Mengapa Kita Butuh Ruang?

oleh -192 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph L. Kaku Wally

Ada satu momen yang membekas di kepala saya ketika mengikuti ujian mata kuliah Pentateukh beberapa waktu lalu. Begitu kami masuk kelas dan bersiap-siap menerima lembar soal, dosen pengampu tiba-tiba meminta kami untuk menggeser kursi dan duduk saling berjarak. Kalimat yang meluncur dari mulutnya pagi itu terdengar tidak biasa: “posisi duduk yang terlalu berdekatan berpotensi memunculkan kejahatan”. Tidak lupa pula beliau menimpali, bahwa kehidupan yang terlalu berhimpitan bisa menghilangkan kemampuan akal budi manusia.

Awalnya, kami satu kelas mengira itu cuma bahasa halus dari “Awas, jangan ada yang menyontek!” Namun setelah lembar jawaban dikumpulkan dan berjalan pulang, kalimat itu terasa seperti menyeret saya pada suatu titik refleksi yang dalam. Ruang kelas ujian hari itu adalah miniatur dari dunia kita sekarang. Kita sedang hidup di sebuah planet yang semakin sesak, di mana ruang gerak manusia semakin menyempit, dan kita dipaksa untuk hidup saling berdesakan setiap hari.

Berkaca dari kitab Kejadian pasal 13, persoalan ruang yang bikin pusing ini sebenarnya adalah suatu cerita lama. Dikisahkan bahwa Abraham dan Lot baru saja kembali dari Mesir. Keduanya sama-sama sukses, punya banyak harta, hamba, dan hewan ternak. Masalah lalu muncul ketika keduanya memutuskan untuk menetap di area yang sama, yakni di sekitar Betel. Ruang geografis di sana ternyata terlalu sempit untuk menampung aktivitas ekonomi kedua kelompok besar ini.

Kitab suci dengan sangat jujur mencatat bahwa negeri itu tidak cukup luas untuk mereka tinggali bersama. Akibatnya, perselisihan dan pertengkaran menjadi tidak terhindarkan. Para gembala upahan Abraham dan para gembala milik Lot mulai sering adu mulut dan berselisih paham hanya karena urusan wilayah. Ketiadaan ruang yang memadai langsung memicu insting kompetisi demi mengamankan kebutuhan masing-masing.

Untung saja Abraham cepat menyadari, bahwa kedekatan fisik yang dipaksakan ini mulai merusak kedamaian hubungan mereka. Dia pun mengambil keputusan bijak untuk mengajak Lot berpisah jalan dan berbagi wilayah secara adil. Abraham tahu betul bahwa agar kasih dan akal sehat bisa tetap berjalan, manusia membutuhkan jarak personal yang sehat.

Cerita tentang perselisihan gembala ribuan tahun lalu itu sekarang menjadi nyata di depan mata kita melalui padatnya kota-kota besar. Kita amati saja kehidupan di berbagai kawasan pemukiman padat perkotaan yang menjamur di sekeliling kita. Di wilayah-wilayah super padat, rumah-rumah berukuran mini berdiri saling berbagi tembok, jalanan sempit, dan yang tak kalah penting yaitu udara segar menjadi mahal untuk didapatkan. Konsep privasi menjadi sebuah kemewahan yang hampir mustahil didapatkan oleh masyarakat urban yang terjebak di dalamnya.

Hidup di lingkungan yang super padat seolah tanpa sekat ini perlahan-lahan mengubah cara kerja psikologis manusia. Bayangkan saja, setiap hari telinga kita harus mendengar bising tetangga, mata disuguhi pemandangan yang semrawut, dan tubuh harus terus bersentuhan dengan orang asing di ruang publik. Otak kita mengalami kondisi beban pikiran yang berlebihan, karena terus-menerus menerima stimulus dari luar tanpa jeda, energi mental kita menjadi habis terkuras. Dampaknya, kemampuan kita untuk bersabar, berempati, dan berpikir jernih menggunakan akal budi menjadi sangat lemah.

Alamiahnya, manusia memiliki garis pembatas imajiner di sekitar tubuhnya yang disebut ruang personal. Jarak ini diperlukan sebagai benteng pertahanan kenyamanan emosional kita. Di saat arsitektur kota dan lingkungan hidup modern memaksa benteng ini runtuh, maka terjadilah dehumanisasi ruang. Kita perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia yang utuh, dan hanya memandang mereka sebagai gangguan visual, penghambat jalan, hingga saingan yang mempersempit ruang gerak kita. Sungguh hal ini menjadi ironi, yakni ketika semakin dekat jarak fisik tubuh, justru bisa semakin jauh jarak batin dan rasa kepedulian di antara kita.

Refleksi dari ruang ujian, kisah bijak Abraham, hingga sesaknya ruang hidup menyadarkan kita bahwa tata ruang sebuah lingkungan berkaitan erat dengan kesehatan moral manusia di dalamnya. Kita sekarang ini butuh ruang kosong untuk menarik napas dalam-dalam, menenangkan pikiran, dan memulihkan kembali fungsi akal budi kita. Munculnya taman kota yang luas, trotoar yang lebar, serta hunian yang manusiawi menjadi bukti nyata dari kebutuhan dasar saat ini, agar kita tetap bisa merawat sifat-sifat kemanusiaan dan kewarasan kita.

Sama seperti halaman buku yang selalu menyisakan ruang kosong di pinggirannya agar tulisan di dalamnya nyaman dibaca, hidup kita pun memerlukan jarak dan ruang kosong. Memberi jarak fisik yang sehat dalam lingkungan tempat tinggal bukanlah tanda bahwa kita ingin mengisolasi diri atau memutus tali persaudaraan. Sebaliknya, ruang dan jarak yang cukup adalah cara paling manusiawi yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar akal budi kita tetap waras, hati kita tetap peka, dan hubungan sosial kita tetap berjalan dengan penuh kedamaian.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.