Perihal Surat Terbuka Nirwan Dewanto

oleh -2376 Dilihat
Vintage postcard on the old newspaper texture background
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

Surat terbuka Nirwan Dewanto serta penolakan atas buku kumpulan puisinya “Jantung Lebah Madu”, telah membuat jantung banyak seniman dan sastrawan kita berdebar-debar. Gejala-gejala akan munculnya zaman baru kesusastraan Indonesia patut kita syukuri bersama. Kita tidak menginginkan para pejuang literasi, yang karya-karyanya kelak mengilhami jutaan anak bangsa, berperilaku laiknya para politisi yang kerapkali menampilkan dirinya selaku musang berbulu domba. Kelihatannya manis dan indah secara kasatmata, tetapi perangainya seperti musang yang bersifat mengacau dan merusak tatanan keseimbangan.

Tentu masih banyak sastrawan dan sejarawan kita yang bergantung pada kepentingan induk semangnya yang mewarisi jejak-langkah pemikiran rezim Orde Baru. Seorang juru bicara dinasti Soeharto, Priyo Budi Santoso, justru mengakui di layar teve, bahwa dirinya telah terhipnotis oleh trah Soeharto. Kerinduan akan munculnya penjajah baru ternyata masih diikuti oleh segelintir orang yang mudah terhipnotis oleh sepak terjang mereka. Barangkali mereka lupa memakai term “terhipnotis” yang identik dengan bujuk-rayu yang diberikan kepada orang dalam keadaan linglung dan hilang ingatan.

Terkait dengan itu, saya akan ceritakan pengalaman menarik yang dialami sahabat saya, yang kakeknya pernah hidup di zaman kemerdekaan RI (1945). Selepas pendudukan kolonialisme Belanda, ternyata untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kaum penjajah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adanya blokade pemerintah Belanda terhadap barang-barang ekspor Indonesia, serta berbagai ekspolitasi dan monopoli di sana-sini, ternyata mampu mengecoh dan mengacaukan ekonomi negeri yang baru merdeka kala itu. Di sisi lain, mata uang Hindia Belanda masih terus beredar, hingga pemerintah mengeluarkan mata uang sendiri (De Javasche Bank). Karena belum ada kepastian nilai mata uang, sebagian pedagang dan petani tidak mau menjual dagangan mereka, karena harga-harga belum pasti, dan mudah naik-turun begitu cepatnya.

Kondisi kesehatan masyarakat makin memprihatinkan ketika obat-obatan menghilang dari pasaran karena ditarik oleh pemerintah Belanda. Pada suatu hari, kakek dari sahabat saya meninggal dunia di tahun 1946 karena penyakit malaria. Padahal, ia seorang pejuang kemerdekaan yang pernah berlari ke sana kemari dari kejaran Belanda, berlindung dari tembakan senjata-senjata Jepang (1944). Ia berhasil selamat sebagai pejuang, tetapi kemudian ia tewas justru karena penyakit malaria, di tahun setelah kemerdekaan pula.

Jadi, penjajah mana yang mau menyerahkan tanah jajahananya dengan legawa dan suka rela? Dalam konteks oligarki kesusastraan Indonesia, sastrawan mana yang mau bicara secara terbuka bahwa dirinya telah “terhipnotis” atau “terhalusinasi” oleh bayang-bayang rezim militerisme Orde Baru?

Terkait dengan surat terbuka yang dilayangkan Nirwan Dewanto, dan serta-merta disambut meriah oleh berbagai kalangan, saya teringat opini di harian Kompas, “Membangun Akal Sehat” (24 April 2018), bahwa kekuasaan lama, meskipun hengkang dari teritorial tanah jajahannya, seringkali masih getol mempertahankan mindset, paradigma, maupun software sastra yang menghendaki “penjajahan” tetap jaya dan lestari selamanya.

Memang kentara jelas adanya gejala yang muncul akhir-akhir ini, dari orang-orang yang menginginkan zaman Orde Baru bangkit kembali. Slogan-slogan yang diciptakan para sastrawan yang pernah menjadi “anak emas”, mengandung unsur manipulasi yang membahayakan bagi peradaban kita, yakni suatu kerinduan terhadap sang tiran yang ingin memupuk semangat kedangkalan.

Salah satu novel Pramoedya Ananta Toer, “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” pernah menggambarkan suasana Rangkasbitung, tentang perpaduan alam yang hijau menguning, dengan hamparan bukit dan pegunungan yang indah bergelombang. Tetapi, rakyat yang hidup di sekitarnya tetap miskin dan menderita, lumpuh daya kerjanya, serta memiliki sikap rendah-diri yang berlebihan. Bangkitnya kesadaran masyarakat kemudian dibimbing oleh seorang kepala desa, Ranta, yang mengobarkan semangat persatuan dan rasa keadilan. Karena, selama di masa-masa akhir zaman kolonial – kemudian terulang kembali di masa Orde Baru – masyarakat sebenarnya menyadari posisi keberadaan dirinya yang masih dalam bayang-bayang Max Havelaar seperti tergambar dalam novel Multatuli.

Mereka bukannya tak punya harapan, tetapi secara sadar dibodohi dan dihisap, diperdayakan, dipaksa hidup dalam ketakutan dan ketegangan yang diagendakan oleh para komprador, yakni penjajah kesiangan yang ingin merebut kembali kursi kerajaan yang telah hilang. Melalui tokoh Ranta, Pramoedya membangkitkan secercah harapan dan rasa percaya diri di tengah masyarakat. Kepala desa itu mengobarkan semangat masyarakat agar keluar dari ketertindasan, kemiskinan dan penghisapan.

“Di mana pun aku selalu mendengar, bahwa yang benar pada akhirnya harus menang,” tegas Ranta.

“Baik aku percaya, tapi kapan yang benar itu akan menang?” tanya Rojali.

“Kebenaran tidak datang dengan sendirinya. Ia mesti diperjuangkan agar menjadi benar!”

Banyak yang luput dari pengamatan para sastrawan dan budayawan kita, bahwa Pramoedya Ananta Toer, bukan hanya seorang sastrawan produktif melainkan juga seorang periset yang tekun, peneliti dan dokumentator yang andal. Di samping akrab dijuluki penulis introvert, ia juga dikenal sebagai “penyendiri” yang berbahaya bagi para pelaku ketidakadilan dan kesewenangan. Ia menjelajahi genre sastra dari zaman ke zaman, pada tempat dan situasi di mana kemajuan teknologi belum sepesat hari ini.

Di samping Banten Selatan, ada enam daerah lain yang pernah menjadi latar dalam karya sastranya, yakni Blora, Bekasi, Jepara, Rembang, Surabaya dan Jakarta. Dari semua kota itu, Surabaya termasuk daerah yang sering dikunjunginya untuk melakukan riset dan penelitian bagi karya sastra yang kemudian ditulisnya dalam tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Melalui empat novel tersebut, Surabaya dikenal sebagai kota dengan aktor-aktor pergerakan nasional yang mendunia.

Dalam orasinya saat peluncuran buku “100 Tahun Bung Karno (Liber Amicorum)” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta  (2001), Pramoedya menegaskan bahwa kebenaran dan keadilan tidak akan jatuh gratis dari langit. “Sekali kita berhasil meraihnya, akan muncul kekuatan jahat dan lalim yang akan terus-menerus merongrong, merangsek, bahkan memanfaatkan kesewenangan dan ketidakadilan sebagai motor penggeraknya.”

Lalu, secara implisit Nirwan Dewanto menyatakan gugatannya, mengapa banyak seniman tua, yang pernah menjadi anak emas dewa kemenangan, terus-menerus memupuk rasa curiga dan kebencian pada Pramoedya? Bahkan, para seniman dan sastrawan milenial, tanpa adanya apresiasi dan dukungan dari mereka yang mengaku senior itu, apalagi yang hanya menulis setelah jam-jam kerja, diselimuti oleh ketidakyakinan apakah mereka orang berbakat, maka sentimen primordial lagi-lagi menyerambah menghantam mereka juga. Para penulis status quo yang berjiwa konservatif itu, akan sulit mufakat dengan adanya kekuatan yang cenderung menembus batas dan melawan arus.

Sebagaimana gugatan Nirwan dalam surat terbukanya. Mereka takkan membiarkan Anda keluar dari barisan yang sudah dianggap top dan suci oleh kelompok mereka. Dengan standar pemikiran dan sudut pandang mereka, yang dianggap cukup untuk menyenangkan para agen dan penerbitnya. Untuk itu, mereka takkan membiarkan Anda merasa senang dan bahagia dalam berkarya, kecuali Anda harus menuruti apa-apa yang menjadi target pasaran mereka.

Jika Anda coba-coba menciptakan arus kekuatan baru, sehebat apapun, Anda akan terbentur pada garis pembatas yang mereka ada-adakan selama ini, yakni garis antara penerimaan dan penolakan, apresiasi dan caci-maki, bahkan garis yang seakan dapat menentukan, apakah Anda akan sukses ataukah gagal.

Jika Anda punya keberanian, Anda harus segera membongkar segala dusta dan kepura-puraan mereka selama ini. Anda harus segera meruntuhkan tembok-tembok pembatas yang sakral itu. Tanpa harus menunggu sang waktu yang akan menyelesaikan batas-batas kepunahan, serta menenggelamkan mereka dari percaturan sejarah. (*)

Penulis adalah Pengamat dan peminat sastra milenial, menulis esai dan prosa di berbagai media cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.