Nilai-Nilai Pancasila Mulai Tenggelam di Tengah Derasnya Arus Media Sosial

oleh -96 Dilihat
Vector of Illustration of Indonesia Symbol Garuda
banner 468x60

Oleh: Prisantus Yordan Kuu

Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia dan menjadi landasan nilai bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lima sila Pancasila dirumuskan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kita tahu bersama bahwa, Pancasila mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: Dasar negara, sumber dari segala sumber hukum, ideologi, filsafat bangsa, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, ajaran moral, pemersatu pandangan hidup bangsa, dan tujuan perjuangan bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk mendapatkan Pancasila perlu pengorbanan, tetesan darah dan putaran waktu yang tidak memungkinkan. Melalui perjuangan para pendahulu kita, lahir bangsa Indonesia dengan banyak keberagaman namun mempunyai dasar yang satu yaitu Pancasila, yang mana sejarah kelahiran Pancasila melewati banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Mulai dari melawan para penjajah sampai dengan melawan bangsanya sendiri. Sehingga pada saat ini kita dapat menerima dan menikmati buah dari perjuangan para pendahulu kita yaitu Pancasila. Konteks kita saat ini, tanpa perjuangan yang panjang kita hanya menerapkan nilai Pancasila itu dalam kehidupan kita saja susah. Bagaimana dengan para pendahulu kita?

Tetapi di tengah derasnya arus media sosial banyak dari kita lupa untuk mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila. Pernah terlintas di benak kita, mungkin orang-orang mulai lupa arti dan makna nilai-nilai Pancasila, ternyata mereka tidak lupa. Akan tetapi dipengaruhi oleh individu yang menjadi individualis. Mereka memandang Pancasila hanya sebagai suatu hukum yang harus ditaati, jika orang memperoleh keuntungan dari Pancasila. Tetapi jika tidak maka mereka akan bersifat acuh tak acuh. Di tengah derasnya arus media sosial, setiap pribadi kita mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.

Sebagai bangsa Indonesia kita melihat Pancasila sebagai suatu pandangan hidup, yang memberi orientasi mengenai bagaimana manusia Indonesia itu berhubungan dengan Tuhan, sesama, bangsa, kehidupan politik, dan keadilan sosial. Pandangan hidup tidak hanya berbicara mengenai teori tetapi menyentuh pilihan dan tindakan sehari-hari. Setelah adanya perkembangan terlebih khusus dari media sosial kita mulai lupa bahwa, kita negara yang beragama. Ketika ditanya agamamu apa? Sudah pasti setiap kita berkata jangan berbicara mengenai agama dan kepercayaan saya karena itu privasi. Supaya kita tahu bersama bahwa, jika di NTT orang bertanya mengenai agama, berarti sikap toleransi dalam diri orang NTT masih berfungsi secara baik. Tidak membeda-bedakan Indonesia dengan negara lain, tetapi kita negara beragama buktinya saja sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Melalui Pancasila yang kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari, saya mengambil suatu pandangan bahwa kita itu negara bersilaturahmi yang artinya selalu ada damai dan cinta kasih berarti tidak ada perang. Karena berdasarkan ragam kebudayaan dan tradisi di setiap daerah pasti mempunyai ragam tarian. Tetapi dari sekian banyak pasti ada satu tarian daerah yang dibuat hanya untuk penerimaan orang baru. Selama ini kita semua tahu tentang tarian ini, tetapi kita lupa menggali makna yang sebenarnya di balik kegiatan kebudayaan itu. Ini yang sebenarnya dinamakan negara damai. Tetapi di tengah derasnya arus media sosial ini, seharusnya semakin bermakna nilai-nilai Pancasila yang harus kita rawat. Akan tetapi kita ikut ambil bagian hanya untuk merekam, memotret, mengunggah dan menunggu tanggapan dari pihak lain, apakah kita haus validasi dari orang lain? Sebenarnya baik, jika didukung dengan kesadaran kita tentang makna yang sebenarnya di balik tarian tersebut.

Sekarang yang kita lakukan hanya bagian dari hiburan semata. Penggunaan media sosial menjadi suatu kebutuhan pada dunia dewasa ini makan, tidur, jalan-jalan semua kegiatan diunggah di media sosial. Sehingga anak muda khususnya para pelajar saat ini mereka menjadi miskin beretika, hal-hal yang seharusnya kita lakukan tetapi kita tidak lakukan. Contohnya ketika lewat di depan orang baik itu tua, muda, anak-anak kita tidak menyebutkan kata permisi atau menerima sesuatu dari orang lain kita harus katakan terima kasih banyak tetapi kata-kata sederhana yang bermakna ini telah kita tinggalkan sebagai kenangan masa lalu akan tetapi di tengah derasnya arus media sosial banyak dari kita lupa untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui cara berterima kasih, permisi dan sapa, kita mulai mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

Saya menolak penggunaan hanya untuk memberi berita hoaks, perundungan (bullying), atau merendahkan martabat orang lain sehingga membuat orang lain mengalami gangguan mental, atau membuat orang lain menjadi masa bodoh sehingga nilai Pancasila tidak diterapkan dalam keseharian hidupnya karena dia merasa bahwa dirinya tidak diterima di tempat dia tinggal. Saya lebih menerima jika orang muda terlibat aktif dalam media sosial, dengan unggahan-unggahan mengajak orang lain untuk berpartisipasi dalam gotong royong pembersihan pasar atau ikut berpartisipasi dalam pembangunan tempat-tempat ibadah. Melalui cara-cara ini kita berusaha untuk menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

Pada akhirnya saya mengajak kita semua untuk pandai-pandai menggunakan media sosial dengan tetap memperhatikan nilai-nilai Pancasila. Pancasila menjadi kurang bermakna jika berhenti hanya pada hafalan semata. Kita semua perlu menghubungkan setiap sila dengan pengalaman konkret, ketika kita menghormati orang lain kita sedang menghidupi nilai kemanusiaan, ketika menyelesaikan perbedaan melalui dialog kita mengembangkan semangat musyawarah, ketika bekerja demi kepentingan umum kita menghidupi nilai solidaritas. Tantangan terbesar Pancasila adalah, mengubah pengetahuan menjadi karakter dan tindakan. Pancasila menjadi hidup ketika nilai-nilai hadir dalam cara berpikir, berbicara, mengambil keputusan, bekerja sama, melayani dan memperlakukan sesama. Sehingga pada akhirnya nilai Pancasila tidak pernah tenggelam melainkan mengalir ke seluruh bagian kehidupan masyarakat Indonesia.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.