Profesor Sableng dari Kota Mekah

oleh -208 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Ada seorang akademisi terpelajar di zaman Rasulullah, yang melancarkan provokasi untuk memerangi Tauhid selevel dengan Firaun di zaman Nabi Musa. Dia termasuk salah seorang petinggi Qurays yang otoritasnya diakui publik selama beberapa dekade. Banyak kaum akademisi dan penyair yang sungkem di hadapan beliau sebagai pembesar kota Mekah. Ya, dialah Amr bin Hisyam yang sangat iri dan dengki dengan pembaharuan yang digagas Muhammad dan para sahabatnya. Ia tidak percaya bahwa ajaran itu adalah mandat dari Tuhan, hingga kemudian mengerahkan anak-anak buahnya untuk melancarkan serangan kepada para pengikut Muhammad.

Agitasi dan propaganda dilancarkan sedemikian masif. Bahkan, kepercayaannya kepada dewa-dewi leluhur, seperti Latta dan Uzza, membuatnya tega menghalangi para sahabat Muhammad yang konsisten menegakkan prinsip keadilan dan agama Allah (Tauhid).

Amr bin Hisyam berasal dari suku Makhzum, yang sebenarnya memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Tetapi, dia merasa terancam reputasinya oleh pergerakan anak-anak muda yang diprakarsai Muhammad. Belum lagi, keluarga Muhammad dari Bani Hasyim, yang dianggap tak layak untuk menggeser posisinya sebagai pembesar kota Mekah.

Provokator kakap ini dijuluki Abul Hakam, yang selevel dengan julukan “Pak Profesor” di kalangan akademisi masyarakat modern saat ini. Karena ia tidak menyukai dengan Tuhannya Muhammad (Allah), konsekuensinya dia sangat membenci pola dakwah, bahkan pola beribadah yang dilakukan para pengikut Muhammad. Ia sering memprovokasi pemuda kaum Qurays, bahkan melancarkan upaya untuk melempari Rasulullah saat melakukan salat di depan Ka’bah.

Sebagai seorang akademisi, ia juga gemar melancarkan konfrontasi langsung, sambil menunjukkan kemewahan harta kekayaan dirinya dan para pengikutnya.

Permusuhan Abul Hakam terhadap ajaran Muhammad, didukung pula oleh kekuatan oligarkis Abu Lahab dan para pengikutnya. Dialah pengusaha besar Mekah yang status sosialnya berada di puncak rantai makanan, sehingga kendali market berada di tangannya. Namun, di usia pasca 40-an, ketika Muhammad terang-terangan menyampaikan ajaran Islam secara terbuka, kontan Abul Hakam kalang kabut menemui para pembesar Qurays, lalu menuduh Muhammad tengah membawa operating system Tauhid yang bakal membongkar algoritma oligarkis di seantero jazirah Arab.

Seketika itu, besannya Muhammad mengeluarkan ultimatum agar sang anak segera menceraikan istri yang baru dinikahinya (Ruqayah binti Muhammad). Banyak pembesar Qurays tak habis pikir, bagaimana Muhammad bisa mengeluarkan deklarasi ketuhanan yang bikin geger seisi jazirah, serta memorak-porandakan tatanan ideologi mapan? Bagaimana mungkin, anak baru kemarin berani menyatakan, bahwa berhala-berhala di sekeliling Ka’bah tidak ada gunanya, kemudian dia menggantinya dengan Tuhan baru yang tak terlihat oleh kasat mata kepala kita?

Bagi Abul Hakam, jelas dakwah Muhammad bukan sekadar ajakan moral biasa, melainkan sebuah “gempa bumi” yang memprak-porandakan sistem, aturan, dan tatanan ideologi wilayah Mekah? Berani amat dia, membawa suatu ajaran yang membongkar habis ideologi dan sistem feodal yang sudah berjalan berabad-abad? Aturan apa pula yang memparalelkan posisi manusia, tanpa ada ikatan kasta dan kedudukan duniawi? Kenapa sampai hati, Muhammad mengutak-atik, bahkan tak lagi membedakan sekat dan kelas bangsawan (kaum elit) dan kelas marjinal (para budak)?

Abul Hakam terus meneropong gerak-gerik perjuangan Muhammad yang dituduhnya sebagai biang kerok “pemberontakan”. Sampai-sampai para pembesar Qurays yang gelarnya mentereng, kedudukannya tinggi, termasuk pengusaha besar seperti Abu Lahab yang tangannya punya kuasa untuk mengetok palu undang-undang di dewan Mekah; yang kata-katanya bisa menjadi hukum pasti; tahu-tahu dihadapkan pada kenyataan bahwa privilege eksklusifnya terpaksa harus dibatalkan.

Banyak pejabat tinggi Mekah yang merasa terancam hendak mengalami downgrade akun dari admin super menjadi user gratisan. Mereka harus berdiri sejajar di shaf belakang jika datangnya memang terlambat, lalu dipaksa berdiri sejajar dengan pelayan dan para budaknya sendiri. Lebih parahnya lagi, otoritas hukum dewan elit kena takedown karena semua landasan aturan sudah beralih pada Wahyu Ilahi yang dibawa oleh anak ingusan baru kemarin. Tetapi, mau tak mau harus dipercaya dan diyakini (immutable) dan tidak lagi ada negosiasi dan kibul-kibulan ala Trump, bahkan tak bisa dilobi pakai saham atau suap menggiurkan dari gratifikasi mewah para klan, maupun mantan petinggi yang masih gemar memelihara kodok dan sesajen di bawah pohon cendana.

Semua traffic kepatuhan tertinggi bakalan berporos dan wajib tunduk pada Satrio Piningit atau Ratu Adil atau Avatar Messias atau Imam Mahdi atau apalah namanya. Yang jelas, di masa itu, Muhammad sebagai keponakan pengusaha besar Abu Lahab, seorang anak yatim piatu yang hidupnya miskin, tiba-tiba tampil di permukaan dengan memengaruhi ide dan pemikiran ratusan hingga ribuan pengikut, tak terkecuali wanita, anak-anak hingga kalangan hamba sahaya.

Seketika itu, ego para elit Mekah meledak sejadi-jadinya. Gengsi super power begitu terusik. Ketakutan kehilangan market share, tahta politik, dan privilege oligarki bikin kewarasan Abul Hakam semakin error. Urat keangkuhannya menolak keras. Di hadapan Abul Hakam dan pembesar Qurays lainnya, sontak Abu Lahab berteriak melengking: “Segala apa dari saya? Anak saya dinikahkan dengan anaknya, semuanya pakai fasilitas saya? Dulu hidup anak-anaknya gue yang nanggung? Enak amat gue disuruh sujud ke Tuhannya, dan menuruti aturan mainnya?”

Abul Hakam cengar-cengir gembira, provokasi dan adu dombanya dianggap berhasil. Demi mengamankan status quo dan menolak di-cancel dari puncak piramida sosial, Abul Hakam bergandeng tangan dengan Abu Lahab dan para pengusaha lainnya, untuk melancarkan sabotase paling brutal kepada para pengikut dan sahabat Muhammad. Para tetua Qurays berikut kaum oligarki bangkotan ikut nimbrung, karena gentar kehilangan tiket VVIP-nya di panggung dunia.

Abul Hakam ini memang tipikal ketua partai besar atau ormas yang kalau ngomong, semua anggota diam membisu. Bahkan, kalau dia datang memasuki pintu gerbang, orang-orang pada minggir dan memberi jalan, selebihnya pada sungkem dan cium tangan. Bahkan, sebagian cendekiawan milenial menilai dia bukan sekadar behind the scene tetapi ikut terjun lapangan menjadi eksekutor kekejaman dan penindasan, bukan hanya pada Muhammad tetapi juga kepada para sahabat dan pengikutnya.

Sebagai seorang akademisi, dia ikut memerhatikan dan menganalisis apa-apa yang disampaikan Muhammad, serta mengulik sisi kelemahannya. Sekecil apa pun kekurangan yang dilakukan sahabat Muhammad, sontak dia bertepuk tangan sambil bisik-bisik tetangga. Suatu ketika, dia juga mengakui, bahwa apa yang dinyatakan Muhammad ada benarnya, bukan semata-mata omong kosong.

Ya, memang ada riwayat yang menceritakan bagaimana profesor senewen ini diam-diam mendengarkan Al-Quran di malam hari, sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan anak-anak buahnya. Coba bayangkan, orang yang paling keras menentang Muhammad di siang hari, tampaknya dia terpesona dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran di malam hari?

Jadi, cerita tentang orang ini bukanlah kisah tentang orang dungu yang sableng dan gak mau mengerti. Tetapi, kisah tentang orang cerdas dan jenius yang tak pernah mau mengalah. Masalahnya, bukan semata-mata soal iman atau nalarnya cetek. Tetapi, menyangkut soal kepentingan, bisnis, status, dan warisan keluarga.

Misalnya begini. Sekarang kamu sudah jadi CEO perusahaan yang dibangun selama tiga generasi. Tahu-tahu muncul “Imam Mahdi” (startup baru), yang produknya lebih bagus, visinya lebih masuk akal, dan orang-orang mulai berbondong-bondong pindah ke sana. Panik dan stres enggak, tuh?

Bukan karena startup dan pembaharu itu salah, tetapi jika dia tampil maka posisi kamu selesai sudah. Nah, Abul Hakam itu merasakan betul di posisi seperti itu. Kalau sampai Muhammad sukses dan berhasil, hegemoni klannya usai dan tamat. Dan itu bagi dia lebih menakutkan dari apa pun juga. Akhirnya, dia nekat kibul sana-sini, adu domba dan kobarkan perang narasi. Sementara, si startup-nya santai-santuy aza, hanya menjalankan tuntutan zaman yang memang sudah seharusnya begitu.

Profesor sableng itu kemudian semakin gencar menyebar framing. Dia bilang Muhammad itu penyihir lah, tukang main dukun lah, banyak jimatnya lah, orang gila yang merusak tatanan sosial, blablabla. Di era sekarang, mungkin tipikal dia itu bakal jadi buzzer paling produktif dan jempolan di media sosial. Tetapi, di kota Mekah saat itu, caranya adalah ngomong sekeras-kerasnya di depan publik, kalau perlu pakai gebrak podium. Mereka juga membayar para penyair dan sastrawan yang karyanya ditempel di dinding-dinding Ka’bah, pamer kekayaan dan kemewahan duniawi, dan seterusnya.

Para sastrawan dan seniman pendukung Muhammad segera di-bully, dilecehkan, kalau perlu diborong semua bukunya dari pasaran, hingga tak sampai di tangan publik, seperti pernah dialami novel Bumi Manusia dan Pikiran Orang Indonesia setelah acara peluncuran di Pesantren Al-Bayan (baca: kompas.id“Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”).

Yang membuat banyak orang bertanya-tanya, kepercayaan macam apa sih yang dibawa Muhammad itu? Tiapkali Abul Hakam dan anak-buahnya menyiksa para pengikutnya, bukannya mereka meninggalkan ajarannya, eeh malah semakin getol dan menggebu-gebu mengikuti petuahnya? Orang-orang semakin penasaran dan mencari tahu: kepercayaan baru model apa ini? Agama macam apa itu? Kenapa mereka itu tak mau mundur selangkah pun? Kenapa pula para wanita dan anak-anak ikut berbaris bersama, ingin menjadi sukarelawan seperti gerakan Jan Fada di Iran, bahkan ikut mengobarkan perang semesta?

Seorang budak dari Habasyah (Etiopia) bernama Bilal bin Rabah juga tak pernah mau mundur selangkah pun, khususnya ketika Abul Hakam memimpin eksekusi dengan menindih batu besar pada dadanya di tengah Padang Pasir. Dalam suasana panas dan terik, budak hitam dari Afrika itu hanya mengeluarkan satu kata dari mulutnya, “Ahad… ahad… ahad….”

Dan setelah dimerdekakan oleh sahabat Abu Bakar, ternyata Bilal memiliki oktaf suara tinggi dan melengking, hingga kemudian dari suaranya yang merdu ia dapat berperan selaku selebriti, sekaligus “iklan” paling kuat untuk mempromosikan Islam, tanpa perlu bikin spanduk, baliho, juga tanpa algoritma dan endorse siapa pun.

Tetapi, karena ego dan keangkuhannya, Abul Hakam tak pernah mau menyadari, bahwa kejahatan dan kesewenangan yang dilakoninya selama ini, ternyata telah membangun fondasi yang justru semakin menguatkan posisi lawannya.

Memang, kaumnya sendiri yang dulu memberi julukan “Abul Hakam” (Sang Profesor), tetapi sejarah kemudian bergulir dan mencatatnya bukan dengan nama itu. Sejarah akhirnya mencatat dia dengan nama “Abu Jahal” (Bapak Kebodohan). Ya, itulah dia… Abul Hakam alias Amr bin Hisyam alias Abu Jahal.

Saya punya firasat, sepertinya Donald Trump dan Netanyahu juga akan mengalami hal yang sama? (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis prosa dan esai di berbagai media lokal dan nasional, seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, Kabar Madura, Kabar Banten, Solopos, Radar NTT dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.