Puasa, Uang dan Keserakahan

oleh -1468 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muakhor Zakaria

Kebudayaan hiper-modern meniscayakan adanya persaingan, bahkan perang terhadap alam dan lingkungan. Perjuangan untuk menjinakkan yang liar telah dikerahkan manusia selama berabad-abad. Agama Samawi memerangi animisme, polytheisme, dan mitos-mitos leluhur. Di sisi lain, aristokrasi memagari kita dari rakyat jelata. Para industrialis menyeret kita dari sawah-ladang menuju pabrik-pabrik. Bangkitnya rasionalitas dan ilmu pengetahuan menyingkirkan emosi serta pengalaman subyektif dari tanah yang dijunjung-tinggi.

Saat ini, kebutuhan manusia untuk menaklukkan alam semakin dipercepat. Proyek-proyek rekayasa genetika, nanoteknologi, dan pembiaran memproyeksikan zat-zat yang dapat mengubah kondisi kesadaran manusia. Sementara, bangunan sistem ekonomi moneter mensyaratkan manusia agar tercerai-berai satu sama lain. Berapa banyak di antara kita yang memandang optimistis dari rusaknya tatanan mikro dan makrokosmos ini? Berapa banyak yang sanggup menjaga integritas dan kejujuran, serta lebih mengutamakan membangun peradaban, ketimbang sibuk mengurusi detak jam dan membayar tagihan utang?

Untuk mengendalikan semua itu, ajaran setiap agama Samawi menganjurkan pentingnya melaksanakan puasa sebagai pengekang jiwa dari bujuk rayu dan hasrat duniawi yang tak terkendali. Berikut dinyatakan dalam Alkitab (Ester 4:16): “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku. Janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguh pun berlawanan dengan undang-undang. Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Hasrat duniawi

Uang membuat banyak orang menggantungkan segalanya pada barang dan jasa yang harus dibayar dengannya. Ketika para ekonom dan pengusaha melihat, misalnya pada hasil-hasil produksi berupa plastik, pestisida, bahan bakar, hingga mainan anak-anak setiap hari, mereka tidak memersepsikannya sebagai penghamburan. Karena kegunaannya dianggap efisien. Meskipun, pada waktunya, akan mengubah perspektif pada kekayaan finansial dan material bagi hajat hidup manusia di muka bumi ini.

Dalam konteks ini, pengendalian sumber daya dapat diberlakukan melalui harga-harga moneter semata. Sementara itu, ekonomi berbagi, entah namanya zakat, derma atau karitas, dianggap sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ekonomi moneter saat ini. Pola hidup yang meniscayakan adanya teknologi tinggi, seakan mendesak agar kita tidak bisa saling berbagi antar sesama.

Di rumah-tangga, seolah kita harus memiliki segalanya. Konsekuensinya, semua saling berlomba untuk menimbun barang-barang di lemari dan gudang, yang barangkali hanya dipakai setahun sekali, atau hanya dipergunakan sekali dalam seumur hidup. Boleh jadi, tetangga dan saudara-kerabat kita pun menimbun barang yang sama. Padahal, jika kita perlu berbagi antara satu dengan yang lainnya, maka sistem ekonomi moneter dengan sendirinya akan kewalahan menghadapi fenomena berbagi ini.

Jika ketergantungan manusia hanya sebatas pada perkara uang dan perut, maka apa bedanya manusia dengan spesies yang sudah punah akhir-akhir ini, seperti macan Tazmania, burung Pouli, badak hitam Afrika, merpati Penumpang, dan boleh jadi, badak bercula satu di Banten juga akan menyusul. Apakah kita lebih mulia dari ciptaan Tuhan lainnya, manakala kita menyandarkan diri pada segala bentuk persaingan yang tidak etis, melanggar norma sosial, serta meluluhlantakkan peradaban sesamanya?

Anjuran Yesus

Kita cenderung memahami rejeki dan keberkahan hidup hanya pada perkara yang lebih banyak, lebih besar, lebih cepat, serta pada tingginya kedudukan dan status sosial. Tanpa disadari, kita sedang membunuh diri secara egosentris, dan tampaknya kita tidak menemukan cara yang baik untuk mengobati itu. Kita cenderung menggunakan obat-obat yang sama sekali tak pernah menyembuhkan penyakit fisik maupun delusi kejiwaan dalam kita sendiri.

Kini, kita mencapai titik ketika selera terhadap sumber daya telah menimbulkan bencana ekologis yang sangat masif. Kecanduan pada perilaku konsumerisme bukan hanya masalah individu, tetapi sudah menjadi tren pada taraf organisasi, partai politik dan lembaga sosial kemasyarakatan.

Sistem ekonomi yang kita bangun justru mengokohkan pola budaya yang menganggap pengeluaran uang sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan, seakan kita sudah kadung terbelenggu pada pola pikir itu. Masyarakat kita belum mampu membedakan pengaruh jangka pendek dan jangka panjang, yang dapat menjadi solusi dan membantu penyembuhan.

Perilaku adiktif seringkali dianggap sebagai solusi bagi penyelesaian masalah, meskipun dalam jangka panjang akan menimbulkan malapetaka yang merugikan diri dan orang lain. Hal ini merupakan lingkaran setan, ketika seseorang bergantung pada sesuatu, semakin ia merasa membutuhkannya. Semakin kuat ketergantungan pada uang, semakin manusia terjerat pada keserakahan, serta merasa kesulitan untuk keluar dan meraih kemerdekaan jiwa.

Terkait dengan itu, Yesus senantiasa memperingatkan (Efesus 2:8-9): “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Puasa nisbi

Peringatan Nabi Muhammad mengenai banyaknya orang berpuasa, namun tidak dapat mengambil manfaat kecuali hanya lapar dan dahaga. Hal tersebut selaras dengan apa yang dinyatakan Yesus sejak lima abad sebelumnya (Yesaya 58:4): “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”

Apa yang ditegaskan orang-orang bijak terdahulu, sejatinya esensi dan substansi puasa yang harus diutamakan. Bukan sekadar formalitas ibadah yang hanya mengharap-harap surga, sementara perilaku dan mentalitas tetap tak terkontrol.

Di dalam Alquran juga dinyatakan, bahwa buah dari pelaksanaan puasa adalah ketakwaan. Dengan sikap takwa, seseorang menjadi terkendali jiwanya serta terjaga spiritualitasnya. Bukan sekadar puasa perut, sementara amarah dan caci-maki tetap diumbar ke mana-mana. Sebagaimana ungkapan Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia, “Terjadi paradoks di bulan puasa yang mestinya penuh berkah bagi kaum muslimin Indonesia, tetapi justru kehidupan kriminal dan konsumerisme semakin meningkat.”

Kadang kebencian itu justru ditumpahkan kepada saudara seagama, yang justru sedang sama-sama melaksanakan ibadah puasa juga. Puasa semacam inilah yang bertolak-belakang dengan pesan sentral yang diamanatkan Rasulullah maupun Yesus Kristus sejak 20 abad yang lalu. ***

Penulis adalah Dosen di Universitas La Tansa Mashiro (Unilam), Rangkasbitung, Lebak, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.