Penulis kok Sibuk Berkomentar? 

oleh -1633 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

Sifat arif dan bijak dari seorang penulis, sangat identik dengan sikap diamnya ketimbang banyak bicaranya. Ia melahirkan banyak ide dan gagasan untuk dituliskan, seumumnya lahir dari banyak mendengar. Saat ini, ketika media sosial banyak memicu debat kusir tiada henti, banyak orang menjadi haus akan eksistensi diri melalui kata-kata bijak yang menyejukkan.

Ketika banyak orang merasa harus bersuara lantang agar terlihat pintar, maka dunia sastra harus tampil dan berbenah diri agar dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Suasana bising dan gaduh di media-media sosial, tak ubahnya dengan watak dan tabiat yang tercermin dalam penokohan novel Perasaan Orang Banten (POB). Mereka adalah orang-orang yang merasa nyaman untuk menjalani hidup sesuai dengan alam bawah sadarnya, tanpa memahami bahwa diam dan hening adalah pangkal dari kebijaksanaan.

Tokoh-tokoh seperti Bi Siti, Pak Majid, Bi Marfuah, Pak Salim atau Taufik Ibrahim, mereka tipikal orang yang tak sadar bahwa banyak bicara dan komentar adalah cermin dari pelarian ego dan keangkuhan masing-masing. Mereka hanya ingin didengar, ingin tampak unggul, namun semuanya lupa bahwa proses belajar justru dimulai dari pandai mendengar. Mendengar bukan hanya soal telinga, tetapi tentang menyerap, memahami, dan merenungi sebelum memberi respons dan komentar.

Untuk apa seorang penulis dan sastrawan banyak bicara. Sejatinya, mereka adalah tipikal orang bijak yang paling banyak menyimak dunia di sekitarnya. Mereka harus pandai menjadikan pendengaran sebagai bagian dari pengendalian diri dan kebijaksanaan. Tak ubahnya dengan pemimpin selaku pelayan masyarakat, baik di tingkat pusat maupun daerah, mereka harus lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, demi mengambil keputusan yang adil dan tepat.

Sungguh keliru jika ada sastrawan yang pernah jaya di masa Orde Baru menyatakan, bahwa mendengar adalah tindakan yang pasif dan berpangku tangan. Justru ia merupakan tindakan aktif yang mendatangkan pengertian dan pemahaman yang mendalam. Saat ini, di tengah dominasi penulisan esai dan prosa yang super cepat, komentar instan, dan respons spontan di dunia maya, nilai dan kualitas mendengar nyaris terlupakan. Budaya digital mendorong orang untuk menjadi vokal dan bercuap-cuap di mana-mana. Kebanyakan justru hanya menjadi pembicara instan, tanpa sempat memahami konteks dan perasaan orang lain.

Tetapi, sampai saat ini penokohan dalam novel POB tampaknya tetap valid dan relevan. Untuk itu, hendaknya para sastrawan dan penulis milenial menyadari bahwa aktivitas mendengar adalah ruang reflektif, aspiratif, hingga dapat memicu pemikiran pada perspektif baru untuk lebih memahami kondisi sosial, menerima kritik, dan memperkaya pikiran sebelum melontarkan argumen. Dalam konteks sosial maupun profesional, keterampilan mendengar kini menjadi salah satu aspek penting dalam kepemimpinan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan yang matang.

Untuk itu, perlu dicermati bagi para penulis milenial, bahwa di era digital yang diliputi distraksi dan viralitas ini, sesungguhnya mendengar adalah bagian dari literasi yang lebih melahirkan ilham yang mumpuni. Aktivitas berliterasi tidak harus dalam konteks menulis dan membaca saja, tetapi saat harus ditingkatkan pada literasi mendengar dan berbicara sesuai logika dan filsafat yang baik. Tidak asal ngelantur yang hanya lahir dari alam bawah sadar, yang hanya melahirkan satu ekstrim kemudian muncul antithesis kepada ekstrim baru lagi.

Sistem penokohan dalam novel POB mengenai sosok-sosok yang hidup dengan alam bawah sadar, dapat mengubah cara pandang banyak penulis milenial, serta memberi beberapa panduan mendalam untuk melatih seni mendengar sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Biarkan para tokoh berbicara ngalor-ngidul gak karuan, jangan terburu-buru menjawab, tetapi luangkan waktu untuk benar-benar memahami.

Banyak penulis di era Orde Baru melakukan aktivitas mendengar untuk menjawab. Padahal, seorang penulis yang bijak cukup mendengar saja untuk menyimak dan memahami. Ini adalah fondasi bagi sikap empati dan kebijaksanaan. Terimalah kenyataan, bahwa penulis sebagai individu, tidak banyak mengetahui segalanya. Hanya Tuhan-lah Yang Maha Tahu segalanya. Untuk itu, pandai mendengar juga merupakan sifat dari bentuk kerendahan hati untuk terus belajar dan menelusuri hakikat kebenaran.

Memang, sifat bijaksana seorang penulis akan terlihat dalam keheningan daripada dalam debat panjang bertele-tele. Penulis novel POB mengaku lebih banyak belajar dari orang-orang yang mangkal di gardu ronda, warung kopi, atau tukang pangkas rambut, untuk kemudian direnungkan dan dicatat menjadi bahan tulisan. Baginya, seorang penulis tak usah tergoda menunjukkan kecerdasan melalui banyaknya kata dan kalimat yang dihamburkan. Justru penulis bijak itu harus banyak memerhatikan, dan mendengar, agar dapat merangkai narasi maupun opini yang kuat dan valid. Di lembaga sastra, di dunia kerja, hubungan sosial, bahkan dalam perjalanan spiritual, mendengar seringkali membuka pintu bagi para penulis agar mencapai transformasi yang lebih mendalam. Sifat arif dan bijaksana akan lahir dari hasil observasi dan kesabaran, bukan dari adu argumen yang gak puguh dan gak karuan.

Sifat bijaksana bukanlah produk dari suara mayoritas, tetapi hasil dari kesediaan seorang penulis untuk memahami sesuatu secara mendalam, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikatnya dalam karya tulis. Jadi, sebelum ia berbicara, ia telah mahir belajar untuk mendengar. Karena dalam diam dan mendengarlah, seseorang dapat menemukan inti dari pengetahuan yang sejati.

Sifat bijaksana sangat identik dengan ketenangan hidup seorang penulis. Dan hidup tenang bukanlah bawaan dari lahir, tetapi ia adalah pilihan, hasil dari komitmen untuk menjaga batin agar tetap jernih.

Jadi, mungkin saja dunia tampak kacau dan semrawut, kabar berita bisa ngalor ngidul mencemaskan, hoaks-hoaks berseliweran dan membikin panik, tetapi sebagai penulis yang baik, Anda harus tetap istiqomah, duduk manis dan tenang, mengambil nafas panjang, kemudian menulis tentang mereka yang hidup dengan alam bawah sadar, yakni mereka yang terburu-buru dan tergopoh-gopoh mengejar ilusi dan fatamorgana, seperti tokoh-tokoh yang banyak ditampilkan dalam novel Perasaan Orang Banten. []

Penulis adalah Pengamat dan peneliti sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.