Sajadah, Jalanan dan Ibadah yang Membumi

oleh -1005 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Sering kita melihat seseorang yang seenaknya membuang sampah dari jendela mobilnya, padahal ia baru saja memarkir kendaraannya selepas solat Jumat. Kita melihat keberagamaan masyarakat kita, seakan seakan tak sanggup menyelaraskan antara ruang sakral dengan ruang publik. Dua alam itu seakan terpisah. Lalu, mengapa kualitan iman masyarakat kita seakan tak berlaku hingga ke jalanan, kantor, hingga dalam solidaritas kehidupan bernegara?

Potret kebangsaan kita sangat paradoksal dengan tingkat religiusitas yang tinggi, karena masih diselimuti tingginya pelanggaran hukum, korupsi, serta nihilnya budaya tertib publik. Hal ini perlu dengan jujur kita nyatakan, sebagai wahana berkaca diri, muhasabah dan introspeksi diri.

Bisikan-bisikan sujud di permukaan bumi seakan tak mampu menembus ketinggian langit, karena hakikat sajadah sebagai tempat sujud, yang mestinya dapat dipahami secara kudus dan sakral, namun tidak dijadikan simbol komitmen moral. Akibatnya, solat dan puasa yang dilakukan, tidak menjadi wahana spiritual, hingga sulit mencapai kedekatan dengan Yang Maha Tinggi.

Praktek ritual yang sejatinya dilakukan selama bulan Ramadhan ini, mestinya dijadikan ajang transformasi spiritual, sehingga pengertian “transformasi” tidak hanya berhenti dan mandek dalam tataran sajadah secara kasatmata. Tetapi, harus terus ditingkatkan sebagai kebangkitan untuk meningkatkan kualitas akhlak dan moral.

Di dalam aktivitas solat, harus ada sasaran yang ditekankan Rasulullah, sebagai “tanha ‘anil fahsya wal munkar” (mencegah perbuatan keji dan mungkar). Hal ini selaras dengan kualitas akhlak Rasulullah, yang sekaligus menjadi metafora ruang publik, bahkan dalam kehidupan bernegara.

Penelusuran historis dan teologis tentang bagaimana pemahaman agama dalam banyak konteks, kini telah menyempit menjadi urusan ibadah personal dan simbolisme identitas, sementara dimensi sosial-sipilnya terpinggirkan. Dari sisi berpakaian, tampak adanya kesalehan, seakan mencerminkan akhlak simbolik, namun hakikatnya mengabaikan kepentingan masyarakat sipil yang lebih luas.

Di dalam surat Al-Ma’un jelas-jelas Allah berfirman: Celaka bagi mereka yang melakukan solat, yang lalai dalam solatnya, karena mengharap pujian makhluk, serta abai dan tak membekas dari aktivitas ubudiyahnya. Itulah yang disebut kesalehan performatif, yakni kesalehan yang dipertontonkan untuk

pengakuan sosial namun tidak mengakar dalam perilaku nyata. Dalam istilah psikologi, kita juga mengenal istilah “disonansi kognitif” dalam kehidupan keberagamaan.

Jiwa-jiwa manusia yang terbelah, dengan bersikap saleh di mihrab namun acuh di ruang publik, akan berdampak serius bagi tumpulnya mental serta sulitnya karakter bangsa akan berkembang. Karena bagaimana pun, akhlak bukanlah urusan individu, tetapi bagian dari sistem yang terus berjalan. Ini akan sulit ditumbuhkan dari modal pendidikan yang hanya mengacu pada hafalan-sentris, institusi yang korup, serta teladan pemerintah yang merusak mentalitas warganya.

Menurut cendekiawan terkemuka Al-Ghazali, akhlak mestinya mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, bukan hanya ritual dan jadwal ibadah, melainkan cara hidup yang baik. Hal ini dengan sendirinya meliputi tanggungjawab moral, kejujuran publik, partisipasi, solidaritas, penghormatan hukum, dan kepedulian lingkungan. Dalam istilah umum dikenal “maslahat” atau “kemaslahatan” yang mengandung arti demi kepentingan umat (publik).

Konektisitas antara praktek ubudiah dengan perubahan karakter bangsa, sangat perlu ditekankan oleh pada da’i dan mubalig. Fenomena pejabat korup yang rajin melakukan solat itulah yang dimaksudkan dengan kata “riya” yang dikecam oleh Tuhan dalam Al-Quran. Karena, dia akan membangun citra buruk, bukan saja bagi dirinya tetapi sekaligus bagi agama yang dianutnya.

K.H. Mustofa Bisri bahkan pernah membacakan puisi, tentang tertibnya seekor anjing yang akan menyeberang jalan raya di Singapura, sehingga ia tak mau melangkah sebelum lampu hijau menyala. Hal-hal kecil sebagai cermin akhlak akan berdampak pada skala makro, karena tak ada konsep perubahan yang baik, kecuali harus dimulai dari diri sendiri, serta dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Disi lain, kita menyaksikan sehari-hari paradoks warga digital yang gemar berbagi konten Islami, namun dengan entengnya menyebarkan hoaks, menghujat, dan memperkeruh ruang publik digital. Hal ini sama sekali tidak mencerminkan etika bermedia sosial sebagai bagian dari akhlak bernegara di era kontemporer.

Untuk itu, perlu kiranya membangun jembatan, sebagai ikhtiar mengintegrasikan kesalehan individu dan sosial, ritual dan spiritual, bahkan antara sajadah dan jalanan. Khotbah-khotbah Jumat, sarana pendidikan di pesantren, pengajian dan tadarusan, hendaknya perlu dioptimalkan agar turut-serta membangun civic virtue. Kita juga perlu memberdayakan konten-konten keagamaan agar dapat berintegrasi dengan kesadaran bernegara tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.

Tetapi pada prinsipnya, ruang keluarga dan sekolah adalah laboratorium pertama untuk membangun akhlak berbangsa dan bernegara. Karena itu, konsep pendidikan di sekolah tidak semata-mata mendidik siswa, tetapi harus mendidik warga negara. Kita juga perlu menyoal hakikat pendidikan yang memisahkan pendidikan agama dari pendidikan kewarganegaraan. Kita tidak cukup membina generasi bangsa yang hanya sekadar hafat ayat dan dalil agama, tetapi juga paham hak dan tanggung jawab sipilnya.

Negara dan pemerintah punya tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya civic virtue. Mereka harus serius mendesain ruang publik yang manusiawi, penegakan hukum yang konsisten, dan sistem reward-punishment yang mendidik, karena bagaimana pun akhlak yang baik butuh ekosistem yang baik pula.

Untuk itu, saya sebagai dosen dan pengajar kewarganegaraan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, mengajak semua pihak agar bergerak bersama-sama, guna menciptakan revolusi akhlak dengan tidak memisahkan sajadah dari jalanan, antara ibadah mahdlah dengan hakikat ibadah yang bermakna holistik, demi kebaikan dan perbaikan kita bersama. (*)

Penulis adalah Peneliti dan Dosen Kewarganegaraan di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.