Pemimpin yang Berperilaku Islami

oleh -2239 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Manusia dengan kreasinya yang agung akan berupaya membangun dan merawat bumi dengan segala kecerdasannya. Namun, jika dilandasi oleh perilaku yang tidak amanah, serta tidak konsisten pada niat-niat baiknya, manusia akan terjerumus pada perilaku Firaunisme yang menjatuhkan derajatnya melebihi binatang buas.

Corak manusia pembangun yang memanfaatkan ketaatan dan akal sehatnya, ialah para nabi dan rasul, santo dan para kreator agung yang bekerja demi kemaslahatan umat. Demikian halnya dengan pemimpin yang berlaku adil dan tidak sewenang-wenang, ia akan lebih mengedepankan nurani dan akal sehatnya, ketimbang ambisi dan hawa nafsunya.

Jalaluddin Rumi pernah menyatakan, bahwa dalam diri manusia ada dua unsur yang paling dominan, yakni kemanusiaan dan kebinatangan. Kemanusiaan, dapat diartikan dengan dominasi ilmu, kearifan dan kebijaksanaan, hingga perjumpaannya dengan Tuhan (ma’rifat). Sedangkan, kebinatangan tak lain dari mementingkan kehendak hasrat, ego, dan nafsu hewani yang cenderung merusak ketimbang membangun peradaban. Sehingga, tak ada kemampuan untuk mengukur risiko. Hantam dan sikat dulu, urusan belakangan.

Dalam Alquran, seringkali disinggung peranan malaikat yang memfokuskan diri pada ketundukan dan ketaatan. Mereka hidup dengan semua esensi itu. Sebagaimana ikan yang hidup di dalam air, alas dan bantal mereka tak lain adalah air. Malaikat diciptakan tanpa kehendak (nafsu), sehingga tak heran jika ketaatan adalah esensi hidup mereka. Mereka tidak memiliki kuasa untuk berlaku tidak adil dan sewenang-wenang. Terkait dengan itu, penyair Rumi menandaskan, “Malaikat bersikap taat dan tunduk, bukan karena pertimbangan akal dan hati nuraninya, tetapi karena ketundukan itulah yang bisa dia lakukan. Ketaatan malaikat merupakan anugerah dan perintah Tuhan, karena itu tak bisa dikatakan sebagai ketaatan.”

Berbeda dengan binatang yang hanya memiliki nafsu. Mereka tidak memiliki pertimbangan akal, untuk mencegah kehendak hawa nafsunya. Mereka juga tak dibebani oleh tangguang jawab. Binatang bertolak-belakang dengan perilaku malaikat yang bebas dari hawa nafsu. Sedangkan, binatang selalu dikuasai oleh nafsu, dan berbuat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.

Di sisi lain, Rumi menyinggung secara eksplisit soal perilaku para penguasa, yang diibaratkan manusia yang memiliki karakteristik setengah ular dan setengah ikan. Hewan ikan menarik dirinya ke dalam lautan, sedangkan ular menarik dirinya ke daratan. Mereka selalu berada dalam pergulatan, apakah akan mengambil keputusan berdasarkan nurani dan akal sehatnya, ataukah hanya menuruti kehendak hawa nafsunya.

Sisi malaikat akan menarik mereka ke dalam kebaikan dan ketaatan, sedangkan sisi binatang akan menarik mereka ke dalam obsesi dan ketidakadilan. Dengan demikian, kreasi-kreasi kebaikan yang dihasilkan dari tangan-tangan pemimpin demi perbaikan dan kemaslahatan, akan mengantarkan mereka lebih mulia dari derajat para malaikat.

Tetapi, pengrusakan dan kehancuran yang seringkali dilahirkan dari tangan-tangan penguasa, dapat mengantarkan derajat mereka lebih rendah dan keji daripada binatang-binatang buas.

Untuk itu, dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM), pelanggaran terhadap satu hak asasi seorang manusia, sama nilainya dengan pelanggaran terhadap hak asasi semua manusia. Tidak selayaknya penguasa beserta aparaturnya berdalih dengan menyatakan bahwa “korbannya hanya satu orang”. Sedangkan, satu korban pelanggaran HAM sama artinya dengan ratusan, ribuan, maupun jutaan korban-korban umat manusia.

Di dalam Alquran dinyatakan, hak hidup satu orang sangat berharga di mata Tuhan. Karena setiap “ruh manusia” terkandung dan senyawa dengan “ruh Tuhan” yang ditiupkan ke dalam dirinya. Untuk itu, saya tegaskan dalam buku “Marwah Pesantren” (2024) tentang pentingnya menghormati dan menghargai keragaman. Sebab, setiap ruh manusia tanpa kecuali, kulit putih, hitam, cokelat, dan kulit-kulit lainnya, mereka adalah saudara-saudara dalam iman maupun kemanusiaan. Dalam setiap jiwa manusia terkandung jiwa Tuhan dengan segala karakteristiknya.

Wujud dan hakikat manusia bukan semata-mata fisik dan jasad, tetapi juga memiliki dimensi ilahiyah (ketuhanan). Jika diibaratkan botol yang berisi air, maka kemasan botol tersebut adalah wujud jasad manusia. Sedangkan air di dalamnya adalah hakikat jiwa. Apabila jiwanya kotor, maka perlu disucikan dulu (dihisab), hingga ia akan mudah kembali ke dalam kesucian ruh yang hakiki.

Demikian pula dalam kepercayaan Kristiani, Yesus pernah menegaskan, bahwa sepeninggal manusia, bukan semata-mata kematian jasad dan fisik, melainkan juga kepulangan ruh kepada Tuhannya. Tidak selayaknya penguasa meremehkan atau merendahkan kematian satu jiwa manusia. Sebab, kematian satu jiwa manusia, tanpa alasan yang benar, sama artinya dengan kematian jiwa-jiwa manusia seluruhnya.

Begitu pun sebaliknya, seorang pemimpin yang peka dan peduli, serta sanggup mengobati, menyantuni dan mendidik peradaban satu jiwa manusia Indonesia, itu sama artinya dengan mencerdaskan dan mendewasakan jiwa-jiwa manusia Indonesia seluruhnya. (*)

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.