Pola Asuh di Pesantren Modern

oleh -1380 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Achmad Faisal Hadziq

Dalam beberapa industri di dunia pendidikan, peran Artificial intelligence (AI), seakan dapat menggeser peran seorang pendidik dengan mesin otomatisasi yang dianggap efisien. Namun faktanya, hal-hal yang menyangkut peran pendidik yang paling esensial, nampaknya sulit tergantikan oleh cara kerja robot dan mesin.

Pola asuh dan pola ajar yang membutuhkan sentuhan langsung di lapangan, tentu diperlukan interaksi antara pendidik dan anak-anak didiknya. Bagaimana pun, pengasuhan dan pendidikan memerlukan keterampilan khusus manusia, sentuhan langsung, kreativitas, hingga ketarampilan-keterampilan fisik lainnya, seperti mentoring seni maupun olahraga di lapangan terbuka.

Bukan bermaksud melawan peran AI yang tentu diniscayakan untuk memudahkan kinerja dan pekerjaan otot maupun memori manusia. Tetapi, di pesantren modern (khususnya La Tansa), sejak era kelahiran Wali Band hingga terbentuknya Universitas La Tansa Mashiro (Unilam), pelatihan seni yang membutuhkan kecerdasan emosional tentu tak mudah untuk disentuh secara optimal oleh peran AI.

Kreativitas Wali Band dalam berkesenian, baik di dunia musik maupun film, lahir dari kebebasan eksplorasi berdasarkan intuisi manusia yang tak mungkin direplikasi. Aktivitas berkesenian yang sanggup melibatkan diri di wilayah universalitas, serta kemampuan memadukannya dengan nilai-nilai islami, hanya mungkin dilakukan oleh individu-individu yang tergabung dalam tim yang kompak, solid, serta sanggup berpikir out of the box.

Kreativitas atau pemikiran inovatif untuk memaknai ayat-ayat Al-Quran maupun hadis-hadis Nabi, serta kemampuan menafsirkannya dalam konteks milenial, tentu membutuhkan pemecahan yang kompleks untuk mensinergikan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Ini tak mungkin direplikasi oleh peran Gen Z dengan fasilitas AI-nya.

Mungkin saja teknologi memahami kata-kata yang berkaitan dengan emosi, tetapi sanggupkah ia mendalami pengalaman emosional, untuk berempati dan bersentuhan langsung antara pendidik dan anak-didik, yang tentu memiliki latar belakang nasab dari keluarga yang berbeda-beda. Belum lagi jika menyangkut kepekaan dan kepedulian yang membutuhkan empati dan rasa keadilan.

Kecakapan manusia

Untuk mendidik anak-anak santri, khususnya di pesantren La Tansa, dibutuhkan kecakapan dan fleksibilitas yang tak mungkin dikerjakan oleh “sentuhan” robot. Tentu saja ia sangat membantu dalam hal-hal yang menyangkut industri, konstruksi, atau rancang-bangun untuk sarana pendidikan dan asrama santri, tetapi ia tak mungkin mengerjakan sesuatu yang sifatnya manual, seperti pengasuhan, perawatan, pemikiran yang kompleks, interaksi sosial, termasuk inovasi seni, olahraga, bahkan literasi jurnalistik dan sastra yang membutuhkan ketangkasan dalam berbahasa dan linguistik.

Salah satu contoh, jika seorang pendidik menegur muridnya di hadapan murid lainnya: “Pasti urusannya dia lagi?” Atau, “Ah, pintar sekali dia?” Nah, dunia AI tak mampu menafsir kata-kata tersebut, apakah berkonotasi negatif ataukah positif. Padahal, kata “pintar” di situ bisa jadi pengertiannya “licik” atau “nakal” dan seterusnya. Pada konteks ini, dunia AI akan kesulitan memberi jawaban yang jitu untuk memahami konteks sindiran secara akurat.

Peran Pengasuh

Di lingkungan pesantren, kami membina anak-anak santri dari beragam skill, dan sebagian di antaranya akan sulit tergantikan oleh otomatisasi teknologi secanggih AI sekalipun. Di sisi lain, dikarenakan peran AI hanya mereproduksi informasi atau data algoritma yang sudah ada, dengan sendirinya ia akan sulit memiliki pandangan etika dan kearifan lokal, tetapi hanya bertumpu pada sistem etikanya tersendiri.

Sebagai pengasuh dan pendidik, sepatutnya memiliki sikap moral yang tinggi dalam memahami kebutuhan santri dalam lingkup disiplin yang terarah. Tentu saja bukan hanya di lingkungan pesantren dan lembaga-lembaga keagamaan lainnya, setiap pekerjaan atau profesi apapun dibutuhkan sikap moral dan etika yang mumpuni, baik itu guru, psikolog, pengasuh, seniman, sastrawan, bahkan hakim dan jaksa sekalipun.

Prinsip-prinsip moral dan etika yang baik, akan menjadi tiang dan fondasi dalam menjalankan suatu profesi, karena dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat luas. ***

Penulis adalah Akademisi dan Pengasuh Pondok Pesantren Modern La Tansa 2, di Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.