Menyingkap Kebatinan Orang Banten

oleh -1352 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Menarik sekali menanggapi perbincangan tentang buku terbaru K.H. Bazari Syam (Ketua MUI Banten) bertajuk “Jihad Pendidikan: Psiko Religiusitas Abah Thowil”. Ketika menyebut nama “Abah Thowil” selaku guru dan sanad Kiai Bazari, ada kesan mistis dan spiritual yang menyibak halaman-halaman pertama buku tersebut. Sehingga, tak urung saya harus segera menyelesaikannya serta mengkajinya secara seksama.

Kiai Bazari menekankan pentingnya tirakat dan riyadlah untuk mempertajam pengalaman batin seseorang. Tak beda jauh dengan kemampuan mengelola energi kosmik, yang dalam sains konvensional nampaknya sulit diuraikan dengan kata-kata. Namun demikian, tegas Kiai Bazari, “Allah menganugerahkan kelebihan khusus (ma’unah) kepada orang-orang yang memiliki kemampuan psikis yang luar biasa. Di antara kemampuan psikis itu, pernah dialami Abah Thowil, semacam kemampuan berkomunikasi dengan entitas dari dimensi lain (alam arwah), kemampuan telepati, hingga kemahiran menyembuhkan penyakit.”

Bagi Kiai Bazari, apa yang dilakukan oleh para kekasih Allah dengan ma’unahnya, adalah suatu proses menghubungkan antara sesuatu yang nyata dan yang gaib, fisik dan spiritual, atau dimensi yang kasatmata dan yang tak kasatmata. “Aya jelma nu kadele, tapi aya jelma nu nte kadele,” demikian Abah Thowil membahasakan dalam istilah Sunda. 

Kiai Bazari menguraikan secara mendetil kemampuan mistis dari leluhur sekaligus gurunya, bahwa Abah Thowil seakan memiliki kesanggupan untuk menjelajahi kompleksitas dunia material, hingga mampu menjawab rahasia dari realitas yang tak terikat oleh ruang dan waktu. “Jika fenomena itu dijalani oleh orang awam, memasuki hutan belantara lalu melakukan babad alas untuk mendirikan pesantren, serta dikelilingi oleh makhluk-makhluk halus, entah apa yang akan terjadi. Namun, ketika yang melakukan itu telah sanggup menjelajahi dunia astral, karena telah melakukan pelatihan spiritual yang panjang (riyadlah), maka jendela untuk saling mengenal dan memahami semakin terbuka lebar,” demikian jelas Kiai Bazari.

Selaku ketua MUI Banten, Kiai Bazari pernah menceritakan perjumpaannya dengan Abuya Muhtadi bin Dimyathi di Cidahu, Pandeglang. Beliau menanyakan dengan baik-baik perihal kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu, khususnya ketika Abuya tersengat listrik bertegangan tinggi. Jika saja hal tersebut dialami orang biasa, barangkali seluruh organ hingga kulit tubuhnya sudah gosong dan melepuh. Namun kemudian, tanya saya: “Abah, saya ingin tahu, bacaan wirid dan ajian macam apa yang membuat Abah bisa bertahan dan tetap segar-bugar setelah peristiwa sengatan listrik itu. Apa rahasianya, Abah?”

Pertanyaan yang saya ajukan serius itu, justru ditepisnya: “Wirid apaan? Udah, yang penting kita ta’dzim dan hormat sama orang-orang tua kita. Insya Allah, kita bisa selamat dan berumur panjang.” Dan saya pun tersenyum dengan tatapan berkaca-kaca.

Terkait dengan itu, memang ada berbagai macam karomah yang dimiliki orang-orang khusus, dan seringkali disandang oleh seorang indigo atau yang memiliki mata batin. Salah satunya adalah “Psikometri”, yakni seseorang yang dapat dinisbatkan sebagai arkeolog spiritual. Orang seperti itu memiliki kepekaan yang tinggi, hingga mampu membaca dan menyelidiki suatu kasus kriminal yang sedang ditangani oleh pihak kepolisian, namun sulit ditelaah secara ilmiah.

Kiai Bazari lantas menyebutkan, bahwa di lingkungan kepolisian Amerika (seperti FBI atau CIA), mereka memiliki tokoh-tokoh Psikometri yang cukup andal, seperti Elison Dubos atau Sally Heading, yang telah sanggup memecahkan ratusan kasus kepolisian, yang sulit dipahami dengan akal sehat. Mereka seakan mampu membuka portal waktu, menjelajah masa lalu, hingga mengintip masa depan, seperti yang tergambar dalam film “Star Wars”. Ketika seorang Psikometri menyentuh suatu benda tertentu, maka dia akan dapat menebak siapa pemilik sebenarnya dari benda tersebut.

Bagi Kiai Bazari, hal tersebut serupa dengan penerawangan atau “intelijen kasyaf”, bahwa ketika seorang Psikometri mampu menerawang suatu tindak kriminal berdasarkan penyelidikan kasyaf, maka pihak penyelidik lain yang berpikir empiris akan sanggup membuktikannya secara realistis.

Karomah Abah Thowil

“Apa yang dialami Abah Thowil”, tulis Kiai Bazari dalam bukunya, “selaku tokoh dan pelayan masyarakat, biasanya dikenal dengan istilah Waskita atau Kewalian. Hal ini tak beda jauh dengan istilah clear audience yang mampu mendengar suara-suara gaib berupa pesan moral, bahkan mampu melihat gambar visual dalam pikirannya. Kemampuan ini lebih dipakai untuk melayani umat, bahkan memecahkan berbagai persoalan masyarakat, serta berupaya untuk mencarikan solusinya.”

Banyak karomah para sesepuh Banten yang memiliki kemampuan “telepati”, yang membuat seseorang mampu berkomunikasi dalam jarak jauh, tanpa kata-kata terucap, bahkan tanpa adanya gerakan tubuh. Hal ini berbeda dengan apa yang ditulis Henry Hold (psikolog Amerika) yang lebih menyerupai tokoh-tokoh yang punya kemampuan Psikokinetik. “Orang semacam ini, tegas Kiai Bazari, “biasanya punya kemampuan memanipulasi materi, menggerakkan benda dari jarak jauh, menutup pintu atau membuat lampu berkedip.”

Terkait dengan itu, selaku ketua MUI Banten, Kiai Bazari senantiasa memberikan solusi terbaik bagi kemaslahatan umat, bahwa kemampuan Psikokinetik membutuhkan kedewasaan dan kematangan jiwa hingga seseorang layak menyandang ilmu kebatinan semacam itu. Sebab, jika salah dalam penggunaannya, Psikokinetik akan berimbas pada upaya-upaya balas-dendam (istidraj) dari pihak-pihak yang merasa tersakiti di masa lalu, kemudian menggunakan cara-cara yang kotor untuk menyalurkan energi yang negatif.

Pesan Kiai Bazari

Kiai Bazari menekankan pentingnya kehati-hatian bagi masyarakat Banten, khususnya kaum muda milenial yang terlampau gagap dan genit dalam mencari sesuatu, berdasarkan hasrat dan hawa nafsu yang tak terkendali. “Pada prinsipnya,” tegas Kiai Bazari, “kita harus mengacu pada teks-teks suci Al-Quran, bahwa kebaikan yang kita lakukan pasti akan dipetik hikmahnya di kemudian hari. Namun, jika keburukan yang dilakukan, dapat dipastikan dampaknya akan kembali kepada pelakunya sendiri.”

Oleh karena itu, kesabaran, kecakapan ilmu dan kekuatan iman, harus senantiasa dipupuk dalam jiwa kita. Sebab, lanjut Kiai Bazari, kemampuan Psikokinetik, atau jenis ilmu kebatinan apapun yang dianugerahkan Allah, jika manusia memaksakan diri untuk memilikinya, sebelum matang kedewasaannya, tak ubahnya bunga-bunga yang dipaksakan mekar sebelum waktunya. Ia akan dipaksakan dewasa secara prematur. Ia akan membawa pelakunya pada nafsu al-ammarah, hingga pada akhirnya Allah akan mengambilnya kembali, merasa kesepian, gelisah, bahkan terjebak dalam kegersangan batin.

“Karena itu,” tegas panglima MUI Banten tersebut, “dibutuhkan tirakat dan doa-doa secara intensif, serta bimbingan seorang guru yang mumpuni (mursyid), agar ketulusan dan keikhlasan terpelihara. Juga agar kegelisahan energi dapat teratasi. Dengan demikian, energi spiritual akan memancar sebagai cahaya, serta tidak terjebak dalam kegelapan dan kegersangan batin.” (*)

Penulis adalah Alumnus UNTIRTA Banten, pegiat Gerakan Membangun Nurani Bangsa, menulis opini dan prosa di berbagai media nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.