Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin
Banyak orang yang tertipu oleh ilusi kekuatan dengan memanfaatkan ego dan kemarahan. Padahal, emosi seharusnya berfungsi sebagai sinyal, dan bukan sebagai pengemudi yang berdampak pada konsekuensi yang merugikan bagi dirinya maupun pihak lain.
Dengan kemarahan, seringkali orang sibuk berpikir untuk menyerang, demikian pula dengan kesedihan yang membuat orang merasa terluka dan berhenti berusaha.
Ketika seseorang bertindak semata-mata berdasarkan emosi dan hawa nafsu, ia akan kehilangan kejernihan dalam berpikir. Inilah reaksi impulsif yang menyebabkan kerapuhan psikologis, meskipun seringkali orang “menyamar” dan menggunakannya sebagai kejantanan dan keberanian.
Padahal sejatinya, tak mungkin emosi negatif menguasai hidup manusia, jika ia sanggup menguasai kesadaran dan pikiran rasionalnya.
Saat ini, kita hidup di tengah kebisingan dan kegaduhan, tetapi jika kita sanggup mengendalikan diri dengan karakter yang kuat dan tenang, maka pikiran kita akan terjaga dan terkontrol dengan baik. Tak usah terfokus pada komentar-komentar pedas di media sosial yang menyebabkan krisis identitas di mana-mana.
Memang, kecenderungan bereaksi secara emosional adalah tantangan besar bagi manusia hiper modern. Namun, dengan kesadaran dan latihan mental yang konsisten, siapa pun bisa membentuk respons yang bijak.
Ada jeda waktu dalam Islam yang disebut “tuma’ninah” atau “wukuf” untuk senantiasa mengingat kebesaran Allah Yang Mencipta dan Menggenggam jagat mikro dan makrokosmos ini. Dalam jeda ini terdapat ruang bagi logika berpikir, agar segala tindakan tidak dikendalikan oleh emosi dan hawa nafsu belaka.
Berdoa dan bermeditasi adalah sarana mengembangkan kesadaran diri untuk mencapai kejernihan berpikir. Untuk itu, ada waktunya menghindari stimulus negatif, seperti membaca medsos berlebihan, berita provokatif, serta menjauhkan diri dari lingkungan yang toksik.
Ketika seseorang tidak membiarkan emosi menguasai tindakan, niscaya reputasi akan lebih kuat, dan kesehatan mental akan stabil. Hasilnya akan tercermin dalam hubungan yang lebih sehat dan keputusan yang lebih tepat, hingga kehidupan akan membahagiakan.
Di dalam Al-Quran dinyatakan, bahwa kepemimpinan sejati kelak akan dipegang oleh figur manusia beriman, pemaaf, dan damai dengan dirinya sendiri. Ia akan senantiasa tenang saat semua orang panik dan dilanda ketakutan.
Bukan berarti figur pemimpin yang tak memiliki emosi, tetapi karena ia telah belajar untuk tidak diperbudak oleh emosi dan hawa nafsu. Ia sanggup menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran, dan tidak goyah untuk terbawa arus perasaan sesaat.
Dalam hal ini, seringkali Gus Dur melampiaskan rasa kesalnya dengan membuat lelucon dan guyonan mengenai hidup orang-orang tak waras. Baginya, guyonan adalah obat yang membuat ego dan amarah ternetralisir, sehingga menusia tetap berpijak pada kejernihan berpikirnya.
Bahkan, adakalanya Gus Dur mencoba menertawakan dirinya, budayanya, bukan semata-mata untuk meledek dan menertawakan, tetapi sekaligus sebagai penbandingan antropologis betapa unik dan kompleksnya peradaban manusia di permukaan bumi ini. (*)
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten









