Menagih Kebenaran, Menggugat Hoaks di Tengah Konflik Timur Tengah

oleh -195 Dilihat
Unggahan Tehran Time yang menunjukkan dampak serangan balasan Iran ke pangkalan AS di Qatar. Foto ini hasil AI dari foto satelit kota di Bahrain. (Kompas)
banner 468x60

Oleh: Frumentius Talo Mali

Konflik Timur Tengah makin memanas. Di tegah gempuran meriam dan sirene yang terus berdentum, ada medan tempur yang lebih memanas dan mematikan yaitu layar ponsel kita. Di sana tidak lagi adanya kebenaran yang ditegakkan melainkan komoditas yang diimitasi oleh algoritma hoaks yang terstruktur tidak lagi dapat dibendung. Informasi yang diyakini kini menjadi suatu narasi yang penuh dengan imitasi algoritma. Hoaks menyebar tanpa henti, sementara perang Timur Tengah makin memanas.

Begitu banyak pemilik akun media sosial yang yang mengunggah dentuman perang Timur Tengah. Dalam situasi seperti ini kebenaran perlu dipertanyakan di balik algoritma dan integritas dipertanyakan pada setiap orang. Jika Socrates hadir di tengah situasi saat ini ia bukan menawarkan jawaban melainkan mempertanyakan kepada kita. Apakah kita memiliki keberanian untuk menggugat narasi yang memanjakan kita?. Menagih kebenaran di tengah algoritma hoaks adalah sebuah perlawanan intelektual penipuan yang dipersenjatai oleh teknologi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Perang narasi di era digital

Perkembangan teknologi digital saat ini sudah mencapai tingkat perkembangan yang lebih mutakhir. Paradigma dunia digital dengan sistem cyber menuntut manusia untuk berkomunikasi secara lebih modern. Pergeseran bentuk komunikasi pun semakin masif di mana adanya pergeseran bentuk komunikasi dari korporal menuju in korporal membuat pengguna media sosial semakin meningkat. Pengguna media sosial bukan lagi sekedar di kalangan orang dewasa melainkan anak-anak dan orang tua.

Martin Guri mengatakan bahwa bagaimana internet telah merombak dinamika otoritas dan kepercayaan. Di era digitalisasi, semua orang dapat menyuarakan pendapat dan bahkan menantang keputusan-keputusan otoritatif yang selama ini mendominasi ruang publik. Hal ini membawa tantangan besar bagi demokrasi dan stabilitas karena menurunnya kepercayaan terhadap institusi nasional, tampa disadari bahwa teknologi digital berbasis internet mengubah secara fundamental cara orang dalam berkomunikasi. Lanskap digital ini tidak hanya membuka jalan bagi praktik bisnis dan ekonomi, tetapi juga membawa implikasi pada bidang sosial dan politik. Kehadiran teknologi berbasis internet diyakini telah membuka jalan bagi demokrasi informasi maupun berbagai massa praktik bermasyarakat di ruang digital, sehingga khalayak masyarakat memiliki cara baru untuk mengekspresikan kepentingannya masing-masing sehingga individu-individu menjadi cenderung lebih bebas berpendapat dan dapat menentukan sendiri ketika mengartikulasikan sesuatu permasalahan.

Kondisi semacam ini memicu adanya suatu penyebaran berita hoaks di mana seseorang mengartikulasikan pendapatnya masing-masing tanpa memverifikasi informasi suatu peristiwa. Bagaimana kita bisa memilah antara fakta dan fiksi di tengah badai informasi ini? Bagaimana menjaga integritas pengetahuan ketika setiap orang merasa berhak atas opininya sendiri?

Hoaks sebagai senjata modern

Dalam beberapa bulan terakhir ini publik dunia disungguhi berbagai analisis tentang serangan militer Iran versus Israel-Amerika Serikat dan analisis dinamika perekonomian internasional. Tiap hari media sosial dimunculkan prediksi, penjelasan mengenai arah konflik dunia dan dampaknya terhadap situasi politik keamanan dan perekonomian dunia. Tetapi apakah semua yang memberi analisis serta kepastian di media massa itu benar-benar berdasarkan fakta dan data, atau sebaliknya hanya sebuah rangkaian dan tafsiran atau sebuah rangkaian opini dari individu?

Sejak konflik Timur Tengah Iran versus Israel-Amerika Serikat, penelusuran di berbagai media massa menunjukkan narasi yang terus mengulas situasi konflik internasional secara serentak yang berlangsung di media televisi, siniar (podcast), dan media sosial. Namun beberapa figur media massa mengulas narasi yang tidak seragam bahkan cenderung mengarah kepada berita palsu atau yang lebih dikenal degan berita “hoaks” yang dipenuhi degan figur-figur yang mengaku dan mengklaim diri sebagai pakar analisis, sebagai ahli geostrategi atau geoekonomi oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab. Beberapa contoh berita hoaks yang disebarkan melalau beberapa akun media sosial yang mempublikasikan secara publik sebagai berikut: “KOMPAS.com – Sebuah foto menampilkan empat pesawat hangus terbakar, yang diklaim sebagai pesawat KC-135 milik Amerika Serikat (AS). Pengguna media sosial menyebutkan, pesawat itu hancur akibat serangan Iran. Berdasarkan hasil pelacakan Tim Cek Fakta Kompas.com, foto tersebut konten manipulatif.” KOMPAS.com – Di media sosial beredar video yang diklaim memperlihatkan pasukan jet tempur Israel menghancurkan kapal-kapal perang Iran di Selat Hormuz. Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video itu hoaks dan dibuat dengan artificial intelligence (AI). Narasi yang beredar video pasukan jet tempur Israel menghancurkan kapal perang Iran di Selat Hormuz dibagikan oleh akun Facebook ini pada Rabu (18/3/2026).

KOMPAS.com – Di jagat maya beredar foto yang diklaim menampilkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meletakkan karangan bunga di atas peti jenazah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Unggahan itu muncul di tengah kabar simpang siur terkait kematian Netanyahu. Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto itu merupakan hasil rekayasa berbasis AI. Narasi yang beredar foto yang diklaim menampilkan Donald Trump meletakkan karangan bunga di atas peti jenazah Netanyahu dibagikan akun Facebook

Penelusuran Kompas.com Tim Cek Fakta Kompas.com memeriksa keaslian foto itu menggunakan Hive Moderation. Tool tersebut dapat mendeteksi seberapa besar probabilitas sebuah gambar dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau AI. Setelah dicek, diketahui bahwa foto Trump meletakkan karangan bunga di atas peti jenazah Netanyahu merupakan AI generatif, probabilitasnya mencapai 99,9 persen. (Kompas.com)

Tak banyak yang megetahui bahwa video-video tersebut adalah hasil rekayasa AI sebab video tersebut nampak nyata. Dalam kondisi seperti ini kritikan thinking untuk melakukan verifikasi informasi menjadi kurang terkondisikan, selain memang tidak melakukan cek fakta terhadap video yag direkayasa melalaui AI secara kasat mata dan dalam kondisi seperti ini di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Ironisnya fenomena yang harus sebagai sumber informasi ternyata sebuah penyamaran. Bahayanya media massa memberi panggung opini yang siap di konsumsi publik.

Cass R. Sunstein, dalam bukunya On Rumors: How Falsehoods Spread, Why We Believe Them, What Can Be Done (2009), menyentuh akar dari fenomena disinformasi ini: daya pikatnya terletak pada kemampuannya membangkitkan emosi kita, khususnya rasa takut dan harapan. Disinformasi memikat karena sering kali mengukuhkan identitas dan narasi yang telah kita bangun tentang diri kita dan dunia sekitar. Bahkan ketika kebohongan terbentang di depan mata, kita mungkin tetap menari dalam irama narasi itu selama ia sesuai dengan kisah pribadi yang telah kita yakini. Tantangan kita saat ini bukan sekadar memilah informasi yang benar dari yang salah, melainkan membangun kapasitas berpikir kritis di tengah banjir informasi.

Demokratisasi informasi adalah berkah, tetapi tetap perlu diimbangi dengan otoritas ahli agar pengetahuan tetap terjaga integritasnya.
McIntyre (2018: 93) mengatakan, kehadiran media sosial menjadi penanda kaburnya batas antara yang disebut berita berdasarkan fakta dan opini pribadi. Setiap orang dapat berkomentar dan mengunggah informasi yang disukai dan diyakininya. informasi faktual dan informasi yang berbasis keyakinan dan opini pribadi menjadi sulit sekali dibedakan. Setiap orang bisa menciptakan informasi dan membaginya secara online. Mereka merasa menemukan kebenaran personal yang disukainya meskipun tidak berbasis fakta melalui ruang-ruang media sosial.

Di era Post-truth, jurnalisme yang tidak bertanggung jawab dan narasi yang mudah menyebar di media sosial dapat memperkuat bias, memperkeruh perdebatan publik, bahkan membentuk opini berdasarkan viralitas, bukan validitas. Ini menjadi tantangan besar bagi integritas pengetahuan, karena informasi yang tidak akurat atau manipulatif lebih mudah menyebar dan memengaruhi banyak orang sebelum bisa diverifikasi. Arus informasi yang deras ini telah menciptakan jaring pengendalian yang kuat. Alih-alih manusia mengendalikan informasi, kini arus informasi yang mengendalikan manusia. Kita dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan kendali atas persepsi dan opini kita sendiri di tengah banjir informasi digital.

Menagih kebenaran dalam literasi digital

Menghadapi fenomena seperti ini kita perlu membekali diri degan literasi digital. Serta peran pemerintah dalam mengambil langkah proaktif dalam mengulas lanskap digital menciptakan kebijakan, yang mendorong transparansi serta regulasi terhadap penyebaran disinformasi untuk melindungi integritas pengetahuhan dan mengurangi dampak negatif dari disinformasi. Selain itu, peran pendidikan sangat penting.

Di era informasi saat ini dunia akses terhadap data dan berita sangat mudah. Literasi digital sangat komprehensif bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis dalam menggunakan perangkat digital tatapi juga mencakup pemahaman kritis. Literasi digital yang sangat kuat tidak hanya mampu menggunakan teknologi tetapi ketika seseorang memiliki pemahaman yang kuat tentang cara menggunakan teknologi dan sumber daya online individu dengan sendirinya dapat menghindari informasi yang salah atau menyesatkan atau yang lebih dikenal dengan hoaks.

Menagih kebenaran adalah kunci utama untuk menghadapi tantangan di balik layar kecerdasan buatan atau AI menggali kebenaran berarti membagun kebijakan dan menyeimbangkan teknologi dan kapasitas manusia untuk berpikir kritis dan selektif. Di era yang kursial ini kita harus berani mengambil kendali atas apa yang kita asumsi dan terus bersikap skeptisisme yang sehat bukan menolak kemajuan tatapi mengarahkan kemajuan ini ke arah yang bermanfaat.

Di tengah situasi konflik geopolitik yang penuh degan ketegangan ini apakah kita berdiri sebagai seorang yang menagih kebenaran dan menggugat hoaks di balik layar platform atau sebaliknya kita adalah pelaku dibalik layar untuk menggugat kebanaran di tegah ketegangan dunia? Pada akhirya mengaih kebenaran adalah tanggung jawab kita semua untuk menantang hoaks yang menggugat kebenaran.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.