Relevansi Iptek dan Ilmu Tasawuf

oleh -1922 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Ahmad Rafiuddin

Ilmu tasawuf pada hakikatnya berkaitan dengan rasa dan intuisi, sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berhubungan dengan hal-hal yang bersifat empiris dan rasional. Di sini, kita perlu meluruskan pandangan umum, seolah-olah antara iptek dan tasawuf adalah dua hal yang saling bertentangan. Padahal, menurut KH Abdul Karim Mahfudz selaku pengasuh ponpes Tebuireng, “Jika kita berpendapat bahwa dunia iptek itu hasil kreasi otak dan pikiran manusia, lalu kita meyakini bahwa buah pikiran manusia itu tak terlepas dari karunia dan anugerah Allah, maka pola pikir semacam itu adalah bagian dari tasawuf juga.”

Ahli tasawuf yang identik dengan sebutan “kaum sufi” berpangkal pada perilaku zuhud dan kemudahan orang yang mengenakan kain wol. Sebagai muslim yang tingkat spiritualitasnya tinggi, kaum sufi tergolong seniman yang telah melampaui panduan mengenai perilaku atau akhlak yang merupakan bagian dari seni menata hidup yang lebih baik.

Jika dalam Islam, akhlak itu identik dengan sikap pengelolaan dan penataan batin, maka tasawuf adalah tata kelola (sikap) untuk menjalankan pola hidup yang berkualitas dan pengampunan. Untuk itu, kami dapat menyebutnya sebagai upaya untuk mencapai pembersihan hati, melalui pelatihan dan berbagai pemeliharaan jiwa.

Jika kita sandingkan dengan iptek dari perspektif Islam, maka kita maknai bahwa hakikat iptek tak mengubahnya dengan sains yang mempunyai kesetaraan dengan ilmu-ilmu lain, termasuk tasawuf juga. Oleh karena itu, dalam terminologi Islam, ia tidak terlepas dari fenomena ilmu yang merupakan kreasi dan karya cipta Allah Swt yang bersifat netral. Tergantung pada pemanfaatan dan pengelolaannya. Jika ia dikuasai oleh tangan-tangan jahil yang cenderung memakainya untuk kerusakan (mafsadah), maka ia akan keluar dari rel-rel akhlak seorang muslim yang baik.

Tasawuf dan sains

Cara memandang tasawuf tentang dunia sains, tentu berbeda dengan masyarakat awam yang tingkat spiritualitasnya masih rendah. Tapi setidaknya, melalui perspektif kaum sufi, kita mengetahui bahwa ilmu pengetahuan dapat diakses dari jalur yang bermacam-macam sesuai dengan karakter obyeknya. Sama seperti dunia filsafat, orang Islam mempunyai kerangka pemikiran tersendiri untuk mendalaminya. Untuk itu, pemikiran filsafat Barat tentu berbeda jangkauan wilayahnya dibandingkan pemikiran filsafat Islam, bahwa hakikat Tuhan selalu melibatkan diri dalam percaturan manajemen kosmik mikro maupun makro di jagat raya ini.

Dasarnya tak terlepas dari teks-teks Al-Quran dan sunnah Nabi yang diselaraskan dengan perkembangan ilmu pengetahuan (iptek) sesuai dengan konteks ruang dan waktunya. Untuk itu, kebutuhan akan iptek tidak terlepas dari unsur kemanfaatan demi perbaikan, kesejahteraan dan kemaslahatan umat. Tetapi, di dunia hiper modern ini, sebagian ilmuwan dan ulama berpendapat, betapa banyak energi, uang maupun intelektual telah dipakai kaum politisi dan penguasa, namun lebih cenderung pada kepentingan mafsadahnya daripada manfaatnya.

Sejarawan Thomas Carlyle pernah menyatakan, “Selama berabad-abad, umat manusia selalu menyibukkan diri untuk mengobati penyakitnya, namun mereka mengadopsi menggunakan obat-obatan yang tak pernah menyembuhkan mereka.”

Ungkapan contoh ini mengindikasikan bahwa pengobatan fisik yang mengandalkan nilai kuantitas, seperti obat yang mahal, uang yang banyak, bahkan otak yang cerdas, bila tak diimbangi dengan kekayaan batin dan spiritual, justru akan mengantarkan manusia pada penghamburan dan kemubaziran semata.

Kiprah kaum sufi

Perlu ditegaskan di sini, bahwa Islam adalah agama yang menghormati ilmu pengetahuan. Kata “ilmu” memiliki jumlah kata terbanyak ketiga dalam Al-Quran, setelah kata Allah dan Rabb. Untuk itu, ketika kita membaca dan menghafalkan Al-Quran, akan terbentuk kesadaran dan keterkaitan antara kata Allah dengan pentingnya ilmu pengetahuan.

Hal ini selaras dengan adagium, bahwa iman tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu. Iman merupakan cabangnya ilmu, dan tidak akan sempurna iman tanpa sempurnanya ilmu. Begitu pun dengan hakikat ibadah, ia dibangun atas dasar ilmu. Ini mengandung konsekuensi logis, bahwa manusia belum mengerjakan ibadah dengan baik, tanpa ilmu yang memadai.

Dalam ilmu tasawuf, mengajarkan tentang kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah. Berbeda dengan ilmu fiqih yang membicarakan syarat-syarat sah atau tidaknya suatu ibadah, akan tetapi dalam tasawuf manusia akan terkoneksi dengan ilmu hakikat perihal keterhubungan dan kebersatuan dengan Sang Pencipta Semesta ini.

Hubungan antara mikro dan makrokosmos, atau jagat cilik dan jagat gede menjadi selaras berkat penghambaan sangmakhluk kepada Sang Khalik. Untuk itu, tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa “tasawuf” hakikatnya merupakan ilmu yang melahirkan ilmu-ilmu pasti seperti ekonomi, soial-politik, filsafat, sastra, kedokteran, militer, matematika, fisika, biologi, hingga astronomi, dan lain-lain.

Salah satu tokoh tasawuf yang memiliki andil besar untuk kemajuan peradaban modern adalah al-Khawarizmi. Dalam kitabnya yang terkenal “Al-Jabar” terdapat penjelasan mengenai gerbang logika yang menjadi dasar dan cikal bakal lahirnya teknologi komputer. Komputer itu sendiri bagaikan prototipe mini dari alam semesta. Kita mengenal dasar sistem bilangan dalam komputer adalah biner: 0 dan 1. Dari angka biner (binari digit) lahirlah sistem bilangan yang lain, yaitu oktal (0-7), desimal (0-9) dan heksadesimal (0-F [10 – 15]).

Pada prinsipnya, melalui ilmu tasawuf, kaum sufi mampu mendalami mistik Islam, serta menyandarkan hal ihwal pengetahuan yang berporos langsung kepada Sang Pencipta ilmu yang sebenarnya. Dialah Sang Sumber segala ilmu pengetahuan. Dengan demikian, metode pengajaran ilmu yang berorientasi pada spiritualitas Islam, sejatinya dilakukan demi perbaikan dan kemaslahatan, sebagai tugas dan amanat manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. (*)

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Lebak, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.