Reuni Sambil Berkaca pada Teman Dekat

oleh -81 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Adiba Historia Bantani

Ada peribahasa yang menyatakan, bahwa tipikal orang yang banyak mengeluh, biasanya justru adalah orang yang banyak dikeluhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini saya rasakan betul, ketika saya mengadakan study tour, sambil reuni bersama teman-teman seangkatan di Pesantren Multazam. Sebagaimana wejangan Kiai Eeng Nurhaeni (Al-Bayan), yang mengutip sabda Rasul, bahwa jika kita mengeluhkan kehidupan diri kita sekali saja, kelak akan ditambah sepuluh kali lipat kesulitan dalam hidup ini. Tetapi, jika kita terampil mensyukuri nikmat Tuhan, kelak rasa syukur itu akan melipatgandakan kebaikan dan kelapangan dalam hidup kita.

Demikian pula hadis qudsi menegaskan, bahwa kebaikan nasib hidup manusia tercermin dari prasangka baik dirinya kepada Sang Pencipta. Tetapi, jika manusia berprasangka buruk, niscaya akan mengejawantah ke dalam nasib buruk dirinya dalam menjalani hidup ini.

Prasangka buruk terhadap Allah selaras dengan prasangka buruk manusia terhadap semesta (makhluk Allah). Sepintas tampaknya bukan penyakit serius, tetapi jika dipupuk sedemikian masif, akan mengejawantah ke dalam perilaku “kufur nikmat” yang tidak bersifat kasatmata, tetapi dipandang serius di mata Allah. Misalnya, kita berbagi perasaan bersama teman dan sahabat dalam reuni sekolah atau pesantren, lalu ada teman yang mengeluhkan berbagai hal yang sebenarnya ringan dan sepele saja, kemudian dia mendramatisir masalahnya seolah-olah persoalan berat dan sulit untuk ditanggulangi. Tidak menutup kemungkinan takdir hidup mengantarkan dia ke dalam imajinasi yang dia bangun sendiri.

Kedang teman dekat di sekitar kita mengeluhkan keadaan dirinya, seperti aku beginilah, begitulah, kurang inilah, tak suka itulah, dan lain sebagainya. Tak terkecuali mereka yang berkarir di dunia usaha, guru, seniman, politisi, bahkan pimpinan dan kepala sekolah. Seorang pelajar atau mahasiswa kadang merasa resah menghadapi ujian dan menjawab pertanyaan dengan pikiran yang berkecamuk mengecewakan. Kadang ada saja teman yang mengalami overthinking, karena sikap kita yang tidak sependapat dan sepemikiran dengannya.

Di akhir bulan, kadang mereka sibuk memikirkan dompet yang menipis, sementara bagi yang punya banyak duit, disibukkan oleh tugas dan pekerjaan yang semakin menumpuk. Semuanya itu lumrah dan lazim adanya, tetapi kebanyakan orang memberinya respons dengan label “mengkhawatirkan”, “mengecewakan”, “menakutkan”, bahkan “kiamat di ambang pintu” dan seterusnya dan sebagainya. Sampai kemudian, rasa depresi itu meningkat kepada sikap frustasi dan tak lagi memiliki harapan hidup.

Kadang sering kita saksikan mereka yang mendengar keluhan-keluhan tipe orang yang seperti ini, lalu membuatnya terprovokasi, hingga kadar semangatnya ikut menurun, percaya dirinya luntur, wajahnya yang cantik kian memudar, karena sering merasa lesu dan tertekan.

Tidak jarang bagi mereka yang merantau, masih juga merepotkan pihak orang tua, nenek, bibi dan paman, hingga kakak dan adik, yang mestinya dapat menyaksikan dirinya sukses dalam menggapai harapan dan impiannya. Namun, orang yang seharusnya menjadikan kebanggaan bagi mereka yang ditinggalkan, justru kian menjadi beban yang sebenarnya tidak cukup layak untuk menjadi kebanggaan keluarga.

Ketika ditanya balik, lantas apa yang sudah kita berikan kepada mereka yang sudah berjuang untuk kita? Jawabannya justru tidak ada (atau belum), apalagi jika ditanya lebih serius: “Apa yang selama ini telah disumbangkan bagi agama dan bangsa ini?”

Kita sebagai seorang muslim (muslimah) seharusnya menjadi tugas kita untuk menyampaikan syiar, amr ma’ruf dan nahi munkar, bahkan sanggup “memprovokasi” dalam pengertian yang positif. Misalnya, menghibur, mengajak tertawa, atau menyuntikkan kata-kata positif dan optimistis, sehingga pada akhirnya bukan kita yang terpengaruh sikap pesimisme tetapi justru kitalah memaknai dan mewarnai, serta memberi dampak positif bagi mereka yang ada di sekitar kita.

Sebagai seorang teman, kita harus dapat merangkul teman dan orang-orang yang kita cintai, baik dalam ajang reuni Darqo-89 di Tanjung Lesung dan Panimbang beberapa waktu lalu, atau reuni yang bersifat religius di Mekah dan Madinah yang direncanakan bersama.

Memang, kadang kita menjumpai teman-teman yang sedang sakit dan memaksakan diri berjumpa kawan-kawan lainnya. Di saat itu, selayaknya kita dapat tampil ceria sebagai obat mujarab bagi semangat hidup mereka, suatu karakter yang membangkitkan mereka dari sikap rendah diri, skeptis dan pesimis, yang justru di situlah “obat berkhasiat” sedang disuguhkan paling mujarab. Ketimbang obat-obatan kimia yang selama ini banyak dikonsumsi, meski dirasa sulit untuk dapat menyembuhkan jiwa-jiwa manusia.

Dalam hidup ini, kita sering menjumpai berbagai macam tipe warna. Hitam, putih, merah, kuning, hijau, abu-abu dan lain-lain. Namun juga, kita dihadapkan oleh berbagai pilihan yang sebenarnya kita memiliki hak untuk memilih. Jadi, kita akan memilih mewarnai, atau justru terwarnai? Jika pun kita sanggup mewarnai, apakah yang akan kita pilih adalah warna hitam, putih, ataukah abu-abu?

Perjumpaan saya dengan teman-teman pesantren Multazam dalam acara reuni dan study tour beberapa waktu lalu, mengingatkan saya pada hadis Nabi (riwayat Bukhari-muslim), yang menyatakan bahwa pergaulan kita dengan seorang penjual minyak wangi, setidaknya akan membawa aroma harum yang melekat dalam diri kita. Sedangkan, jika kita berteman dengan tukang besi, setidaknya kita akan tertular panas dan bau api darinya.

Untuk itu, ketika kita berjumpa dan berkumpul bersama teman-teman, jadilah pribadi yang sanggup mewarnai mereka dalam kebaikan, kesantunan dan sikap toleransi yang saling mendewasakan, (*)

Penulis adalah Alumnus Pesantren Multazam, Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.