang. Ini adalah investasi bukan hanya bagi kebahagiaan pribadi, tetapi juga untuk masa depan keluarga dan masyarakat secara luas.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.